
“Vy, menurut lo, Sky cocok nggak sama Elena?” tanya Gil.
Ivy melihat ke arah Gil, kemudian berganti melihat ke arah Sky, kemudian menautkan kedua alisnya.
“Cocok atau nggak-nya itu kan tergantung, Kak. Mereka harus menjalani dulu. Seiring berjalannya waktu, baru nanti kelihatan cocok atau nggak, dan itu biasanya hanya bisa dirasakan oleh pasangan itu,” jawab Ivy dengan bijak.
“Jadi kamu setuju kalau aku tunangan dan nikah sama wanita itu?” tanya Sky tiba-tiba, membuat Gil dan Sean sedikit kaget.
Ivy tersenyum, sambil menyembunyikan rasa sakit hatinya, “kalau Kak Sky suka, kenapa aku harus nggak setuju.”
Ivy kemudian mengeluarkan selembar uang untuk membayar makanannya dan meletakkan uang tersebut di atas meja. Ia pun pamit kepada ketiga pria itu.
Kelelahan yang mendera tubuhnya karena semalaman dia mendapat tugas jaga, kemudian ada kecelakaan yang membuat banyak pasien yang harus ditangani, ditambah dengan kabar bahwa Sky akan dijodohkan, membuat tubuhnya semakin lelah saja, belum lagi pikirannya.
Mengapa ketika ia sudah mencoba membuka hati untuk orang lain, ia harus kembali terhimpit dengan yang namanya perjodohan, sungguh miris.
Ivy langsung memanggil taksi yang kebetulan lewat di depan cafe, menaikinya dan melaju pulang ke apartemen.
Sky POV
Apa dia sama sekali tidak memiliki perasaan padaku? Melihat dirinya duduk di depanku saat ini, jujur membuatku ingin sekali memeluknya, apalagi setelah aku tahu bahwa ia tak memiliki hubungan spesial dengan Daniel.
Sudah lama kusimpan perasaan ini, berharap kamu akan menyadarinya. Saat Sean dan Gil mulai menanyakan tentang perjodohanku, aku sangat berharap kamu kaget dan mulai banyak bertanya. Namun, ternyata tidak. Kurasa di sini hanya aku yang berharap lebih pada hubungan kita.
Kata-katamy bahwa kamu tidak keberatan dengan perjodohanku, jujur membuatku sakit. Apakah ini tanda bahwa aku harus segera mengakhiri perasaanku dan menutup rapat-rapat ruang hatiku?
Tapi apakah aku akan sanggup? Vy, maukah kamu memberiku kesempatan?
Melihat kepergianmu, aku seperti merasa akan kehilangan dirimu selamanya.
**
“Halooo Grandpa!!” teriak Gil saat melihat Grandpa Luther sedang duduk di sofa kamar rawatnya sambil membaca majalah.
“Halooo cucu Grandpa yang tampan-tampan,” Grandpa Luther membetulkan letak kacamatanya.
“Gimana Grandpa, sudah baikan?” tanya Sean.
“Gimana ya? Grandpa baru sembuh kalau cucu Grandpa yang satu itu mau menikah,” kata Grandpa Luther.
“Lha si Grandpa, udah tahu cucunya model begitu, untuk menikah mah nggak akan bisa diharapkan,” kata Sean sambil mencari tempat di sebelah Grandpa Luther.
Sky ingin memukul Sean yang asal bicara. Ia akan menikah asalkan dengan wanita yang ia cintai.
“Sekarang yang penting Grandpa sembuh dulu. Aku bisa mencari pasangan hidup sendiri. Lagipula bukankah Grandpa sudah lihat sendiri seperti apa Elena Brandon itu,” kata Sky sambil merebahkan tubuhnya di sebuah sofa single.
“Ya kalau kamu nggak mau sama Elena, nantu akan Grandpa carikan lagi, sampai kamu mau.”
“Grandpa!!” teriak Sky.
**
Sky berlari menuju parkiran. Setelah ia pikirkan masak-masak, sebaiknya ia mengatakan bagaimana perasaannya pada Ivy.
Jika memang Ivy juga merasakan perasaan yang sama, ia akan terus memperjuangkannya. Namun jika tidak, mungkin ia harus mengubur perasaannya dalam-dalam dan mengikuti keinginan Grandpa Luther.
