
“Ivy!” teriak Vinnie sambil tertawa, karena tak mungkin ia yang sedang hamil besar itu disuruh berenang di sungai. Bisa-bisa ikan-ikan yang berada di sungai menyangka mereka mendapatkan makanan berupa buntelan roti.
“Vy, ada yang mau bicara denganmu,” Vinnie bergeser dan kini Daniel duduk di sebelahnya. Layar ponsel berubah, yang awalnya menampilkan wajah Vinnie, kini berubah menjadi wajah Daniel.
“Kak Daniel!” teriak Ivy sambil mengusap wajahnya yang terkena cipratan air.
“Kamu di mana, Vy?”
“Aku? Aku di sini kak, diantara gunung dan lembah,” jawab Ivy sambil tertawa.
“Kamu kenapa pergi nggak bilang-bilang?” tanya Daniel. Vinnie yang mendengarnya akhirnya mengerti, ada sesuatu yang sedang terjadi dengan Ivy, wanita mantan kekasih suaminya yang kini menjadi sahabatnya.
“Maaf, Kak. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Kalau nanti sudah selesai, aku akan kembali. Kennn!!! Jangan siram kakak terus,” kata Ivy sambil sesekali berbicara dengan anak-anak di sekitarnya.
“Apa ini karena Sky?” tanya Daniel dengan tegas.
“Sudah, Kak. Tidak perlu dibahas lagi dan aku minta kakak tidak menyalahkannya. Sebenarnya itu semua adalah kesalahanku. Aku yang seharusnya tidak memulai, padahal aku sudah tahu akan seperti apa akhirnya. Aku titip aalam buat semuanya ya kak. Terus, kalau ponakanku sudah lahir, jangan lupa kirimi aku fotonya.”
Daniel hanya berdehem. Ia mengerti bagaimana perasaan Ivy. Sekian tahun Daniel bersamanya, ia tahu persis apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh wanita itu.
“Baiklah, Kak. Aku tutup teleponnya dulu ya. Salam buat Vinnie,” Ivy pun mematikan sambungan ponselnya.
Daniel mengembalikan ponsel tersebut pada Vinnie.
“Kamu nggak apa-apa, sayang?” tanya Vinnie sedikit kuatir.
“Aku nggak apa-apa, hanya saja … ah sudahlah. Sebaiknya kamu istirahat dulu, sayang. Ada sesuatu yang harus kulakukan,” Daniel mengecup kening Vinnie, kemudian turun ke mata, dan terkhir ke bibir lembut istrinya.
Flashback off
**
Gil yang mendengar tentang kejadian di ruangan Sky dari Sean, antara Daniel dengan Sky, langsung mendatangi gedung RB Coorp.
Saat ini mereka bertiga, Sky, Sean, dan Gil, tengah duduk di sofa, namun masih saling diam antara satu sama lain.
“Lo yakin masih mau ngelakuin semua ini, Sky?” tanya Gil untuk memecah keheningan dan kebisuan di antara mereka.
Sky menghela nafasnya, “Gue nggak mau, tapi lo pada tahu kam apa yang akan terjadi sama Grandpa kalau gue menolak. Lo pada juga tahu kalau gue nggak punya siapa-siapa lagi selain Grandpa. Daddy gue aja nggak pernah anggap gue ada di dunia ini.
“Tapi lo bakalan ngancurin masa depan lo. Apa lo bisa hidup sama wanita itu?” tanya Gil sekali lagi.
“Hidup gue udah hancur sejak dia pergi. Gue udah nyoba cari dia, tapi gue nggak nemuin dia di manapun. Apa mungkin emang jalan hidup gue harus kayak begini?” Kata Sky sambil meletakkan lengannya untuk menutupi kedua matanya. Ia juga merebahkan tubuhnya di atas sofa.
“Tapi tadi … bukannya Daniel bilang kalau dia nggak bakalan kasih tahu lo di mana Ivy. Berarti … dia tahu donk,” ujar Sean.
“Di mana?” Sky langsung duduk tegap dan menatap ke arah Sean.
“Lha, lo nggak denger tadi pas dia ngomong?”
