
Ivy sedang bersiap-siap pergi ke acara dinner untuk para Dokter Muda. Acara ini diadakan juga sebagai apresiasi bagi para dokter muda yang berprestasi dan memiliki kinerja yang luar biasa.
Dress berwarna hitam selurut, high heels berwarna senada dan sebuah tas tangan membuat penampilan Ivy terkesan anggun. Tak lupa ia menggunakan pin bunga tulip kesayangannya. Ia merasa tenang jika pin itu ada bersamanya ketika berada di acara-acara besar.
Ivy pergi menggunakan taksi, karena mobil yang digunakan oleh Dad Arthur, yang memang merupakan mobil milik perusahaan, sedang digunakan oleh staf yang lain yang untuk sementara waktu menggantikan pekerjaan Dad Arthur di kantor.
Ivy menaiki taksi membelah jalanan Kota New York yang selalu ramai setiap harinya. Saat ia tiba di lokasi berlangsungnya acara, Ivy segera turun setelah sebelumnya membayar biaya taksi tersebut.
Ia memasuki ruang acara sambil melihat ke sekeliling, berharap dapat segera bertemu dengan Dokter Frans untuk sekedar absen wajah kalau ia sudah hadir di sana. Jadi setelahnya ia bisa pulang dan tidak berlama-lama.
Acara berlangsung dengan sangat lancar. Ivy bertemu dengan Dokter Frans dan ia diperkenalkan dengan beberapa dokter muda lain. Setelahnya, seperti biasa Ivy akan mencari tempat di pojok ruangan yang tidak terlalu ramai. Selain ia tidak terlalu menyukai keramaian, ia juga tidak terlalu mengenal para tamu karena ia terbilang masih baru sebagai dokter di kota tersebut.
Saat Ivy mengangkat kepalanya dan melihat ke sekeliling, sambil memegang sebuah gelas minuman di tangannya, tiba-tiba matanya beradu pandang dengan Daniel yang melihat ke arahnya. Ia pun segera memalingkan wajahnya.
Aduhhh kenapa harus ketemu sih? Bukannya dia sedang dalam masa pemulihan? Kalau saja kemarin aku minta tolong sama Kak Sky, mungkin tidak seperti ini. Tapi, acara ini tidak ada hubungan dengannya. - batin Ivy.
Ivy bisa melihat dari sudut matanya kalau Daniel sedang berjalan menuju ke arahnya. Ia berusaha untuk memalingkan wajahnya dan ingin berjalan ke tempat lain.
“Vy, udah nungguin lama ya?”
Ivy yang kaget langsung mengangkat kepalanya ketika mendengar suara yang belakangan ini mengisi hari-harinya, “Kak Sky?”
Daniel yang melihatnya langsung menghentikan langkahnya. Ia tak jadi mendekati Ivy.
“Kamu tenang saja, Daniel sudah pergi,” kata Sky menenangkan Ivy.
Ivy menghela nafasnya pelan, “terima kasih, Kak. Hmm, tapi mengapa kakak ada di sini?”
“RB Hospital sedang membuat proyek perluasan rumah sakit. Kami bekerja sama dengan Lewis Group. Selain itu kami bisa berkenalan dengan dokter muda yang berprestasi, dan bisa mengajak mereka untuk turut mengembangkan kualitas rumah sakit,” kata Sky menjelaskan.
“Ouu … Kalau begitu aku pulang dulu ya kak. Aku sudah dari tadi soalnya.”
“Kamu pulang dengan siapa?” tanya Sky.
“Sendiri. Aku akan cari taksi di depan.”
“Kamu tunggu di sini sebentar. Ingat, jangan ke mana-mana,” Sky pun berlalu dari hadapan Ivy.
Tak lama, ia kembali menghampiri Ivy. Tanpa banyak bicara ia langsung meraih tangan Ivy dan menggenggamnya.
“Ayo pulang, aku akan mengantarmu,” kata Sky tanpa meminta persetujuan dari Ivy.
Ivy hanya bisa memandang tangan Sky yang terus menggenggamnya. Ntah mengapa Ivy merasakan genggaman tangan Sky yang begitu hangat, yang seakan membuatnya melupakan Daniel untuk sesaat.
**
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Vinnie ketika melihat wajah Daniel yang murung sepulangnya dari acara di Hotel Lewis.
