Only Love

Only Love
#39



“Luther … tapi panggil Grandpa saja.”


“Grandpa sendirian saja di sini?” tanya Ivy.


“Tadi ada cucu, hanya saja dia harus pergi ke kantor secepatnya karena ada pekerjaan penting.”


“Grandpa sakit apa?”


“Biasa … penyakit orang tua,” Grandpa Luther tertawa kecil.


“Grandpa masih terlihat segar begini,” kata Ivy ikut tertawa.


“Iya, penyakit orang tua yang ingin melihat cucunya cepat menikah,” Grandpa Luther tertawa keras, membuat Ivy ikut tertawa.


Tiba-tiba angin bertiup lebih kencang. Ivy langsung bangkit dan mengajak Grandpa Luther untuk masuk ke dalam. Ivy sedikit bingung karena tak ada perawat yang membantu, padahal seusia Grandpa Luther seharusnya berada dalam pengawasan.


“Kita masuk ya Grandpa. Anginnya tidak baik untuk kita berlama-lama di sini.”


Grandpa Luther pun mengangguk dan dengan bantuan Ivy, ia kembali ke kamar.


“Grandpa, Ivy tinggal dulu ya. Grandpa istirahat dan jangan lupa makanannya dihabiskan supaya cepat sembuh,” pesan Ivy yang kemudian keluar meninggalkan Grandpa Luther.


Memang sepertinya aku harus segera mempunyai cucu perempuan. - batin Grandpa Luther.


**


Hampir setiap sore Ivy melihat Grandpa Luther berada di taman belakang rumah sakit. Kadang-kadang Ivy mendekat dan menyapa, kadang menemani, tapi kadang hanya melihat saja karena ia harus segera menemui pasien.


Banyak hal yang ia bicarakan dengan Grandpa Luther. Grandpa Luther bisa tertawa dengan lepas saat bersama dengan Ivy. Hal ini membuat Grandpa Luther malah semakin betah berada di rumah sakit karena ia memiliki teman untuk berbicara dan bercanda.


Keesokan harinya, Sky datang kembali mengunjungi Ivy di saat jam istirahat siang. Ia langsung menghampiri ruangan praktek Ivy.


Tokk tokk tokk


“Masuk,” jawab Ivy.


“Makan siang, Vy?” tanya Sky.


“Ayo!” Ivy menerima ajakan Sky. Ia meletakkan jas putihnya di sebuah gantungan kayu yang berada di sudut ruangannya. Ia sudah menganggap Sky sebagai teman. Kadang, Sky mengajak Gil dan juga Sean untuk sekedar minum kopi di cafe dekat rumah sakit.


Selain itu, Ivy sangat berterima kasih pada Sky karena berkat bantuannya, Dad dari Rey bisa mendapatkan perawatan yang lebih layak.


Flashback on


Drttt … drrttt …


Ivy mengangkat ponselnya yang terdengar bergetar di dalam laci mejanya.


“Halo.”


“Vy.”


“Ada apa, Rey?”


“Tolong Daddy aku Vy. Dari tadi ada beberapa perawat yang sepertinya mempersulit pengobatannya.”


“Aku ke sana sekarang. Kamu tunggu sebentar ya,” Ivy memutus sambungan ponselnya dan segera keluar dari ruangan. Ia menyusuri koridor rumah sakit dan menuju lift untuk pergi ke tempat di mana Dad Rey dirawat.


Sky yang saat itu baru saja selesai mengantarkan Grandpa Luther untuk menemui Dokter Frans yang telah mempersiapkan rencana rawat inap, tak sengaja melihat Ivy yang sedang berlari. Sky yang merasa penasaran akhirnya mengikuti.


Ivy sampai di ruang perawatan Daddy Rey.


“Rey, kenapa?” tanya Ivy.


“Vy, apa benar operasi untuk Dad diundur?”


“Begini Dokter Ivy. Berhubung ada beberapa pasien VVIP yang akan melakukan operasi, maka operasi pasien ini terpaksa diundur, menunggu jadwal yang baru.”


“Tapi bukankah sebelumnya sudah dijadwalkan?” tanya Ivy penasaran.


“Iya Dok, tapi atas perintah Dokter Harry, kami harus memundurkannya.”


Ivy mengeluarkan ponsel dari saku jas putihnya. Ia ingin berbicara secara langsung dengan Dokter Harry. Meskipun Ivy bisa dikatakan baru di rumah sakit itu jika dibandingkan dengan Dokter Harry, tapi Ivy tidak bisa diam saja melihat hal seperti ini.