Sky hanya menggelengkan kepalanya. Sesaat setelah Daniel masuk dan memukul wajahnya, ia sudah tidak fokus lagi dengan apa yang dikatakan oleh Daniel. Kepalanya sudah sangat pusing dan rasanya tidak mampu untuk berpikir.”
“Daniel ke sini tadi bilang apa aja, Se?” tanya Gil.
“Tadi dia datang buru-buru banget dan langsung ….,” perkataan Sean terputus ketika Sky menimpali.
“Tadi dia cuma bilang kalau dia nggak bakalan mau kasih tahu di mana Ivy dan dia akan buat Ivy semakin jauh dari lo,” kata Sean sambil melihat ke arah Sky.
“Tadi dia ngomong gitu?” tanya Sky.
“Iya,” jawab Sean sambil menganggukkan kepalanya.
Sky langsung bangkit dari duduknya dan tanpa mengambil jas-nya, ia menyambar kunci mobil san pergi berlari keluar dari ruang kerjanya.
“Kayaknya gue bakalan kena kerjaan banyak lagi nih. Lembur lagi …. Lembur lagi …. Kapan gue bisa dapat cewe kalau gue ditumpukin kerjaan melulu,” kata Sean dengan lesu.
“Sabar ya bro, mungkin emang udah nasib lo,” Gil menepuk bahu Sean, seakan menguatkan.
“Sialann lo!! Kayak lo bukan jomblo aja!” kata Sean.
“Ya kalau gitu kita sama, Bro. Sehati tapi gue juga belum berencana menikah.”
Mereka berdua saling menatap dan kemudian menertawakan diri mereka sendiri.
**
Setelah menyetir selama 30 menit, akhirnya kini ia telah sampai. Sky berdiri di depan kediaman Keluarga Lewis. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Daniel saat sedang dalam perjalanan, akan tetapi Daniel sama sekali tidak merespon panggilannya.
Sky yang memang sudah dikenali oleh salah seorang security kediaman Lewis, dengan mudahnya masuk.
“Tuan Daniel baru saja sampai, Tuan. Silakan masuk.”
“Terima kasih,” kata Sky pada security tersebut.
Sky menaiki tangga menuju ke pintu utama kediaman Lewis. Ia berdiri di depan pintu, menatap ke arah Daniel yang tengah duduk di sofa sambul menyandarkan tubuhnya dan menengadahkan kepalanya sambil memejamkan mata.
“DANIEL OCEAN LEWIS!!”
Daniel yang mendengar suara Sky, dengan malas membuka kedua matanya.
“Apa?” Jawabnya dengan malas. Ia sudah sangat yakin kalau Sky akan mengikutinya sampai ke rumah setelah mendengar perkataannya tadi.
Sky langsung meraih kerah Daniel, “Cepat katakan di mana Ivy!”
“Apa gunanya gue kasih tahu lo. Apa lo bakal batalin pernikahan lo? Nggak kan? Jadi biarkanlah Ivy sendiri, lo nggak perlu ketemu dia dan ganggu dia lagi.”
“Apa yang nanti gue lakuin, itu urusan gue. Yang paling penting sekarang, gue harus tahu dia ada di mana,” kata Sky dengan geram.
“Gue nggak akan kasih tahu lo kalau nantinya lo cuka akan nambah rasa sakit ke dia aja. Ngerti nggak lo?!” Kini giliran Daniel yang menatap tajam ke arah Sky.
“Jangan bilang sama gue kalau sebenernya li masih suka sama Ivy dan lo berharap gue ngejauh dari dia. Iya?!”
“Eh sorry, meskipun memang gue pernah suka dan sayang banget sama Ivy, tapi gue nggak akan nyakitin dia untuk yang kedua kalinya. Dia akan lebih sakit hatu kalau gue sampai nyakitin Vinnie, ngerti nggak lo?! Kalrena itulah gue nggak akan mau sampai ada seorang pun yang nyakitin dia.”
Sky mengepalkan tangannya dan sudah melayangkan tangannya ke udara. Nakun, ia terpaksa menahan lajunya karena mendengar suara.
“Hentikan!!”
🌹🌹🌹