Only Love

Only Love
#32



Setelah hari di mana Vinnie menyerahkan map berisi surat perceraian mereka, ia tak pernah lagi berbicara dengan Daniel. Keduanya begitu dingin satu sama lain, bahkan mereka saling menghindar.


Sore hari, Vinnie memberanikan keluar dari kediaman Lewis. Ia pergi menuju ke rumah sakit di mana Elliot bekerja. Dari kejauhan, ia memperhatikan bagaimana aktivitas pria itu dan interaksinya dengan pasien.


Baru 10 menit ia memperhatikan Elliot, tiba-tiba ia melihat Mom Hilda datang dengan mendorong sebuah kursi roda di mana duduk Daisy di sana. Vinnie memang tidak mengetahui jadwal pemeriksaan rutin dari Daisy karena Daniel melarangnya untuk ikut campur dalam urusan keluarganya.


“Kak Elliot,” sapa Daisy pada Elliot yang sedang berdiri di meja administrasi.


“Daisy, kamu terlihat ceria sekali hari ini,” Elliot mengusap pucuk kepala Daisy, membuat senyum di wajah Daisy semakin terlihat begitu cerah.


“Aku senang sekali karena bisa bertemu Kak Elliot lagi,” jawab Daisy dengan jujur. Semenjak ia dirawat, Dokter Clark menugaskan Elliot untuk mengawasi bagaimana perkembangan kesehatan serta pemulihan dari Daisy. Elliot yang adalah dokter spesialis jantung tentu saja merasa senang karena mendapatkan kepercayaan dari Dokter Clark.


“Maafkan sikap Daisy ya, Dok,” kata Mom Hilda sambil tersenyum melihat kebahagiaan Daisy.


“Tidak apa-apa, Nyonya. Saya turut senang jika kebahagiaan Daisy bisa menjadi penyemangat agar ia cepat pulih,” kata Elliot, membuat Nyonya Hilda semakin mengagumi pria itu dan berharap pria itu bisa menjadi menantunya.


Elliot pun kemudian mengambil alih kursi roda Daisy dan mendorongnya menuju ke tempat di mana akan dilakukan pemeriksaan rutin. Wajah bahagia Daisy begitu terlihat dan bagaimana gadis itu terus memandangi Elliot, tak luput dari perhatian Vinnie.


Vinnie akhirnya pulang ke rumah setelah melihat Elliot dan memastikan bahwa mantan kekasihnya itu hidup dan bekerja dengan baik, tanpa gangguan dari Dad Davis.


**


Dengan berhati-hati, Ivy membersihkan luka di wajah Sky dan mengompresnya.


“Sakit, Kak?” tanya Ivy ketika melihat Sky sedikit meringis.


Sky menggelengkan kepalanya. Ia memperhatikan wajah Ivy, terutama manik matanya, yang belakangan ini sepertinya sering mengeluarkan air mata.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Sky.


Ivy menghentikan aktivitasnya sesaat dan terdiam. Ia bingung harus menjawab apa dan hanya menghela nafasnya pelan.


“Kalau aku mengatakan tidak apa-apa, apa kakak akan percaya?” Ivy bertanya balik pada Sky.


Sky menatap Ivy dan tentu saja menjawab dengan gelengan kepala. Sky melihat dari jauh saat Ivy ditarik oleh Daniel, hingga ia berinisiatif untuk mengikuti mereka.


“Boleh aku bertanya satu hal,” tanya Sky.


“Tentu saja.”


“Kenapa kamu menciumku?”


Ivy mengatur nafasnya, “Sebelumnya aku minta maaf Kak. Bukan maksudku untuk mempermainkan kakak atau membuat Kak Daniel membenci Kak Sky. Hanya saja aku hanya cara itu yang terlintas di dalam pikiranku agar Kak Daniel membenciku.”


“Maksud kamu?” Sky semakin bingung.


“Aku hanya ingin Kak Daniel tidak mengikutiku lagi. Kak Daniel sudah menikah dan menurutku Vinnie adalah wanita yang baik. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga dalam pernikahan Kak Daniel, meskipun aku masih memiliki rasa sayang padanya. Aku tak ingin menjadi perusak rumah tangga Kak Daniel.”


Sky duduk menghadap ke arah Ivy. Saat ini mereka berada di depan sebuah minimarket yang lokasinya tidak jauh dari apartemen.


“Aku yang seharusnya minta maaf. Dulu aku telah melakukan hal buruk padamu,” kata Sky.