Namun, sebelum Ivy sempat berbicara dengan Dokter Harry, Sky masuk ke dalam ruangan. Ia telah mendengar semua percakapan antara Ivy dengan perawat tadi.


“Kak Sky?!” Ivy seketika terperanjat melihat kedatangan Sky yang tiba-tiba.


“Kamu, segera panggil Dokter Harry ke sini,” perintah Sky pada perawat tersebut.


Perawat tersebut keluar dari ruangan untuk memanggil Dokter Harry sesuai perintah dari Sky. Mereka tahu bahwa Sky adalah pemimpin rumah sakit tempat di mana mereka bekerja, RB Hospital.


Ketika Dokter Harry datang, Sky langsung memerintahkannya untuk memindahkan Daddy Rey ke ruang VVIP dan memberikan perawatan yang terbaik. Segala biaya akan dibebaskan, mengingat RB Hospital juga bergerak dalam bidang kemanusiaan.


Sky tidak suka dengan cara kerja Dokter Harry di mana hanya mengutamakan para pasien VVIP. Ia memberikan peringatan kepada Dokter Harry dan juga kepada seluruh dokter di RB Hospital mengenai hal ini.


Rey sangat berterima kasih pada Sky atas segala bantuannya. Ia merasa sangat berhutang budi, begitu juga dengan Ivy yang tak pernah menyangka bahwa Sky akan berbuat seperti itu.


Flashback off


Sky dan Ivy menyusuri koridor rumah sakit menuju ke kantin rumah sakit. Hari ini ia tak bisa pergi terlalu lama karena jadwal prakteknya yang terbilang panjang. Di malam hari juga ia harus melakukan 1 operasi, jadi ia harus benar-benar mengatur waktunya dengan baik.


“Vy, aku ke toilet sebentar ya. Kamu boleh ke kantin terlebih dulu, nanti aku menyusul,” kata Sky ketika mereka sudah sampai di lantai dasar.


Ivy berjalan menuju ke arah kantin rumah sakit. Ia harus melewati bagian rawat jalan untuk anak-anak dan juga bagian obgyn / kandungan. Ia sedikit menyipitkan matanya saat melihat seseorang yang ia kenali.


Ia melihat Daniel dan juga Vinnie yang tengah berdiri di bagian pendaftaran. Vinnie yang sedang menoleh pun melihat Ivy. Sebuah senyuman mengembang di wajahnya dan langsung memanggil Ivy dengan melambaikan tangannya.


“Vy! Ivy!” panggil Vinnie.


Ivy yang sudah beberapa minggu tak bertemu dengan Vinnie tentu saja merasa senang. Ia langsung berjalan mendekati mereka dan tersenyum. Tak ada kecanggungan di antara mereka karena kini hubungan di antara mereka adalah murni persahabatan.


“Kamu sakit, Vin?” tanya Ivy dengan kuatir.


“Nggak kok Vy. Aku akan melakukan pemeriksaan kandungan,” bisik Vinnie.


Mata Ivy membulat karena ia mengerti maksud dari perkataan Vinnie, “Kamu hamil?”


Senyum di wajah Vinnie dan anggukan kepalanya membuat Ivy langsung memegang kedua tangan wanita yang kini menjadi sahabatnya. Ia langsung memeluk Vinnie dan mengucapkan selamat.


“Selamat ya! Aku turut berbahagia. Aku akan selalu mendoakanmu agar selalu sehat sampai hari kelahirannya nanti,” kata Ivy.


“Terima kasih ya Vy. Oya, aku ke toilet sebentar ya. Aku mau melakukan USG jadi harus ke toilet lalu minum.”


Kini, hanya ada Daniel dan Ivy berduaan saja. Mereka sudah mulai kembali terbiasa sebagai teman, bahkan Ivy bisa melihat ketulusan Daniel untuk Vinnie saat ini.


“Terima kasih ya Vy, kamu masih mau menjadi sahabatku dan juga Vinnie.”


“Tentu saja, Kak. Sudah lama sekali aku tak memiliki sahabat seperti Vinnie. Kita lupakan yang lalu dan memulai semuanya dengan hal yang baru.”


“Terima kasih ya Vy.”


“Ingat ya kak, jaga Vinnie dengan baik. Masa awal kehamilan sangat rentan dan wanita hamil memerlukan perhatian ekstra,” pesan Ivy.


Dari kejauhan, Sky memperhatikan keduanya yang tengah berbincang-bincang sambil sesekali tertawa. Daniel dan Ivy tak menyadari bahwa Sky sedang memperhatikan. Ia mengepalkan tangannya, kemudian berlalu dari sana.


🌹🌹