Only Love

Only Love
#63



“Apa hubungannya sama perut lo?”


“Gue belum makan dari pagi gila! Kerjaannya cuma mondar-mandir kayak setrikaan. Calon pengantinnya aja malah santai, serasa di pantai. Mau apa tinggal teriak-teriak aja,” kata Sean dengan kesal.


“Lo mau santai juga?”


“Maulah! Nggak bakalan nolak gue kalau dikasih santai mah.”


“Dirumahkam mau?”


“Lo mau beliin gue rumah buat modal nikah, Sky?” Wajah Sean mulai bahagia karena terharu.


“Dirumahkan! Gue balikin lo ke rumah, trus nggak usah balik sini lagi,” kata Sky.


“Wah, raja tega lo. Gue kan masih ada cicilan mobil, Sky.”


“Lo nyicil sama Gil kan?” tanya Sky dan Sean pun mengangguk.


“Lo minta dia aja bantuin lo. Bilang kalau die nggak bantuin lo, lo nggak mau bayar cicilan, begitu.”


“Ide bagus juga tuh … tapi, ntar mobil gue ditarik lagi. Ahhh lo mah bukan ngasih solusi malah nambahin masalah,” ungkap Sean kesal.


Sean pun meletakkan berkas yang dibawanya ke atas perutnya, kemudian meletakkan tangan di atasnya. Sky yang melihatnya terdiam sesaan kemudian menoleh ke arah sahabatnya yang sudah terlelap.


“Se, Se, hitung-hitung pengalaman buat lo. Biar nanti lo cepet nyusul. Gue doain supaya lo segera ketemu jodoh dan langsung married,” bisik Sky.


**


Ivy kini hanya duduk terdiam di atas sofa di dalam ruang tamunya. Ia tak tahu apa yang harus ia kerjakan karena untuk sementara ini Sky tidak memperbolehkannya untuk kembali bekerja di rumah sakit, padahal ia tidak sanggup jika hanya duduk diam. Baginya, jauh lebih melelahkan untuk diam daripada bekerja semalaman.


Ia kembali membuka buku-buku kedokterannya. Ia tak ingin ilmu yang sudah ia miliki lenyap satu persatu karena tersapu oleh waktu. Ia harus tetap belajar dan belajar karena menjadi seorang dokter adalah cita-citanya. Selain itu, ia sudah berjanji pada Dad Arthur bahwa ia akan menjadi seorang doker yang hebat.


“Mom, Dad, apakah kalian melihatku dari atas sana? Meskipun aku dikelilingi oleh banyak orang, tapi mengapa aku tetap merasa kesepian.


Kehadiran mereka semua, tak sebanding dengan kehadiran kalian. Aku benar-benar sangat merindukan kalian, sangat …


Dad, Mom, sebentar lagi aku akan menikah. Dad kenal dengan Sky bukan? Dialah yang akan menjadi suamiku. Restui kami, Dad, Mom.


Padahal aku sangat berharap sekali bahwa Dad dan Mom bisa ada saat aku menikah, setidaknya Dad bisa menemaniku menuju altar. Tapi, aku yakin kalau Dad dan Mom akan menyaksikan pernikahanku dari sana, dengan penuh kebahagiaan.


Aku sangat menyayangi dan merindukan kalian. I love you Dad, I love you Mom. Sora love you both.”


**


Acara pernikahan Sky dan Ivy sudah hampir rampung. Acara tersebut akan diadakan 1 minggu lagi. Sean yang menjadi person in charge (PIC) dalam pernikahan ini sungguh sangat sibuk. Ia bahkan harus sedikit menelantarkan pekerjaannya di kantor dan hampir setiap hari juga ia harus lembur.


Tubuhnya saat ini sungguh sangat kelelahan. Rasanya ia sudah tidak sanggu lagi, bahkan untuk berdiri sekalipun. Yang ia inginkan hanyalah tidur, tidur, dan tidur.


“Apakah menikah melelahkan seperti ini?” Gumam Sean menggerutu.


Ia yang kini berada di ruang serbaguna yang akan dijadikan tempat perhelatan acara pernikahan tersebut, mencari kursi. Ia perlu duduk untuk mengistirahatkan kakinya.