“Tapi aku tahu kok kalau Kak Sky tidak berbuat macam-macam padaku. Tidak ada yang terjadi di antara kita berdua,” Sky menatap Ivy dengan heran.


“Aku hanya nggak tahu apa alasan yang membuat Kak Sky melakukan hal seperti itu. Apa yang telah kulakukan hingga Kak Sky begitu benci padaku,” kata Ivy lagi.


“Bu-bukan begitu, Vy. Sebenarnya a-aku …”


“Sudah Kak. Aku nggak perlu tahu juga apa alasannya. Aku juga minta maaf atas kejadian waktu itu, jadi kita anggap impas saja ya kak,” kata Ivy sambil tersenyum.


“Kamu mau pulang kan, Vy? Aku antar sekalian ya. Sudah malam,” kata Sky.


Ivy pun menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan Sky. Sesampainya di depan apartemen Ivy,


“Vy, kalau kamu butuh sesuatu atau butuh aku sebagai alat supaya Daniel menjauh darimu, kamu bisa menghubungiku. Aku akan siap membantumu,” kata Sky.


“Terima kasih, Kak. Aku berharap hal itu tak akan terjadi lagi,” Ivy pun pamit dan masuk ke dalam lobby apartemen, meninggalkan Sky yang masih melihatnya hingga ia memasuki lift.


**


Suara pintu apartemen terbuka,


“Dad …”


“Eh sayang, kamu sudah pulang?” tanya Dad Arthur.


“Iya Dad. Hari ini aku tidak ada jadwal operasi, jadi bisa cepat pulang,” jawab Ivy.


Dad Arthur duduk di sofa, melepaskan sedikit penat dan keletihannya. Seperti biasa, putrinya akan selalu menyediakan secangkir teh hangat untuknya. Ia menyukai wangi teh itu karena mengingatkannya kepada istrinya, wanita yang akan selalu ia cintai.


“Dad, aku sudah masak makanan kesukaan Dad. Apa Dad mau makan sekarang?” tanya Ivy.


“Boleh, Dad juga sudah sangat lapar karena wangi masakanmu sudah memenuhi apartemen ini,” kata Dad Arthur sambil tertawa.


Mereka berdua duduk dan makan bersama di meja makan. Mereka saling bercerita. Sudah lama mereka tidak mengobrol, hingga banyak sekali hal-hal yang ingin mereka ceritakan.


“Sayang, lusa Dad harus pergi. Kebetulan Dad harus menghadiri beberapa semunar pelatihan.”


“Di mana, Dad?” tanya Ivy.


“Di Florida,” jawab Dad Arthur.


“Kok jauh?” kata Ivy dengan nada memelas.


“Malah setelah itu ada jadwal lagi ke California dan Ontario.”


“Loh, bukankah Dad hanya standby di kantor pusat saja sekarang?” tanya Ivy ingin tahu.


“Iya, tapi seminar kali ini diselenggarakan oleh salah satu perusahaan besar, rekan kerja Tuan Roger. Jadi tidak enak rasanya jika Dad tidak ikut.”


“Berapa lama, Dad?”


“Dad kurang tahu pasti, mungkin sekitar 3 sampai 4 minggu,” jawab Dad Arthur.


“Wah lama sekali Dad. Aku sendirian donk,” Ivy mengerucutkan bibirnya, membuat Dad Arthur tertawa.


“Kamu seperti anak kecil saja yang takut ditinggal. Apa kamu mau ikut Dad berkeliling?” tanya Dad Arthur dengan nada seperti membujuk anak kecil.


“Mau sih, tai ada nggak ya yang mau gantiin aku di rumah sakit? Rasanya nggak ada …. Huu huuu huuu,” kata Ivy sambil bepura-pura menangis.


Dad Arthur hanya bisa tersenyum melihat tingkah Ivy yang dibuat-buat. Jujur ia merindukan masa-masa ketika putrinya masih kecil dan selalu ikut ke mana pun ia pergi. Mereka tak pernah terpisahkan.


Namun, kini putrinya sudah dewasa. Ia sudah memiliki pekerjaan dan tanggung jawab. Ia tersenyum saat melihat wajah putrinya.


Lihatlah putri kita, Kei. Betapa cantiknya ia. Kini ia sudah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa dan menjadi seorang dokter. Jika kamu berada di sini, kamu pasti akan sangat bangga padanya. - batin Dad Arthur.


🌹🌹🌹