“Aku tidak apa-apa, maafkan aku.”
Vinnie duduk di tepi tempat tidur, bersebelahan dengan Daniel. Ia memegang tangan Daniel dan tersenyum, “kamu ingin bertemu dengannya?”
Tanpa Daniel ketahui, Vinnie memperhatikan gerak-gerik Daniel di acara tadi. Ia tahu apa yang hendak dilakukan oleh Daniel.
“Aku takut dia tak ingin menemuiku lagi.”
“Aku akan membantumu,” kata Vinnie.
Flashback on
Setelah dokter yang memeriksa Daniel keluar, Daniel berusaha untuk menaikkan tempat tidurnya dengan menekan sebuah tombol.
“Biar kubantu,” ujar Vinnie.
“Terima kasih.”
Tak berselang lama, seorang perawat membawakan makanan untuk Daniel dan juga Vinnie, karena Vinnie masih berstatus pasien di sana.
“Makanlah,” kata Vinnie setelah ia selesai membuka plastik pembungkusnya dan menyiapkan semuanya. Daniel hanya menatap makanannya, kemudian melihat ke arah Vinnie.
“Mengapa kamu masih merawatku? Mengapa kamu masih berbaik hati menjagaku, setelah apa yang telah kulakukan?” tanya Daniel.
“Aku masih istrimu dan kamu masih suamiku,” jawab Vinnie.
“Maukah kamu memaafkanku?”
“Aku sudah memaafkanmu dan mungkin memang inilah jalan hidupku. Ayo cepat dimakan, nanti sudah terlanjur dingin,” kata Vinnie.
Daniel masih merasa ada yang kurang. Memang sejak awal Vinnie sudah mengatakan telah memaafkannya, tapi …
“Apa kamu ingin kita tetap bercerai?” tanya Daniel menatap lurus ke mata Vinnie.
“Sejak awal itu adalah keinginanmu. Aku hanya akan mengabulkan semuanya. Aku tak ingin membuat kamu tidak bahagia. Aku tahu bagaimana rasanya mencintai orang lain tapi terjebak dalam suatu pernikahan dengan seseorang yang tidak kamu kenal. Aku mengerti.”
“Maukah kamu mengabulkan permintaanku yang lainnya?” tanya Daniel.
“Kalau aku bisa, aku akan melakukannya. Tapi sebelum itu, makanlah dulu.”
“Tidak. Aku tidak akan makan sebelum kamu mengabulkan permintaanku.”
“Baiklah, katakan,” kata Vinnie.
“Batalkan perceraian kita. Aku ingin kita memulai semuanya dari awal. Aku berjanji akan belajar mengenalmu dan mencintaimu. Hanya saja aku perlu waktu untuk semua itu.”
“T-tapi …”
“Apa kamu ingin kembali padanya? Pada Dokter bernama Elliot itu?” tanya Daniel.
Deggg
Vinnie memejamkan matanya serta memutar tubuhnya agar Daniel tak bisa melihat wajahnya, “tidak. Aku tidak bisa kembali meskipun aku ingin. Aku hanya akan melukainya dan aku bukanlah Vinnie yang dulu. Aku sudah tidak pantas berada di sampingnya.”
Daniel sangat tahu dan sangat mengerti apa maksud dari perkataan Vinnie. Ia langsung beranjak dari tempat tidur, kemudian berjalan menghampiri Vinnie.
“Maafkan aku. Ini semua kesalahanku. Aku … menyakiti kalian berdua. Aku memang egois dan serakah. Aku tak bisa kehilangan Ivy karena dia adalah wanita pertama yang mengisi hatiku, tapi … aku juga tak suka jika dirimu memberi perhatian pada pria lain selain diriku.”
Daniel memeluk tubuh Vinnie dengan erat, meskipun Vinnie berusaha untuk melepaskan, “biarkan aku seperti ini sebentar. Aku merasa nyaman saat kamu berada dekat denganku seperti ini.”
“Sebaiknya kamu makan dulu,” ujar Vinnie. Ia tak ingin Daniel mendengar detak jantungnya yang begitu cepat saat suaminya itu tengah memeluknya.
“Apa kamu mau memulai semuanya dari awal bersamaku. Aku akan menceritakan semuanya tentangku dan Ivy padamu. Kamu pasti akan dengan mudah membantuku melupakannya.”
Flashback off