
Bella tengah berbicara dengan WO yang menangani acara pernikahan Sky dengan Ivy. Sebagai MC, ia hanya mendapat tugas saat acara resepsi saja. Sebenarnya, saat ia menerima tugas tersebut, ia tak mengetahui bahwa Sky yang dimaksud adalah Sky Roberts, salah satu anggota Universe Boys saat ia sekolah dulu.
Jika saja ia mengetahuinya, maka ia tak akan menerima tugas tersebut. Apalagi, ketika ia bertemu secara langsung dengan Sean, pria yang selain menyakiti dirinya, secara tidak langsung juga menyakiti kedua orang tuanya.
Namun, ia harus menerima pekerjaan ini. Ia membutuhkan uang untuk membayar kuliah adiknya yang sudah memasuki semester akhir. Ia tak ingin adiknya kehilangan kesempatan untuk lulus tepat waktu.
“Bagaimana? Apa kamu sudah siap?” tanya ketua WO pada Bella.
“Hmm, aku siap,” jawab Bella.
“Baiklah, masih ada waktu sekitar 30 menit. Kamu berikan earpiece khusus ini pada Tuan Sky.”
“T-tapi …,” Bella memang berusaha menghindari anggota Universe Boys. Ia sudah melihat keberadaan mereka berempat sebelum memasuki ruang tunggu khusus.
“Aku harus mengadakan briefing terakhir dengan semua anggotaku. Tolonglah aku, Bel,” pinta Hansen.
“Baiklah,” pada akhirnya Bella mengiyakan permintaan Hansen. Hansen adalah sahabat Bella saat mereka sama-sama kuliah di Jurusan Ekonomi, hanya saja usia Hansen lebih muda 1 tahun darinya karena Bella memang terlambat masuk kuliah.
Bella pun berjalan menuju ke ruang tunggu khusus. Ia akan cepat memberikannya agar ia bisa segera pergi dari sana.
“Permisi, bisakah saya bertemu sebentar dengan kedua mempelai?” tanya Bella pada seorang pelayan yang membukakan pintu.
Pelayan itu menoleh ke arah Sky dan dijawab dengan anggukan. Namun, saat melihat siapa yang datang, Sky merasa ia telah salah dalam mengambil keputusan. Sky sangat mengenali Bella karena sejak dulu, wanita itu memang terkenal di sekolahnya.
Keempat anggota Universe Boys pun mengenali Bella karena ia tak berubah banyak, hanya saja ia terlihat lebih dewasa.
“Maaf Tuan Sky, saya hanya diminta oleh Hansen untuk memberikan ini pada anda. Anda diharap untuk menggunakannya selama acara berlangsung,” Sky pun menerima earpiece yang diberikan oleh Bella.
“Terima kasih.”
“Kalau begitu, saya permisi,” Bella tak ingin berurusan lagi dengan siapapun dari anggota Universe Boys. Meskipun waktu telah berlalu cukup lama, tapi sakit yang diberikan oleh mereka masih tetap sama.
Setelah kepergian Bella, Sky, Daniel, dan Gil melihat ke arah Sean. Sementara Sean yang menjadi pusat perhatian pun menjadi salah tingkah.
“Lo pada ngapain liatin gue kayak begitu?” tanya Sean.
“Nggak apa-apa, cuma lo nggak mau minta maaf?” tanya Gil.
Sky dan Daniel pun jadi menautkan kedua alisnya, mereka merasa ingin tahu ada apa sebenarnya. Ivy dan Vinnie selalu diam menyaksikan interaksi keempat pria itu, tanpa menimpali.
“Gue nggak salah!” kata Sean yang akhirnya bangkit dan keluar dari ruangan.
Di dalam benak Sean sebenarnya ada rasa bersalah yang tak bisa dikatakan pada siapapun. Hanya saja, ia tak berani untuk mengungkapkannya. Ia berdiri di pintu akses menuju ruangan tempat acara resepsi akan digelar. Di sana, ia melihat Bella yang tengah mencoba dan memeriksa mic yang akan digunakan.
**
Acara resepsi dimulai, para tamu sudah banyak sekali yang hadir. Bella, sebagai MC, menyambut kedatangan mereka semua dengan senyumannya. Ia membuat suasana resepsi pernikahan Sky dan Ivy menjadi semakin meriah dan tidak membosankan.
