
“Lo ngapain?” tanya Gil ketika ia datang menemui Sean di ruang serbaguna, tempat rencana pernikahan Sky dan Ivy akan diadakan.
“Gue cape banget, lihat nih gue udah nggak ada tenaga,” jawab Sean.
“Lha, lagian lo mau.”
“Gue jitak pala lo pitak baru tahu lo!”
“Lo serahin aja sekua ke WO, beres kan?!” kata Gil.
“Emang semua udah diserahin ke WO, tapi gue tetap harus cek satu-persatu. Sky udah kasih ultimatum ke gue, jangan sampai ada kesalahan apapun di acara ini. Bisa-bisa gue dipecat.”
“Kan lo bisa cari kerjaan lain,” kata Gil menghibur.
“Ahhh, lo kan tahu gue paling males kalau disuruh nyarinkerjaan. Lagian kalau gue kerja sama Sky kan setidaknya gue masih bisa ngomelin dia,” kata Sean.
Gil yang mendengar penururan Sean malah tertawa terbahak-bahak.
“Lo tuh kerja nyari bos apa nyari temen berantem sih?” Gil tertawa dengan lepas.
“Ketawa aja lo terus. Lagian banyak bener nih embel-embel pernikahannya. Oiya, inget lo ya, kaau nikah jangan ngerepotin gue lagi,” ujar Sean.
“Nikah? Pacar aja belom punya. Kita ini jojoba apa jones?”
“Gue mah bahagia, lo aja kali tuh yang jones,” ungkap Sean terkekeh.
Tiba-tiba saja Sean melihat ke arah jam di pergelangan tangannya.
“Udah lewat jam makan siang, lo mau makan nggak?” Tanya Sean.
“Yuk, di cafe seberang aja, deket.”
“Ayo!”
Namun, tiba-tiba Sean kembali melirik jam di pergelangan tangannya lagi, “mampus gue, lupa lagi kan?!”
“Lupa apaan?” tanya Gil.
“Gue tadi buat janji sama MC acara ini, mau ketemuan di cafe depan,” jawab Sean.
“Ya udah yuk, siapa tahu dia masih nunggu.”
“Tapi ini udah lewat banget.”
“Udah, jalan aja dulu. Nggak ada salahnya kan ngecek,” kata Gil. Sean pun akhirnya menganggukkan kepala sambil ikut keluar bersama dengan Gil.
**
Dengan setengah berlari, Sean memasuki cafe tersebut.
“Bella?” gumamnya sambil menelusuri setiap sudut cafe, berharap wanita itu masih berada di sana meskipun ia tak berharap banyak. Ia melihat ke arah jam di tangannya lagi, sudah hampir 1 jam dari waktu yang ia janjikan.
“Ahhh!” Sean menghempaskan tangannya.
“Ada nggak bro?” tanya Gil.
“Nggak ada.”
“Lo janji jam berapa emangnya?”
“1 jam yang lalu,” jawab Sean.
Pletakkk
Gil memukul bahu Sean, “pantas aja ditinggal, lewatnya kebangetan,” Gil menggelengkan kepalanya.
“Ya gimana, lo kan tadi ngajak gue ngobrol, jadi gue lupa.”
“Loh kok jadi gue yang disalahin?”
“Lah terus gue mesti salahin siapa? Adanya cuma lo,” kata Sean.
Mereka pun akhirnya menyantap makan siang mereka. Sean yang masih merasa tidak enak hati, tak terlalu menyentuh makanannya. Gil yang memperhatikan Sean pun akhirnya bertanya.
“Lo masih mikirin MC itu?” tanya Gil dan Sean pun mengangguk.
“Bella.”
“Bella?” tanya Gil, karena Sean tiba-tiba menyebut nama seseorang yang rasanya tidak asing baginya.
“Farabella Lincoln. Dia-lah MC dalam acara pernikahan Sky dan Ivy.”
“Maksud lo, Bella centil?”
Sean menghela nafasnya dan kembali mengangguk. Bella merupakan salah satu gadis yang menjadi target mereka saat masih sekolah dulu. Bukan apa-apa, gadis itu terpilih hanya karena sosoknya yang terkenal centil dan sok cantik, tapi memang aslinya cantik. Bella bukan centil, tapi ia adalah gadis yang sangat mudah bergaul.
“Gue sampai udah nggak inget dulu akhirnya dia gimana ya? Kita fokus ke Ivy.”
