
Ivy duduk sendirian di dalam kamar tidurnya. Ia memilih bersandar pada kepala tempat tidurnya, kemudian melipat kedua kakinya dan mendekatkan ke tubuhnya.
Aku tak mungkin menangis di hadapan Kak Daniel. Ia melakukan semua untuk kebahagiaan keluarganya, bukan karena keinginannya. Seharusnya aku bahagia karena pernah bersama dengan pria seperti Kak Daniel. - Ivy semakin merasa sedih ketika ia mengetahui alasan kuat di balik perjodohan Daniel.
Flashback on
Ivy yang sedang duduk sendiri setelah kepergian Daniel dari cafe, didatangi oleh seorang wanita dengan rambut sebahu. Ivy mengingat wanita itu, wanita yang dijodohkan dengan Daniel.
“Apa aku boleh duduk di sini?” kata wanita itu dengan lembut.
“Tentu saja, silakan.”
“Perkenalkan, namaku Vinnie,” Vinnie menyodorkan tangannya untuk berkenalan dan disambut baik oleh Ivy.
“Ivy.”
“Maaf jika aku mengganggumu dan dengan lancang mengajakmu berbicara,” Ivy bisa melihat bahwa wanita di hadapannya itu ingin mengungkapkan sesuatu namun seperti tertahan.
“Aku sudah berpisah dengan Kak Daniel. Aku tak akan menghalangi pernikahan kalian,” kata Ivy.
Vinnie menggelengkan kepalanya, “Bukan itu maksudku datang ke mari dan berbicara denganmu.”
“Apa kamu memintaku pergi jauh?”
“Tidak. Aku ingin kamu tetap di sini. Tunggulah sebentar, aku akan mengembalikan Daniel padamu,” kata Vinnie dengan mata yang melihat ke arah Ivy.
“Apa maksudmu?”
“Pernikahan ini hanyalah sebuah pernikahan bisnis. Daddy menginginkan aku menikah dengan pria pilihannya. Ia memaksa keluarga Lewis karena ia tahu bahwa keluarga Lewis adalah salah satu keluarga terpandang di kota ini. Daddy memberi syarat sebagai bentuk timbal balik dari bantuannya pada perusahaan keluarga Lewis. Selain itu, adik Daniel membutuhkan donor jantung dan hanya Daddy yang memegang kendali pada pendonornya. Daniel terpaksa menurut karena ia menyayangi adiknya, menyayangi keluarganya. Jadi, jangan pernah menyalahkannya atas semua ini.”
“Aku tahu Kak Daniel tak akan melakukan hal seburuk itu, tapi …”
“Tunggulah, sebentar saja. Setelah perusahaan keluarga Lewis membaik dan adik Daniel sudah dioperasi, kami akan bercerai. Aku akan pergi dan tidak akan mengganggu hubungan kalian,” kata Vinnie.
“T-tapi …”
“Aku akan pergi bersama kekasihku. Aku mencintainya. Jadi, aku mohon padamu tunggulah sebentar. Daniel sangat mencintaimu dan aku tahu itu,” pinta Vinnie.
“Aku tidak bisa. Bukan karena aku marah ataupun tak bisa menerima Kak Daniel kembali, tapi aku tak ingin membuat Kak Daniel menjadi pria yang tidak bertanggung jawab.”
Ivy langsung menggenggam tangan Vinnie, “Vin, bisakah aku memanggilmu seperti itu?”
Vinnie menganggukkan kepalanya.
“Pernikahan bukanlah sesuatu untuk dipermainkan. Meskipun kalian menikah bukan karena cinta, tapi kurasa seiring berjalannya waktu, aku yakin kalian akan saling mencintai. Tidak akan sulit untuk mencintai Kak Daniel. Ia adalah pria yang baik.”
Vinnie tersenyum, “Tapi ia tak akan pernah mencintaiku. Di matanya aku adalah seseorang yang telah menghancurkan kehidupannya.”
“Aku merasa Kak Daniel juga akan mencintaimu, kamu wanita yang baik. Aku bisa merasakan itu. Bagaimana kalau kita berteman?” tanya Ivy.
