Only Love

Only Love
#54



“Sky, apa data-data itu perlu kita keluarkan?” tanya Sean.


“Jangan! Gue membatalkan pertunangan ini karena memang gue nggak pernah menginginkannya, bukan karena apa yang telah ia perbuat.”


“Tapi Sky, rencana lo ini pasti bakalan ngejatuhin reputasi lo sendiri, bahkan berimbas pada reputasi perusahaan,” ujar Sean dengan gelisah.


“Gue nggak terlalu peduli dengan masalah itu. Gue lebih memilih reputasi gue yang jatuh daripada harus hidup dalam siksaan. Udah cukup gue ngalamin semua hal yang menyakitkan dan gue nggak mau itu berlanjut seumur hidup dengan menikah dengan wanita yang tidak gue cintai,” ujar Sky.


“Tapi … gimana nanti keadaan Grandpa?” tanya Sean.


“Gue akan bicarakan semuanya dengan Grandpa. Gue tahu dengan pasti kalau Grandpa sayang sama gue dan nggak mungkin mau ngeliat hidup gue tersiksa. Gue akan bipang apa adanya, sejujur-jujurnya.”


“Ok kalau begitu. Konferensi pers udah siap dannakan dimulai sekitar 15 menit lagi. Jadi lo siap-siap ya,” kata Sean sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Sky pun menganggukkan kepalanya.


Sky mengumpulkan segenap kekuatan dan keberaniannya. Setelah semua ini selesai, ia akan segera mencari Ivy, kekasih hatinya, di manapun ia berada.


**


Sky memasuki sebuah ruangan yang telah dipenuhi dengan wartawan, reporter, maupun para penggiat media. Ruangan yang memiliki banyak meja dan kursi itu kini telah penuh dengan orang-orang yang sibuk dengan laptop, kamera, ponsel, dan alat komunikasi lainnya yang bisa mereka gunakan untuk menyebarkan berita.


“Selamat siang, saya Sky Arnold Robert, selaku CEO dari RB Coorp, dengan ini menyatakan bahwa tidak akan ada pernikahan antara saya dengan Elena Brandon. Saya membatalkan pertunangan saya dengannya. Sekian, terima kasih,” Sky mengucapkan pernyataan tersebut dengan sangat tegas dan lugas.


Tak mengijinkan adanya acara tanya jawab, Sky pun segera meninggalkan ruangan tersebut diiringi oleh Sean.


Para pencari berita berusaha untuk mengejar Sky, namun terhalang oleh para pengawal Sky yang menggunakan jas berwarna hitam dengan alat komunikasi di telinga mereka masing-masing. Para pengawal itu telah disiapkan oleh Sean untuk melindungi Sky dari serbuan pertanyaan dengan keputusannya secara sepihak.


Sampai di ruang kerjanya, Sky menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya. Setelah konferensi pers, ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Kini, hatinya lebih tenang karena sudah mengeluarkan kegelisahan yang ada dalam hatinya.


Namun, masih banyak masalah yang ada di hadapannya. Ia harus segera menyelesaikannya satu-persatu. Ia memijat pangkal hidungnya dan memejamkan matanya.


Brakkk!!!


“Wow!! Sky, you’re my man! Gue salut sama lo. Gue kasih 10 jempol buat lo,” teriak Gil dengan keras saat memasuki ruang kerja Sky.


“Gue kira siapa, ngagetin aja lo!” Sky terperanjat dan sangat kaget ketika pintu ruang kerjanya terbuka begitu saja.


“Lo bener-bener hebat, Sky!” Gil menepuk bahu sahabatnya itu. Sebagai seorang pria, ia sangat bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh Sky karena mampu membuat keputusan besar dalam hidupnya.


“Ngapain lo ke sini?” tanya Sky.


“Gue cuka mau kasih selamat lha. Akhirnya sahabat gue ini bisa mengambil keputusan, terutama yang berkaitan dengan hidupnya.”


“Lo belum bisa kasih gue selamat karena masih banyak halang rintang yang ada di depan gue saat ini,” kata Sky.


Drttt drttt …


“Iya Grandpa,” sapa Sky.


“Pulang sekarang!”


“Iya, aku akan pulang sekarang.”


“Grandpa Luther?” tanya Gil.