“Lo semua dulu tumbalin gue jadinya buat ngerjain dia kan?!” ungkap Sean dengan kesal.
“Terus-terus?”
“Teras terus teras terus … ya akhirnya gue sempet jalan sama dia 2 kali, setelah itu ….”
“Apa?”
“Gue tinggalin dia gitu aja.”
“Wah lo beneran ngelakuin itu?”
“Hmm … sebelum kita ujian akhir, gue tinggalin dia. Gue buat janji sama dia, tapi … gue nggak dateng,” kata Sean.
“Ya setidaknya secara nggak langsung lo udah kasih tahu ke dia kalau lo nggak suka sama dia … ya kan?”
Gil melihat ke arah Sean. Mata sahabatnya itu terlihat berbeda. Ada sesuatu yang sahabatnya itu sembunyikan dan Gil tahu itu. Hanya saja ia tak mungkin mencari tahu saat ini karena sangat terlihat kalau Sean tak ingin bercerita.
Flashback on
Ujian sekolah akan diadakan pada hari Senin, dan saat ini Sean sedang berkutat dengan buku-buku pelajarannya. Ia tak ingin gagal dalam ujian akhir ini karena ia tak ingin mengecewakan Mom Vera. Mom Vera, seorang single parents, yang bekerja membuka sebuah toko kue, demi menghidupi putra tunggalnya.
Hari ini adalah hari Jumat dan Sean masih sendirian di rumah karena Mom Vera masih berada di toko. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan buku-buku di sampingnya.
Terdengar bunyi ponselnya beberapa kali, membuat Sean menggerutu kesal. Ia pun mengambil ponsel tersebut dan melihat notifikasinya. Nama yang tertera di sana membuatnya menghela nafas panjang.
Pada akhirnya Sean membuka notifikasi tersebut dan mengetikkan balasan yang tak pernah sekalipun ia lakukan. Ya, ia mengajak gadis itu untuk pergi berdua esok hari.
Hal itu tentu saja membuat Bella sangat senang karena sejak dulu, di antara ke 4 pria anggota Universe Boys, ia sangat menyukai Sean yang kalem tapi humoris.
Keesokan harinya, Bella yang sangat bersemangat dengan pertemuannya dengan Sean pun bangun lebih pagi. Ia berdandan secantik mungkin dan menggunakan pakaian terbaiknya.
Setelah pamit pada kedua orang tuanya, Bella pergi ke tempat janjian mereka, yakni ke sebuah taman hiburan. Bella duduk di sebuah kursi di bawah pohon besar. Ia membeli sebotol air mineral di minimarket sebelum ia sampai, bahkan ia membeli 2 botol untuk ia berikan pada Sean nanti.
Namun, sampai dengan waktu yang dijanjikan, Sean tak menampakkan wajahnya sama sekali. Bella masih berpikir positif, mungkin Sean ada kesibukan hingga terlambat, atau jalanan yang macet.
Waktu sudah lewat 2 jam dari waktu yang dijanjikan dan Bella mulai pesimis. Namun, ia sama sekali tak meninggalkan taman hiburan itu. Suara petir tak membuatnya beranjak. Sesekali ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas-nya dan berusaha menghubungi Sean, namun tak sekalipun dijawab.
“Ahhh!!!” Bella yang baru saja keluar dari taman hiburan dan ingin memesan taksi, langsung ditabrak oleh 2 orang dari belakang dan merebut tas serta ponsel miliknya.
Hari itu, menjadi hari tersial dalam hidup menurutnya. Ia harus pulang dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan. Untung saja ia mendapati taksi kosong yang lewat hingga ia bisa naik dan membayarnya di rumah.
Hari Senin, ketika waktu ujian akhir tiba, Sean yang telah melewati hari itu dengan lancar dan sukses pun merasa senang. Bahkan ia telah berhasil membuat Bella tak mengirimi dirinya pesan ataupun menghubunginya lagi.
Namun, sampai hari terakhir ujian, Sean sama sekali tak mendapati keberadaan Bella di sekolah. Ia pun pada akhirnya bertanya pada salah satu anak di kelas Bella.
“Ohh Bella … katanya ia ikut ujian tahun depan. Apa kamu tidak tahu kalau Bella masuk rumah sakit?”
Tahun depan? Apa itu semua karena aku? - batin Sean.
Flashback off