
1 bulan berlalu,
Persiapan pernikahan antara Daniel Ocean Lewis dengan Vinnie Martin telah rampung. Acara pernikahan tersebut akan diadakan 1 minggu lagi.
Ivy menerima undangan pernikahan pasangan tersebut. Ia langsung mendapatkannya dari tangan Daniel. Daniel sengaja melakukannya hanya sebagai alasan agar ia bisa bertemu dengan Ivy. Namun sebenarnya, tangannya bergetar saat memberikan undangan tersebut.
Saat ini, Ivy hanya menganggap hubungan mereka sebatas teman, sahabat, karena mereka mengenal satu sama lain dengan baik. Ivy juga tak ingin kehilangan Daniel sebagai seorang sahabat, ia ingin menjalin hubungan yang baik.
Tak ada lagi kesedihan di wajah Ivy. Awal-awal ia memang suka merasa sedih dan sendiri. Ia selalu melamun saat malam hari. Ia benar-benar kehilangan semua perhatian dari Daniel. Bahkan ponselnya yang biasanya berbunyi pesan singkat yang masuk berkali-kali setiap hari untuk menanyakan keadaannya, kini terasa begitu senyap.
Perlahan namun pasti, Ivy bisa menerima semuanya. Tak ada lagi raut kesedihan di wajahnya. Ini adalah saatnya ia memulai kehidupan yang baru. Meskipun ia sulit untuk melupakan Daniel, namun ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tak akan pernah menjadi orang ketiga dalam pernikahan siapapun.
Ivy menjalani semua aktivitasnya seperti biasa. Kini ia lebih meluangkan waktunya dan mencurahkan semua perhatiannya kepada Dad Arthur dan juga kepada pasien-pasiennya. Tak mudah, namun ia yakin ia akan bisa melewati semuanya.
**
2 hari sebelum pernikahan antara Daniel dan Vinnie, keduanya bertemu dan menandatangani sebuah perjanjian pernikahan.
Setelah membaca isi dari perjanjian itu, tanpa ragu Vinnie langsung menandatanganinya. Ia bahkan tak terlalu banyak bicara di depan Daniel. Daniel sendiri merasa heran karena Vinnie sama sekali tak menambahkan ataupun mengurangi isi perjanjian tersebut.
“Aku permisi dulu,” pamit Vinnie. Ia langsung keluar dari cafe tempat pertemuan mereka dan masuk ke dalam mobilnya.
Ia ingin pergi ke rumah sakit, bukan untuk memeriksakam dirinya ataupun menjenguk seseorang. Hari ini, ia hanya ingin melihat kekasih hatinya dari kejauhan.
Vinnie memasuki lobby rumah sakit dan langsung menuju ke area dokter penyakit jantung. Kekasih hatinya, Elliot, kini sudah berhenti dari pekerjaannya di cafe. Ia sudah menyelesaikan pendidikannya dan bekerja sebagai seorang dokter spesialis jantung.
Dari kejauhan, Vinnie melihat setiap aktivitas yang dilakukan oleh Elliot. Ia ingin mendekat, ingin berbicara, bahkan ia ingin memeluk kekasihnya itu. Namun, ancaman dari Dad Davis lagi-lagi membuatnya mengurungkan niat. Ia tak ingin Elliot kehilangan pekerjaannya dan mungkin akan kesulitan mencari pekerjaan ke depannya nanti.
Aku bahagia jika melihatmu bahagia. Maaf. Bukan aku tidak memperjuangkan hubungan kita, tapi akan banyak yang tersakiti jika aku terus bertahan dengan egoku. Mungkin ini lebih baik. Aku berharap kamu akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku, yang akan selalu berjuang untukmu. - Vinnie memutar tubuhnya setelah ia melihat Elliot masuk ke dalam ruangan pasien.
Ia tak bisa berlama-lama melihat Elliot karena ia tak ingin ada yang memperhatikannya dan melaporkannya kepada Dad Davis. Rumah Sakit ini adalah milik Martin Coorp dan termasuk dalam salah satu rumah sakit besar di Kita New York.