“Ya. Gue balik dulu ya. Lo tunggu Sean aja, dia lagi selesein tugas yang gue kasih. Ntar malam kita ketemuan di tempat biasa,” ujar Sky.


“Ok Boss!” jawab Gil sambil memberi hormat dengan 2 jari.


Sky pun meninggalkan ruangannya dan langsung menuju ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Ia kembali pulang atas permintaan Grandpa Luther, yang ia yakini akan ada masalah besar lain menantinya.


**


Sky sampai di kediamannya. Ia melihat mobil keluarga Brandon sudah terparkir di dalam area rumahnya.


“Perang dunia ketiga akan segera dimulai dan aku yakin bahwa aku-lah yang akan memenangkannya kali ini,” gumam Sky dengan sebuah map di tangannya.


Saat memasuki rumah,


“Selamat siang!” Sapa Sky pada orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.


Grandpa Luther melihat ke arah Sky dan berkata dengan tegas, “Jelaskan!!”


“Semua sudah jelas. Aku tidak akan pernah menikah dengan wanita yang tidak kucintai. Apalagi seperti yang kita ketahui bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah pernikahan bisnis,” mata Sky menatap tajam ke arah keluarga Brandon.


Elena segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Sky. Tanpa rasa malu, ia langsung memegang lengan Sky dan bergelayut manja, membuat Sky semakin jijik dan langsung menghempaskan wanita itu.


“Sayang, mengapa kamu melakukan hal itu? Apa aku kurang baik untukmu? Bukankah aku sudah menghangatkan tempat tidurmu? … hmmm …,” kata Elena dengan suaranya yang dibuat semanja mungkin.


“Cihhh!!! Memang kamu tidak pernah berubah, tetap saja murahan. Dasar wanita rubah!” teriak Sky dengan ketus.


“Hei anak muda! Jaga bicaramu! Berani sekali kamu mengatakan putri saya seperti itu!” bela Tuan Luis Brandon pada putrinya. Ia mengepalkan tangannya dan hendak memukul Sky.


“Sayanggg …. Jangan marah, hmmm … Apa kamu sedang menghadapi masalah di perusahaan? Ada sesuatukah yang membuatmu pusing? Aku bisa membantumu untuk lebih tenang,” Elena mulai menyentuhkan jari jemarinya ke wajah Sky.


Namun, dengan sekali hentakan, Sky meraih tangan Elena dan langsung menghempaskannya. Nyonya Gisella Brandon langsung berdiri dan menangkap putrinya yang hampir saja terjatuh.


“Jangan pernah sekali lagi kamu berani menyentuhku dengan tangan kotormu itu,” Sky menatap tajam ke arah Elena yang seketika berubah menjadi takut karena sikap Sky.


Grandpa Luther yang sedari tadi hanya diam dan menyaksikan, akhirnya membuka suara dan bertanya, “Sky, siapa yang mengijinkanmu membatalkan rencana pernikahan ini?”


Sky berdecak kesal, “Aku tidak memerlukan izin dari siapapun untuk sesuatu yang begitu penting dalam hidupku. Aku sudah memiliki seorang wanita yang kucintai dan aku tidak akan pernah menyerah untuk memperjuangkan itu.”


Grandpa Luther yang melihat kegigihan dari cucunya itu, tanpa sadar tersenyum kecil saat mendengar perkataan Sky.


“Tuan Luther, apa maksud semua ini? Aku tidak terima. Apa keluarga kalian sengaja mempermainkan keluarga kami?”tanya Tuan Luis Brandon.


“Ya benar, kami tidak terima keputusan ini. Kalian berbuat seenaknya dan mempermainkan kami. Kalian menyakiti putriku,” kata Nyonya Gisella mulai meradang. Ia tak ingin kehilangan tambang uangnya. Sebisa mungkin ia harus tetap mempertahankan agar Elena menikah dengan Sky.


“Terserah padamu, Tuan Luis dan Nyonya Gisella Brandon. Saya tidak akan pernah takut dengan apapun yang kalian ucapkan. Apa yang kalian lakukan saat ini justru hanya akan mempermalukan keluarga kalian, terutama putri kalian itu. Apa saya harus membongkar semuanya di sini?” tanya Sky.


🌹🌹🌹