Only Love

Only Love
#55



Grandpa Luther melihat wajah Sky yang sudah menampilkan kemarahan dan kekesalan. Sementara Tuan Luis Brandon masih terus saja berkelit.


“Apa maksud perkataanmu?’ Wajah Tuan Kuis Brandon sudah mulai menampilkan sedikit kekuatiran.


“Sudah Tuan Luis, jangan berkelit lagi. Saya tahu semua yang anda lakukan dan saya pastikan jika anda menargetkan keluarga saya, maka saya tidak akan main-main.”


Deghhh …


“Apa? Aku tidak melakukan apa-apa. Jangan menuduhku. Aku hanya ingin menikahkan putriku. Bukankah itu semua juga atas keinginan Tuan Luther? Mengapa kamu jadi menyalahkanku? Aku tidak terima!”


Brughhh!!!


Sean meletakkan beberapa berkas di hadapan Tuan Luis Brandon. Di sana juga terdapat foto-foto hasil penyelidikan orang kepercayaan Sky tentang keluarga Brandon.


Tuan Luis Brandon mengambil salah satu berkas di sana dan mulai membukanya. Matanya membulat melihat bahwa Sky telah mengetahui sekua yang ia lakukan.


“Ada apa sebenarnya?” tanya Grandpa Luther.


“Tuan Luis Brandon ini adalah seorang gigolo. Ia menawarkan anak perempuannya, juga wanita-wanita lain yang ada dalam naungannya untuk dinikahkan dengan para pengusaha kaya. Setelah ia berhasil, maka ia akan meraup keuntungan yang besar dengan membunuh targetnya secara perlahan,” kata Sky sambil tersenyum sinis.


“Jaga bicaramu! Jangan percaya dengan kata-kata cucumu ini, Tuan Luther. Ia hanya berusaha menghindar dari pernikahan yang telah kita atur. Lagipula, bukankah kamu sudah meniduri putriku? Kamu harus bertanggung jawab!” teriak Tuan Luis. Ia tak ingin langkah terakhirnya untuk meraup keuntungan dari harta kekayaan keluarga Robert hilang begitu saja, padahal sudah di depan mata.


“Cihhh!! Jangan membuat saya tertawa! Tak akan pernah saya mau menyentuh wanita seperti dia. Sebaiknya kamu jangan mencari alasan terlalu banyak, atau saya akan membongkar semuanya.”


Tuan Luis Brandon mengepalkan tangannya, ia merasa gagal dalam rencananya untuk masuk dalam keluarga Robert. Nyonya Gisella yang sudah memiliki rencana di pikirannya tentang apa yang akan ia lakukan dengan kekayaan keluarga Robert pun mulai bertindak. Ia mengeluarkan sebuah senjata berupa pistol dari dalam tas miliknya.


“Sialannn kalian semua!! Kamu harus menikah dengan Elena atau aku akan menembak Grandpa-mu yang sudah tua bangka itu! Bukankah kamu sangat menyayanginya? Jadi apa kamu lebih memilih ia mati di tanganku?” Teriak Nyonya Gisella sambil tetap mengarahkan senjata itu ke arah Grandpa Luther.


Tuan Luis tersenyum karena istrinya itu berani mengambil tindakan, sementara Elena hanya diam berdiri dan menyaksikan. Sudah beberapa kali ia turut serta dalam kegiatan seperti ini. Oleh karena itulah mereka bisa hidup dengan nyaman karena sudah banyak keluarga yang masuk dalam jebakan mereka.


Sky memberi tanda ke arah Sean dan Sean pun mengangguk. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan menekan sebuah tombol. Beberapa orang pihak kepolisian kini memasuki ruangan, membuat Tuan Luis Brandon dan keluarganya langsung terdiam dan panik.


“Dad, apa yang harus kita lakukan?” Bisik Nyonya Gisella.


“Tembak saja!”


“Kamu gila! Aku kan hanya mengancam,” kata Nyonya Gisella.


“Kalau kamu tidak mau menembak, cepat berikan padaku. Biar aku aaja yang melakukannya,” Tuan Luis langsung merebut pistol yang berada di genggaman Nyonya Gisella dan ingin langsung mengarahkannya pada Tuan Luther.


Namun, para polisi telah siap dan langsung menembakkan senjatanya hingga mengenai senjata yang dipegang oleh Tuan Luis dan membuatnya terpental. Pihak kepolisian langsung membekuk mereka.