Dengan langkah gontai, Vinnie meninggalkan rumah sakit. Daniel yang baru saja akan mengunjungi adiknya, berpapasan dengan Vinnie. Namun wanita itu sama sekali tak mempedulikannya, seakan ia sedang berada di dalam dunianya sendiri. Daniel tak peduli, ia segera masuk untuk melihat keadaan Daisy.
**
Dengan mengenakan dress selutut berwarna peach dengan bagian brukat di bagian atas, dan satin polos di bagian bawah dengan warna senada, membuat penampilan Ivy terlihat sederhana namun tetap cantik dan anggun. Sebuah pita berwarna putih di bagian pinggang juga menambah nilai pada penampilannya.
Rambut lurusnya ia biarkan tergerai dengan memberikan beberapa gulungan ikal di bagian bawah, membuatnya semakin terlihat cantik dan dewasa. Ivy pergi ke acara resepsi tersebut diantar oleh Dad Arthur.
“Sayang, nanti kalau sudah mau pulang, hubungi Dad saja ya. Dad akan menjemputmu, kamu jangan pulang sendirian,” kata Dad Arthur mengingatkan.
“Iya Dad, Aku akan menghubungi Dad nanti.”
Ivy turun dari mobil. Sepatu heels dengan warna yang senada dengan gaunnya kini telah menyentuh aspal. Ia berjalan menuju ballroom tempat di mana acara pernikahan tersebut diadakan. Ivy berusaha bersikap biasa, tanpa ada kecanggungan. Ia tak ingin Daniel merasa semakin berat dengan pernikahan ini.
Sejujurnya, Daniel masih sering menghubunginya. Hanya saja Ivy berusaha untuk mengurangi interaksinya. Meskipun ia masih menyayangi pria itu, tapi mungkin pria itu bukanlah untuknya.
Ivy berjalan di sebuah koridor yang sudah dibentangi oleh karpet. Di bagian kanan dan kiri terdapat tiang balok berwarna putih yang berukuran setinggi dada, dengan buket bunga mawar di atasnya. selain pencahayaan dibuat sedikit temaram, untuk menambah kesan elegan dan romantis.
Sebuah ballroom yang sangat mewah menyambut kedatangan Ivy di sana. Kedua mempelai adalah putra dan putri dari pengusaha yang cukup berpengaruh di kota New York, bahkan di negara ini, tentu saja acara pernikahan mereka akan dilangsungkan secara mewah dan begitu istimewa.
Para tamu sudah memadati ballroom. Terlihat para petinggi perusahaan, pengusaha, bahkan banyak pejabat yang diundang.
Prosesi resepsi dimulai. Semua tamu melihat ke arah kedua mempelai dan mengambil gambar keduanya. Keduanya memang tersenyum, tapi Ivy bisa melihat tak ada kebahagiaan pada mata keduanya.
Ivy sengaja berdiri agak jauh karena ia tak ingin Daniel melihatnya. Biarkan semua acara berjalan dengan lancar dan ia akan mengucapkan selamat nanti.
Dari kejauhan, Ivy tersenyum melihat keduanya dan berharap kebahagiaan akan datang pada Daniel dan juga Vinnie. Bagi Ivy, Vinnie adalah wanita yang baik, sangat pas jika bersanding dengan seorang Daniel Ocean Lewis.
Sementara itu, sedari tadi sepasang mata terus melihat dan memperhatikan keberadaan Ivy. Tatapan itu seakan tak mau lepas dan terus terpaku.
Setelah semua prosesi selesai, para tamu undangan diperbolehkan untuk naik ke atas panggung secara bergiliran untuk memberikan selamat.
Ivy berjalan ke arah panggung saat para tamu sudah mulai berkurang yang memberikan selamat. Mata Daniel yang menangkap sosok Ivy, langsung berbinar namun juga memancarkan kesedihan yang amat sangat. Seharusnya ia berdiri di atas pelaminan bersama wanita yang ia cintai, bukan wanita hasil perjodohan.
Ivy berdiri di depan Daniel dan tersenyum. Ia menatap manik mata Daniel kemudian meraih tangan pria itu, “Berbahagialah, Kak. Vinnie adalah wanita yang baik. Kakak harus menjaga dan melindunginya, jangan pernah menyakitinya.”
🌹🌹🌹