
“Apa Grandpa salah memberikan calon cucu menantu?” tanya Grandpa Luther.
“Salah Grandpa, benar-benar salah. Kalau begitu tadi aku saja yang menggantikan,” timpal Sean.
“Enak aja, kalau begini mah tadi gue juga nggak masalah. Sky mah sama yang lain aja,” goda Gil tak mau kalah.
“Udah-udah, kalian semua jangan terlalu berharap. Kalau bukan dengan Sky, Ivy pasti akan milih gue,” kata Daniel.
“Apa maksudnya?” Vinnie yang sedang menggendong Allen, langsung menjewer telinga Daniel.
“Eits … eits … sayang, aku cuma bercanda,” Daniel pun mengambil putranya yang awalnya berada dalam gendongan Vinnie. Hal itu membuat semua tertawa.
“Grandpa, aku setuju kalau calonnya yang ini,” tangan Sky langsung merangkup bahu Ivy.
“Kalau begitu, siapkan pernikahan kalian dalam waktu 1 bulan ke depan. Kalau tidak bisa, Grandpa yang akan mempersiapkan pernikahanmu dengan calon yang lain. Ingat! Jangan bermain-main, karena stock Grandpa masih banyak,” kata Grandpa Luther sambil berlalu menuju kamar tidurnya.
“Siap Grandpa!” kata Sky.
“Se, lo siapin ya semuanya,” kata Sky melanjutkan.
“Maksud lo?” tanya Sean heran.
“Gue serahin tugas itu ke lo. Jadi, lo yang persiapkan semua.”
“Loh kok jadi gue yang kena lagi sih? Yang nikah siapa, yang repot siapa. Nggak sekalian yang nikah gue aja Sky? Gimana?” Sean langsung mendapat tatapan tajam dari Sky.
“Bro, lo bantuin Sean ya. Kalau nggak, gue nggak mau beli mobil di tempat lo lagi,” kata Sky pada Gil.
“Yeee, gue kebagian juga kan! Lo si Se!”
“Apaan?!”
“Lo kan asistennya, wajar lha lo dapat kerjaan itu. Kok gue jadi kebawa-bawa?” Gil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Siapa suruh lo ada di sini. Siapa suruh lo jadi temennya dia. Mendingan gue masih dibayar, nah lo? Kasian deh!” Sean meninggalkan Gil yang wajahnya menampakkan kekesalan.
“Sky, gue sama Vinnie balik dulu ya. Bilang Grandpa, terima kasih buat makan malamnya. Gue tunggu undangannya ya,” Daniel menepuk bahu Sky, kemudian bersalaman.
Setelah Sean, Daniel dan Vinnie pulang, Sky pun berbicara pada Ivy.
“Love, aku antar kamu pulang ya … atau kamu mau nginep di sini?” tanya Sky yang penuh harap.
“Nggak, aku mau pulang aja.”
“Ya sudah kalau begitu, aku antar,” kata Sky.
“Bro, gue titip Grandpa dulu ya. Jagain dulu sampai gue balik,” lanjut Sky.
“Sialannn lo pada, bisanya ninggalin gue aja,” Gil pun menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, matanya menerawang ke langit-langit.
Ia teringat akan seorang gadis bernama Sera. Gadis itu adalah putri dari sahabat Mommy-nya. Ia sering bertemu dengannya dulu ketika ia sedang kuliah dan gadis itu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.
Gil sudah menganggap gadis itu sebagai adiknya. Kadangkala ia diminta oleh Mom Gemma untuk menjemputnya di sekolah karena Mom Gemma dan Aunty Olive, Mom dari Sera, sedang berkumpul bersama.
Namun, beberapa tahun lalu Aunty Olive menikah kembali. Sejak saat itu, tiba-tiba saja komunikasi di antara Mom Gemma dan Aunty Olive terputus. Gil tak berani bertanya pada Mom Gemma, karena sepertinya Mom Gemma sangat sensitif ketika mendengar nama Aunty Olive disebut.
**
Sky mengantarkan Ivy sampai ke depan pintu rumahnya.
“Istirahatlah, Love,” kata Sky sambil mengecul punggung tangan Ivy.
