
Sky membuka seatbelt-nya dan menggerakkan tangannya untuk membuka seatbelt yang dikenakan Ivy. Ia meraih wajah Ivy dan menangkup dengan kedua tangannya.
“Kamu tahu, aku menyayangimu. Jangan pernah sekalipun kamu meragukanku. Tetaplah percaya padaku,” kata Sky.
Dan sekali lagi, Sky menempelkan bibirnya ke bibir Ivy. Ia melummatnya pelan, memainkan lidahnya hingga bibir Ivy terbuka, dan mulai mengabsen ke dalam rongga mulut Ivy.
Kehangatan seakan menjalar di tubuh Ivy, membuatnya perlahan membalas ciuman Sky. Sky memegang tengkuk Ivy dan menahannya agar ciuman mereka semakin dalam. Kini yang terdengar hanya suara cecapan dan deru nafas keduanya.
Mereka berdua akhirnya berhenti ketika hampir sama-sama kehabisan nafas. Ivy kembali membenarkan posisi duduknya dan kembali menggunakan seatbelt.
Mereka terdiam sejenak, menyesapi apa yang baru saja mereka lakukan. Sky tersenyum, sementara Ivy merasa malu karena begitu mudahnya ia menerima ciuman Sky, bahkan membalasnya. Ia pun memalingkan wajahnya dan melihat ke jendela.
**
Ivy yang tiba di depan pintu apartemennya, baru saja ingin membuka pintu apartemennya. Namun, dering ponsel menghentikan aktivitasnya.
“Halo, iya Tuan? Di mana? Baik, saya segera ke sana.”
Ivy langsung memutar tubuhnya dan turun ke bawah. Ia mencari taksi. Saat ini perasaannya sungguh tak karuan, begitu gelisah. Tanpa sadar, air mata mulai mengalir di pipinya.
Mendengar berita tentang Dad Arthur, keluarga satu-satunya yang ia miliki, mengalami kecelakaan, membuat pikiran Ivy menjadi tidak fokus.
Sesampainya di rumah sakit, ia langsung ke bagian resepsionis, menanyakan tentang pasien yang dibawa ke sana karena kecelakaan. Setelah perawat memberitahu dan mengarahkannya, Ivy langsungberlari menuju bagian gawat darurat untuk melihat kondisi Dad Arthur.
Di depan unit gawat darurat, Ivy melihat seorang perawat keluar dengan terburu-buru. Ia pun segera mendekat dan menahan perawat itu.
“Apa di dalam adalah pasien yang mengalami kecelakaan bernama Arthur Thomas?” tanya Ivy.
“Iya benar. Mohon maaf, kami harus secepatnya melakukan operasi karena ada pembekuan darah di kepala. Apa Miss adalah keluarga pasien?” Ivy pun menganggukkan kepalanya.
“Apa Miss setuju dengan operasi ini?”
“Lakukan yang terbaik untuk Daddy saya.”
“Baiklah, kalau begitu Miss bisa ke bagian administrasi untuk menyelesaikan semua surat-surat. Kami akan segera mempersiapkan operasinya.”
Ivy pun langsung menuju ke bagian administrasi untuk menyelesaikan segala prosedur.
“Daddd …,” gumam Ivy dengan bergetar sembari sesekali menghapus air matanya. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ruang tunggu operasi setelah menyelesaikan semua surat-surat.
Ketika kebahagiaan datang, kenapa selalu saja ada kesedihan yang mengikutinya? Apa aku memang tidak layak untuk bahagia? - batin Ivy.
**
Lampu tanda operasi masih menyala yang artinya operasi masih berlangsunh. Tak lama, pintu pun terbuka dan seorang perawat terlihat keluar sambil berlari dengan wajah panik. Hal itu semakin membuat perasaan Ivy kalut dan mulai berpikir yang tidak-tidak. Hatinya kini mulai gelisah.
Perawat itu kembali dengan membawa banyak kantong darah. Melihat hal itu, sebagai seorang dokter, Ivy tahu bahwa ada sesuatu yang telah terjadi di salam sana dan bukan pertanda yang baik.