Setelah sampai di lobby, Sky menekan nomor ponsel Ivy dan berharap wanita itu segera mengangkat dan menjawab panggilannya.
“Halo.”
“Vy, turun. Aku ada di bawah,” kata Sky.
“Ada apa, Kak?” tanya Ivy, karena ia mendengar Sky seperti terburu-buru.
“Kamu turun dulu. Ada yang perlu aku katakan.”
Sambungan ponsel pun terputus. Sky menunggu Ivy di sofa lobby sambil sesekali meremas kedua tangannya. Masih sama, seperti ini juga perasaannya dulu saat akan menyatakan rasa sukanya pada Ivy di Sekolah Menengah Atas. Hanya saja saat ini, ia merasa jauh lebih yakin dan sungguh-sungguh dengan perasaannya.
Tak pernah ia berbohong dalam mengatakan perasaannya, hanya saja ia tak ingin terlihat bucin, karena ia dikenal sebagai cowo playboy saat masih sekolah dulu.
Sky melihat Ivy keluar dari lift, ia pun langsung berdiri, “ada apa, Kak? Apa ada sesuatu yang penting?”
“Ya, ini penting. Penting untuk masa depanku.”
Ivy yang masih tidak mengerti arah pembicaraan Sky pun hanya mengikuti pria yang kini menggenggam tangannya menuju taman apartemen itu.
Ntah sejak kapan aku menyukai genggaman tangan ini. Tangan yang begitu hangat hingga bisa kurasakan di dalam hatiku. - batin Ivy.
Mereka duduk di sebuah batu berbentuk kotak yang bagian tengahnya biasa ditanami tanaman yang tak terlalu tinggi, sering disebut planter.
“Apa yang mau kakak bicarakan?” tanya Ivy membuka pembicaraan.
Sky duduk menghadap ke arah Ivy, “Vy, apa kamu masih suka sama Daniel?”
Pertanyaan Sky yang seperti itu, tak ayal membuat Ivy tersenyum tipis.
“Masih lha Kak,” kata Ivy, yang seketika membuat Sky memejamkan matanya menahan perasaan aneh di hatinya.
“Daniel itu sudah punya istri, Vy. Apa kamu mau menjadi orang ketiga di antara mereka? Di dalam pernikahan mereka?” Suara Sky kini semakin meninggi.
Ivy yang melihat reaksi Sky pun tertawa.
“Apa yang kamu tertawakan? Apa semua yang kukatakan benar adanya?”
“Aku tanya, siapa yang nggak suka sama Kak Daniel! Kak Daniel itu baik Kak. Dengan kebaikannya yang seperti itu, sudah dipastikan semua orang akan suka padanya,” Ivy berkata dengan lembut, membuat Sky semakin cemburu. Rasanya ia ingin mengacak-acak wajah Daniel jika pria itu ada di sebelahnya saat ini.
“Tapi … hanya itu. Ya, hanya perasaan suka yang sekarang bisa kurasakan. Mungkin dulu aku sangat menyayanginya, bahkan mencintainya, tapi tak mungkin aku lakukan itu sekarang. Akan berapa banyak perasaan yang tersakiti? Sementara aku tak pernah diajarkan untuk menyakiti orang lain.”
Sky melihat ke arah Ivy, menatap lekat ke arah manik mata Ivy yang berwarna kecoklatan. Ia pun langsung menggenggam kedua tangan Ivy dan menarik nafas untuk mengumpulkan keberaniannya.
“Vy, aku suka sama kamu. Aku sangat menyayangimu. Maukah kamu mengisi ruang di hatiku?”
Ivy yang mendengar perkataan Sky merasa sangat bahagia. Ternyata, perasaannya saat ini pun tidak bertepuk sebelah tangan, tapi ….
Ivy terdiam sambil memikirkan banyak hal. Apakah ia akan membuat dirinya sendiri jatuh ke dalam lubang yang sama? Bahkan kali ini ia tahu dengan sangat jelas bahwa pria di hadapannya ini sudah dijodohkan. Jika ia mengambil langkah sesuai keinginan hatinya, bukankah ia akan tersakiti kembali?
“Lalu, bagaimana dengan perjodohan Kakak?”
🌹🌹🌹