“Berbeda sekali dengan Bella yang tadi. Apa dia memiliki 2 kepribadian?” gumam Sean.
“Nggak, bukan siapa-siapa,” Sean kembali menghindar dari Gil. Ia tak ingin sahabatnya itu bertanya macam-macam lagi.
Ketika acara resepsi hampir berakhir, MC meminta para tamu undangan yang masih single untuk berkumpul di bagian tengah depan panggung. Hal itu dikarenakan kedua mempelai akan melakukan acara lempar bunga pengantin.
Sesi acara ini merupakan acara yang selalu ditunggu-tunggu oleh para tamu undangan yang berstatus single. Mereka pun segera berkumpul dan sangat berharap bisa mendapatkan bunga pengantin tersebut.
Tak mau ketinggalan, Gil segera menarik Sean dan membawanya ke tengah kumpulan para jomblowan dan jomblowati tersebut.
“Sebelah sini!” teriak Gil dengan kencang pada Sky dan Ivy. Hal itu tentu saja membuat para tamu undangan melihat ke arahnya.
“Dasar cowo gila! Beginian pakai ngajak-ngajak segala. Bikin malu gue aja lo!” gerutu Sean dengan setengah berbisik.
“Jadi lo malu kalau ketahuan masih single?” Gil balas berbisik.
“Ahhh!!! Asem lo!”
Setelah bagian tengah depan panggung mulai ramai, Bella pun meminta Sky dan Ivy untuk bersiap-siap melemparkan bunga pengantin tersebut.
Dan pada akhirnya …
Swinggghhh ….
Pugghhh.
Dengan mudahnya bunga pengantin tersebut jatuh di pelukan Sean yang tengah melipat kedua tangan di depan dada karena kesal. Ia bahkan berdiri sedikit mundur dari keramaian itu.
Suasana pun menjadi hening seketika, membuat semua mata kini tertuju ke arahnya. Sean yang melihat buket bunga pengantin ada di pelukannya hanya bisa tersenyum tipis saat melihat tatapan para wanita yang seakan ingin menggilingnya dengan gilingan daging. Bahkan mereka mulai meremas kedua tangan mereka seakan ingin menghabisinya.
Sean pun segera melarikan diri dari ruang resepsi tersebut dengan cepat, hingga tanpa sadar tetap membawa bunga pengantin di dalam genggamannya.
Setelah merasa telah berlari jauh, ia pun berhenti sebentar untuk mengatur nafasnya. Sean melihat ke sekeliling, ia sudah berada di luar gedung, tepatnya di parkiran mobil. Ia pun segera berjalan mencari mobil yang masih dicicilnya itu sampai sekarang.
Ia pun melihat ke tangan kanannya. Matanya membulat ketika melihat dirinya masih memegang bunga tersebut, bahkan dengan sangat erat.
“Shitttt!! Ngapain juga gue lari sambil bawa-bawa nih bunga? Ini semua gara-gara Gil! Dasar temen nggak ada akhlak,” gerutu Sean dengan berapi-api.
Ia pun membuka pintu mobil kemudian duduk di balik kemudi. Setelahnya ia melemparkan bunga pengantin yang ia pegang ke kursi penumpang yang persis berada di sebelahnya.
“Ahhh!!! Malu-maluin banget sih!” ungkap Sean dengan kesal sambil memukul setir mobilnya.
Sean akhirnya menyalakan mesin mobilnya dan segera meninggalkan tempat tersebut. Rasa malu yang ia rasakan seakan tak bisa tertutupi. Biarlah jika nanti Sky akan marah dan memotong gaji ataupun bonusnya. Saat ini ia benar-benar tak peduli karena yang ada dalam pikirannya adalah wajah Bella saat melihatnya mendapatkan bunga pengantin tersebut.
Ya, Bella melihat ke arahnya. Sean tak lagi mendapatkan tatapan memuja dari wanita itu, yang dulu sering ia dapatkan. Kali ini, wajah Bella terlihat datar, tanpa ekspresi. Sean tidak tahu apa yang ia rasakan, hingga akhirnya ia mengemudikan mobilnya sampai ke depan tempat tinggalnya.
🌹🌹🌹