Tidak! Tidak! Tidak boleh terjadi apa-apa dengan Dad. - batin Ivy. Ia terduduk di salah satu sofa yang ada di depan ruang operasi dengan kepala yang erus tertunduk.
Tak lama, lampu tanda operasi sudah padam. Dokter yang melakukan operasi pun keluar dan membuka penutup kepalanya. Ivy yang melihat langsung bangkit dan menghampiri. Dari tatapan dokter itu, Ivy biaa membaca apa yang telah terjadi, seketika ia jatuh terduduk sambil menangis.
“Daddd!!!” teriak Ivy tanpa suara tapi begitu menyayat hati.
**
Sky yang malam itu baru saja tiba di kediaman Robert, diharuskan langsung berangkat ke Brazil karena ada pertemuan penting dengan para pemegang saham. Hal ini menyangkut keberlangsungan perusahaan di negara tersebut, karena terindikasi adanya penyalahgunaan keuangan yang dilakukan oleh salah satu direksi di sana.
Sky mencoba menghubungi Ivy, namun ponsel milik wanita itu tidak aktif.
Mungkin ia sudah tidur. - batin Sky.
Ia pun mengirimkan pesan singkat yang memberitahukan bahwa ia akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Sementara Ivy, ia tak menyadari bahwa ponselnya telah kehabisan daya. Yang ada dalam pikirannya saat ini tak ada yang lain, hanya ada Dad Arthur.
Malam itu, Ivy mengurus semua hal yang berkaitan dengan meninggalnya Dad Arthur. Ia bahkan tak kembali ke apartemen sama sekali. Berita meninggalnya Dad Arthur pun sudah diketahui oleh perusahaan tempatnya bekerja, ntah dari mana mereka mendapatkannya.
Keesokan harinya, Ivy mendapatkan surat dari perusahaan di mana Dad Arthur bekerja. Surat itu diantar secara khusus oleh salah satu staf perusahaan ke rumah sakit. Ivy mengira bahwa itu adalah semacam surat tanda berbelasungkawa. Namun, matanya membulat ketika membacanya.
Perusahaan, tanpa mempedulikan bahwa Dad Arthur baru saja meninggal, langsung meminta Ivy untuk mengemasi barang-barang miliknya yang berada di dalam apartemen. Rencananya, apartemen tersebut akan segera dipindahtangankan kepada pegawai yang lain.
Apa mereka tidak memiliki sedikit saja empati padaku? Dad Arthur baru saja meninggal dan mereka langsung menarik semua fasilitasnya, bahkan waktu yang diberikan hanya 2 hari saja. - Ivy mulai kembali menitikkan air mata.
Ia segera menghapus air matanya. Ia meyakinkan diri bahwa ia tak akan memerlukan rasa kasihan ataupun memohon pada perusahaan di mana Dad Arthur pernah bekerja, agar mengijinkannya tinggal lebih lama di sana sambil mencari tempat yang baru.
Ivy membereskan semua barang-barang miliknya dan juga milik Dad Arthur. Tidak banyak yang akan ia bawa, karena sewaktu mereka masuk pun tak banyak barang yang mereka bawa. Sebagian barang-barang yang jarang ia gunakan, telah Ivy masukkan ke dalam beberapa dus.
Dengan menggunakan jasa ekspedisi, ia mengirimkan barang-barang tersebut ke Negara Jepang, tempat asal Mom Keiko.
Di Jepang, Dad Arthur dan Mom Keiko memiliki sebuah rumah. Meskipun tidak terlalu besar, namun itu adalah rumah pertama yang mereka miliki. Saat ini, rumah tersebut dititipkan pada tetangga mereka dan sesekali dibersihkan.
Ivy yang hanya diberi waktu 2 hari pun meminta izin kepada RB Hospital, terutama Dokter Frans selaku pimpinan, untuk mendapatkan cuti karena Dad Arthur meninggal.
Ia harus mengerjakan semuanya dengan cepat karena ia tak ingin perusahaan Tuan Roger mengusirnya dengan tidak hormat. Siang itu, setelah semua barang-barangnya diangkut oleh pihak ekspedisi, ia hanya bisa duduk di sofa sambil mengenang kebersamaannya dengan Dad Arthur.
🌹🌹🌹