
“Se, kamu jemput calon cucu menantu Grandpa ya,” Sean pun mengiyakan permintaan Grandpa Luther di ujung telepon.
“Alamatnya?”
“Nanti akan Grandpa kirimkan alamatnya lewat pesan,” jawab Grandpa Luther.
“Baik.”
Tak lama, Sean mendapatkan notifikasi di ponselnya. Ia pun segera membersihkan diri dan bergegas menjemput calon cucu menantu Grandpa Luther.
Sean sebenarnya merasa gelisah karena secara tidak langsung ia turut andil dalam memperlancar rencana perjodohan sahabatnya itu kali ini.
“Apa gue bilang mobilnya mogok aja kali ya sama Grandpa, dari pada gue kena tendangan dari Sky,” Sean mengusap wajahnya kasar dan mulai memikirkan suatu rencana.
Ia berhenti di tepi jalan, kemudian mengambil ponsel yang berada di dalam saku jas-nya. Sean pun menghubungi Grandpa Luther.
“Grandpa, sepertinya mobilku mengalami masalah. Tiba-tiba saja mesinnya tidak enak, seperti mau mogok.”
“Hmm … kalau begitu, kamu bisa bertukar mobil dengan mobil pengawal yang ada di belakangmu. Kemarin mobil itu baru di servis jadi Grandpa yakin tidak akan mogok lagi. Biar mobilmu diurus oleh pengawal itu, kamu lanjutkan saja untuk menjemput,” kata Grandpa Luther.
Sean melihat ke arah belakang dan benar saja, dia melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam juga terparkir di belakang mobilnya saat ini. Ia bahkan tidak sadar ada yang sedang mengikutinya.
Akhirnya Sean turun dari mobil dan berpura-pura membuka kap mesin. Ia mengutak-atik, kemudian kembali menyalakan mobilnya. Setelahnya, ia pun kembali melajukan mobilnya menuju ke alamat yang dimaksud.
“Ternyata Grandpa Luther susah untuk dibohongi. Jangan-jangan besok gue bakalan masuk rumah sakit nih gara-gara lebam di sana-sini. Kalau begitu mendingan habis gue anterin ke sana, gue langsung cabut aja, alasan apa kek …,” gerutu Sean sambil kembali memikirkan rencana untuk melarikan diri setelah ini.
Sean pun sampai di sebuah rumah sederhana. Tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Ia kembali membaca pesan di mana alamat yang diberikan itu tertera dan mencocokkannya kembali. Ia tak ingin salah alamat.
“Ini bener nih? Yakin nggak salah alamat? Masa Grandpa udah nggak mau cari putri pengusaha lagi? Yang bibit bebet sama bobotnya ikutan gede,” Sean pun terkekeh sendiri membayangkannya.
Sean mengetuk pintu rumah tersebut setelah berdiri agak lama untuk berpikir dan mondar-mandir seperti setrikaan.
Tokk tokk tokk …
Tak lama, pintu terbuka. Sean yang melihat siapa yang membukakan pintu pun langsung mundur selangkah.
“Vy, ngapain kamu ada di sini?”
“Lha, aku yang mestinya tanya ngapain Kak Sean ada di sini.”
“Aku di minta untuk menjemput seseorang yang tinggal di sini,” kata Sean.
“Yang tinggal di sini cuma aku, Kak.”
Sean mulai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia pun mencoba bertanya pada Ivy.
“Kamu udah cantik begini, mau ke mana Vy?” tanya Sean.
“Aku diundang makan malam. Katanya bakalan dijemput jam 6, tapi ini sudah hampir jam setengah 7, belum ada yang datang juga. Malah Kakak yang datang,” kata Ivy.
“Kamu bukannya masih di Desa Supai, Vy?”
“Seharusnya iya, tapi nggak tahu kenapa, aku diminta untuk membuat laporan. Jadi, aku langsung dipindahkan ke Kota New York. Aku juga bingung karena semuanya terjadi begitu mendadak.”
Jangan-jangan … ini semua ulah Grandpa. - batin Sean.
“Sebentar Kak. Aku mau hubungi orang yang jemput aku dulu ya, takutnya salah jalan,” kata Ivy.
Ivy menelepon dan ponsel Sean pun berbunyi. Ivy berjalan agak jauh dari Sean, sementara Sean mengeluarkan ponselnya dan menjawab panggilan juga.