“Kamu tidak merebutnya, tapi memang semua ini sudah jalannya. Aku percaya semua yang terjadi sudah digariskan dan itu adalah yang terbaik,” kata Ivy.
Vinnie meneteskan air matanya, “Bagaimana aku bisa menyakiti wanita baik sepertimu. Aku terlalu jahat. Seharusnya aku mati-matian menolak perjodohan ini meskipun Dad akan membunuhku.”
“Vin, tenanglah. Kita sama-sama wanita. Aku tahu kamu juga pasti sedih karena harus berpisah dengan kekasihmu. Tapi apa yang kamu lakukan saat ini adalah untuk Daddymu, keluargamu, meskipun apa yang ia lakukan tidak benar dengan memaksamu.”
“Terima kasih,” kata Vinnie. Namun di dalam hatinya ia tetap akan memberikan Daniel kembali kepada Ivy karena ia tak ingin memisahkan dua orang yang saling mencintai.
Flashback off
Dad Arthur mengetuk pintu kamar putrinya. Sejak ia pulang dari kantor, ia bisa melihat wajah Ivy yang tidak seperti biasanya. Kini di tangannya ada sebuah amplop berwarna pink. Dad Arthur menyimpan secara khusus amplop yang satu ini karena akan lebih baik jika Ivy tidak pernah mendapatkannya.
“Sayang, ini surat terakhir dari Mommy. Dad sengaja menyimpannya, bahkan berharap tak pernah memberikannya padamu. Mom mengatakan untuk memberikannya hanya jika kamu sedang merasa sedih. Dad ingin kamu selalu bahagia, sayang,” kata Dad Arthur setelah menyerahkan amplop pink tersebut dan keluar dari kamar untuk membiarkan Ivy seorang diri.
Dengan perlahan Ivy membuka amplop berwarna pink dengan gambar bunga tulip di luarnya. Melihat gambar bunga tulip, membuatnya teringat akan pin bunga tulip miliknya. Ia segera bangkit dari tempat tidur dan mengeluarkan sebuah kotak. Ia tersenyum saat melihat pin bunga tulip miliknya.
Ia selalu memandangi pin bunga tulip tersebut ketika ia sedang bersedih. Ia menggenggamnya erat kemudian membuka surat dari Mom Keiko.
Sora sayang,
Kamu sedang sedih? Apa kamu menangis?
Keluarkan semua kesedihanmu, jangan menahannya. Lepaskan semuanya maka hatimu akan merasa lebih lega. Menangislah, Mom akan memelukmu.
Ivy mengeluarkan air matanya dan mulai terisak. Dari balik pintu, Dad Arthur yang mendengar isakan tersebut juga merasa sedih. Ia menyeka air matanya karena tak pernah mendengar Ivy sedih seperti itu.
Apakah perasaanmu lebih baik? Tenanglah sayang, kesedihan hanya akan berlangsung sementara, karena akan ada kebahagiaan setelahnya.
Ingat Sora sayang, Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi kekuatan umatNya.
Kamu akan selalu dikelilingi oleh orang-orang baik yang peduli padamu dan akan selalu ada di sisimu.
Putri Mommy sudah besar, Ivy Auzora, putri pemberani yang akan selalu kuat. Mom love you, Sora.
Senyumlah selalu, sayang. Biarlah senyum itu selalu terukir di wajahmu. Mommy akan bahagia jika melihatmu bahagia. Mommy menyayangimu, sayang.
Your Mom,
Keiko Thomas
Setelah selesai membaca surat tersebut, Ivy melipatnya kembali dan memasukkannya ke dalam amplop. Ia menyeka air matanya dan memandangi pin bunga tulip berwarna keemasan itu, ia pun tersenyum.
Ia mengingat seorang anak laki-laki memberikannya pin bunga tersebut. Saat itu ia merasa sedih karena Mommynya tertidur dan tidak bangun-bangun ketika ia memanggilnya.
Ivy menyayangkan kalau ia melupakan nama anak laki-laki tersebut. Kalau saja ia ingat, mungkin ia bisa kembali bertemu dengannya dan berterima kasih.
🌹🌹🌹