Akhirnya keluarga Brandon pun dibawa oleh pihak kepolisian. Wajah mereka menampakkan kemarahan dan dendam. Mereka tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Sky. Kini, wajah mereka akan terpampang di mana-mana dan mereka tak bisa lagi mendapatkan banyak uang.


Setelah kepergian polisi bersama keluarga Brandon, Grandpa Luther malah tertawa melihat ke arah Sky.


“Mengapa Grandpa tertawa? Aku rasa ini tak ada yang lucu. Apa Grandpa tidak merasa takut dengan ancaman mereka?” tanya Sky.


“Tentu saja ada sedikit rasa kuatir di dalam diri Grandpa. Namun, Grandpa merasa bangga padamu,” Grandpa Luther melanjutkan tawanya.


“Apa maksud Grandpa? Atau jangan-jangan … Grandpa sudah mengetahui semua ini?” tanya Sky menautkan kedua alisnya dan tatapan menyelidik.


“Menurutmu?”


“Jadi Grandpa sengaja?”


“Tentu saja tidak. Grandpa hanya ingin melihat bagaimana kamu menghadapi masalah ini dan mencari jalan keluarnya. Bukankah dari situ kita bisa melihat bagaimana kualitas penerus Perusahaan Robert?” Grandpa Luther tersenyum.


Jika ia bisa berdiri untuk mempertahankan keinginannya, terutama hal yang berkaitan dengan dirinya pribadi, tentu hal-hal yang berkaitan dengan perusahaan akan lebih mudah diatasi.


Sky tersenyum sinis. Ia tak menyangka Grandpa Luther akan melakukan hal seperti ini, hingga membuatnya tertawa juga.


“Dasar Grandpa gila!” gumam Sky.


“Apa yang kamu katakan?!! Berani sekali kamu mengumpatku,” decak Grandpa Luther.


“Nggak … nggak …,” kata Sky sambil menggoyangkan kedua tangannya.


Apa Grandpa bisa membaca pikiranku? - batin Sky.


“Ya, Grandpa bisa membaca semua isi pikiranmu, terutama pikiran kotormu itu,” kata Grandpa Luther.


Sky menoleh melihat ke arah Grandpa Luther. Sean hanya bisa mengendikkan bahu tanda tak tahu menahu. Sepertinya ia harus berhenti berpikiran macam-macam jika sedang berhadapan dengan Grandpa Luther, atau mungkin ia akan dikuliti hidup-hidup.


“Aku pergi dulu, Grandpa. Ada janji dengan Gil. Ayo, Se!” Sky pun melangkahkan kakinya.


Namun, belum sampai ke luar pintu, ia sudah kembali mendengar sebuah ultimatum dari Grandpa Luther.


“Jika dalam 1 bulan kamu tidak bisa membawa pulang wanita yang kamu cintai, untuk dikenalkan dengan Grandpa … maka kamu sudah tidak dapat berkutik lagi. Grandpa yang akan mempersiapkan jodoh yang pantas untukmu, dan kamu tidak memiliki hak untuk menolak lagi. Mengerti kamu!!”


Sky hanya melambaikan tangannya sambil berjalan pergi. Ia yakin ia akan segera menemukan Ivy dan mengajaknya untuk menemui Grandpa Luther.


**


“Gimana Se? Lo udah cari tahu yang kemarin itu gue minta belum?” tanya Sky.


“Udah, siap semuanya,” jawab Sean.


“Mana?”


“Di kantor lha, masa gue bawa ke sini.”


“Udah selesai kenapa nggak langsung ngabarin gue?”


“Lha, kan lo mau konferensi pers dulu, masa lo mau langsung pergi gitu aja,” kata Sean masih sambil mengemudikan mobil.


“Jauh nggak?”


“Menurut gue sih nggak ya, soalnya masih di negara ini. Hanya saja jalan menuju ke sana yang tidak akan mudah,” kata Sean menjelaskan.


“Di mana? Cepat katakan!” kata Sky dengan tidak sabar.


“Arizona.”


Dengan hanya mendengarkan 1 kata dari Sean, Sky langsung meminta sahabatnya itu untuk memesankan tiket. Ia tak mau menunggu lebih lama lagi karena Grandpa Luther juga sudah memberikan ultimatum lanjutan.


“Segera pesankan aku tiket ke sana. Semakin cepat semakin baik.”


“Siap, Bro!”


🌹🌹🌹