“Halo.”
“Halo.”
“Jadi kakak yang mau menjemputku?” tanya Ivy.
“Jadi kamu yang mesti aku jemput? Benar-benar kebetulan yang disengaja,” kata Sean, membuat Ivy tersenyum.
“Kalau begitu, kita berangkat sekarang saja Vy. Ntar aku ditempeleng Grandpa Luther lagi kalau telat menjemputmu,” kata Sean terkekeh.
Mereka pun akhirnya membelah jalan Kota New York yang sangat ramai dan padat di akhir pekan itu.
**
“Woii bro!!!” Sean tanpa ingat apa tugas sebenarnya, menepuk bahu Daniel dan duduk persis di sebelahnya, “mana ponakan gue yang gantengnya belum setara sama gue?”
“Nyadar ye nyadar!!” Gil melemparkan bantal sofa ke wajah Sean.
“Sekali lagi dilempar pakai bantal, kayaknya gue bakalan dapat teko nih. Eh jangan deh, tupperware aja. Siapa tahu Mommy gue jadi seneng ye kan,” kata Sean nyeleneh.
Ivy yang sedari tadi sudah menunggu di ruang tamu pun akhirnya masuk ke dalam setelah seorang pelayan memintanya masuk. Ivy muncul di sana dan membuat semua melihat ke arahnya, kecuali Sky yang masih menunduk.
Sky sedang berpikir dan berencana untuk mengacaukan acara makan malam ini. Bagaimanapun juga, ia harus membuat wanita itu menyerah. Ia sampai tidak fokus dengan keadaan sekitarnya dan hanya terus bermain dengan pikirannya.
“Kamu cantik sekali, sayang,” kata Grandpa Luther.
“Terima kasih, Grandpa,” Ivy memeluk Grandpa Luther.
Ivy melihat ke sekeliling. Ada Gil, Daniel, Vinnie dengan Allen, dan pandangannya beralih pada Sky yang masih menunduk.
Grandpa Luther memberikan isyarat pada Ivy dan akhirnya Ivy duduk persis di sebelah Sky. Sementara Grandapa Luther memberikan tanda pada yang lainnya untuk segera pergi ke ruang makan.
“Sky …”
Sky meremas kedua tangannya, tanda ia sedang merasa gelisah. Ia juga merasa mendengar suara Ivy di dekatnya, apa ia sudah mulai gila?
Dengan berani, Ivy mengecup pipi Sky.
“Hei! Jangan sembarangan! K-kamu ….,” perkataan Sky terpotong karena kini ia melihat wanitanya itu sedang duduk di sebelahnya. Ia mengusap matanya, seakan sedang berhalusinasi.
“Love, kamu …,” Sky tiba-tiba menangkup wajah Ivy dengan kedua tangannya.
“Iya, aku di sini. Grandpa mengajakku makan malam.”
“Grandpa? Apa maksud semua ini?” Sky merasa heran dan bingung.
“Sudahlah. Ayo, Grandpa sudah menunggu kita di meja makan,” ajak Ivy.
Sky pun bangkit dan berjalan bersama Ivy. Di ruang makan, meja terlihat penuh dan suara canda tawa memenuhi ruangan. Di sana terlihat seperti seorang Grandpa dengan cucu-cucunya.
Sky menarik kursi dan mempersilakan Ivy untuk duduk, kemudian ia duduk persis di sebelahnya. Mereka melanjutkan acara makan malam tersebut dengan lancar, tanpa ada gangguan apapun, kecuali Gil dan Sean yang selalu membuat ulah.
Selama acara makan malam berlangsung, Grandpa Luther memperhatikan interaksi antara cucunya dengan Ivy. Ia melihat bagaimana Sky selalu menampilkan senyumannya, meskipun Grandpa Luther tahu bahwa di dalam hati cucunya itu, banyak pertanyaan yang perlu ia jawab.
Setelah acara makan malam selesai, mereka kembali duduk di ruang keluarga. Grandpa Luther pun kini mulai menampakkan wajah tegasnya.
“Grandpa ingin kamu berpisah secara baik-baik dengan Ivy, sebelum Grandpa menjodohkanmu dengan wanita pilihan Grandpa.”
🌹🌹🌹