“Siang,” balas Sean yang masih menunduk karena melihat daftar beberapa hal yang masih harus ia lakukan setelah ini.


“Perkenalkan, nama saya Farabella. Saya ditunjuk oleh bagian WO untuk menjadi MC untuk acara ini. Jadi saya datang ke sini untuk meninjau lokasinya.”


“Ooo silakan,” kata Sean tanpa melihat ke arah lawan bicara sama sekali.


Farabella memindai ruangan tersebut, bahkan setiap sudutnya tak luput dari perhatiannya. Ruangan itu terlihat belum terlalu rapi, namun secara garis besar sudah selesai.


Setelah selesai berkeliling, Farabella kembali ke tempat Sean, “Apakah saya bisa bertemu dengan Tuan Sky dan Nona Ivy?”


“Untuk?” tanya Sean. Ia pun menengadahkan wajahnya untuk melihat ke arah lawan bicaranya kini. Keduanya sedikit kaget, namun bisa menyembunyikannya.


“Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan mengenai rundown acara. Selain itu, saya ingin mengenal kepribadian calon mempelai pengantin,” jawab Farabella.


“Denganku saja,” kata Sean, “aku mengenal mereka dekat. Selain itu untuk seminggu ini mereka tidak bisa diganggu.”


“Baiklah kalau begitu. Kira-kira kapan waktu saya bisa berbicara dengan anda?” Kata Farabella dengan formal.


“Sekitar 1 jam lagi, aku akan segera selesai. Mungkin kita bisa berbicara di cafe seberang jalan.”


“Baiklah kalau begitu. Saya akan menunggu anda,” Tanpa berbasa-basi lagi, Farabella langsung pergi dari sana. Sean melihat kepergian wanita itu dari belakang.


Bella … - batin Sean yang terus memperhatikan hingga wanita itu tak terlihat.


**


Bella, begitu Farabella biasa dipanggil, kini ia sudah berada di dalam sebuah cafe. Ia memesan segelas teh lemon dingin. Cuaca di luar yang agak panas, membuat Bella ingin merasakan kesegaran di tengorokannya.


Beberapa kali ia memutar sedotannya, mengaduk minumannya, kemudian meminumnya. Tak terasa hampir setengah gelas sudah ia habiskan, namun Sean belum muncul juga. Ia melihat ke arah jam di pergelangan tangannya, waktu sudah lewat setengah jam dari waktu yang dijanjikan.


Jujur, ia paling benci jika harus menunggu seperti ini. Bukan tanpa sebab, tapi ia juga pernah menunggu seseorang hingga ia kehujanan. Sejak saat itu, ia selalu menghargai waktu.


“Baiklah, aku akan menunggu 10 menit lagi. Jika ia tidak muncul juga, maka aku akan pergi dari sini,” gumam Bella.


Bella menyesap minumannya sampai habis. Ia kembali melirik jam di pergelangan tangannya, sudah lewat 45 menit dari waktu yang dijanjikan, yang artinya ia sudah memberikan 15 menit waktu tambahan, bukan hanya 10 menit. Bella pun segera beranjak dari kursi dan menuju kasir. Ia membayar pesanannya dan meninggalkan cafe.


Tak ada gunanya menunggu seseorang yang hanya selalu mengucapkan janji, tapi tak pernah menepatinya. - batin Bella yang kini menertawakan dirinya sendiri.


**


Sean yang kedatangan Gil di ruang serbaguna tersebut, malah mencurahkan isi hatinya pada Gil. Ia benar-benar melupakan janji pertemuannya dengan Farabella, MC pernikahan Sky dan Ivy, yang ia buat sendiri.


“Bro! Gue cape banget. Rasanya gue udah pengen banget rebahan ini,” ungkap Sean sambil merentangkan tangannya. Ia menemukan sebuah sofa di dalam ruangan khusus yang akan digunakan oleh pengantin sebelum keluar ke ruangan besar.


Namun, tiba-tiba Sean melirik ke arah jam di pergelangan tangannya, “mampus gue, lupa lagi kan!”


Sean kembali teringat masa di mana ia juga melupakan janjinya, sama seperti saat ini.


🌹🌹🌹