“Ya. Kamu pulanglah, Grandpa pasti menunggumu. Aku akan segera masuk.”
Ivy melihat ke arah Sky. Dengan malu-mau dan sedikit berjinjit, ia mengecup pipi Sky dan ingin segera berlalu untuk masuk ke dalam rumah.
Namun, Sky langsung meraih pergelangan tangan Ivy dan membawanya ke dalam pelukan, “kok cuma di sini? Sebelah sini juga,” Sky menunjuk bibirnya, membuat wajah Ivy menjadi merah karena malu. Ia langsung melepaskan diri dari pelukan Sky dan mencoba untuk masuk ke dalam rumahnya.
Sky berjalan cepat menghampiri Ivy. Ia memutar tubuh Ivy hingga tak ada jarak di tubuh mereka. Mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. Sky pun mendekatkan wajahnya ke wajah Ivy dan …
Cuppp
Ia mulai mencium bibir Ivy dengan lembut. Sky meraih tengkuk Ivy dan kemudian memperdalam ciumannya, hingga semakin lama semakin panas dan bergairrah.
Mereka pun segera menghentikannya karena sama-sama kehabisan oksigen. Sky menempelkan keningnya di kening Ivy, dengan nafas yang masih sedikit tersengal.
“Sebaiknya kamu pulang, Sky. Sudah malam,” kata Ivy.
“Hmm … sebaiknya aku pulang sekarang. Aku takut jika aku terlalu lama di sini, maka akan terjadi lebih dari yang tadi.”
Sky kembali mengecup bibir Ivy kemudian terakhir mengecup keningnya, “Aku pulang dulu. I love you.”
**
Sky yang baru sampai kembali di kediamannya, memdapati Gil yang tengah rebahan di atas sofa sambil menutupi matanya dengan sebelah lengannya.
“Bro,” panggil Sky.
“Bro!” Sekali lagi Sky memanggil Gil, tapi sahabatnya itu hanya diam saja.
Sky menggoyangkan sedikit tubuh Gil dan ketika ia melihat pergerakan, ia pun berkata, “Lo kaau mau tidur di kamar gih. Jangan di sini, ntar pinggang lo encok lagi.”
“Lo udah balik, Sky?” Gil bangkit dari tidurnya dan bersandar di sofa.
“Lo tidur di kamar gih,” kata Sky.
“Gue balik aja.”
“Udah lo nginep sini aja. Lo ngantuk begitu, bahaya kalau lo nyetir. Lo balik besok aja.”
Gil pada akhirnya menyetujui permintaan Sky. Ia pun tidur di kamar tidur tamu seperti biasanya. Saat ia terduduk di sofa, tiba-tiba saja ia memikirkan Sera. Keluarga mereka hilang seperti ditelan bumi dan komunikasi terputus.
Gil sebenarnya ingin mencari keberadaan mereka agar ia bisa kembali melihat Mom Gemma bahagia karena Aunty Olive adalah sahabat Mommy-nya, bahkan sudah seperti saudara. Namun, ia tak punya petunjuk apapun untuk memulai.
**
Mempersiapkan pernikahan Sky dengan Ivy dalam waktu 1 bulan, benar-benar menguras tenaga dan sangat amat melelahkan bagi Sean.
Ia harus mondar-mandir ke sana ke sini, sementara Sky hanya tinggal melakukan fitting pakaian dan foto pre-wedding. Belum lagi pekerjaan di Perusahaan Robert yang Sean yakini sudah sangat amat menumpuk.
Sean menghempaskan tubuhnya di atas sofa di dalam ruang kerja Sky, “Sky, gue cape gila. Lo yang mau nikah, kenapa jadi gue yang lelah hayati gini.”
“Kan lo kerja sama gue, Se,” jawab Sky dengan enteng.
“Tapi ini bukan kerja, tapi penyiksaan!” teriak Sean.
“Tapi lo kan di gaji Se.”
“Lo bisa bayangin nggak? Lo belum punya pacar, tapi mesti nyiapin nikahan. Sakitnya tuh di sini, di sini, sama di sini,” sambil menunjuk ke arah kepala, hati, dan perutnya.
“Apa hubungannya sama perut lo?”
🌹🌹🌹