
Kini Ivy berada di depan Vinnie. Ia bisa melihat wajah sahabatnya itu yang terlihat begitu sendu. Ya, saat ini mereka adalah sahabat. Sejak pertemuan pertama mereka, mereka selalu saling berkomunikasi. Namun bukan bertukar informasi mengenai Daniel, melainkan tentang diri mereka masing-masing. Ivy merasa nyaman dengan Vinnie, begitu pula sebaliknya.
Ivy menggenggam tangan Vinnie, “Berbahagialah Vin. Aku yakin kamu bisa mencintai Kak Daniel begitu pula sebaliknya. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian,” Ivy memeluk Vinnie dengan erat.
Pemandangan tersebut disaksikan oleh Daniel dengan heran, begitu pula dengan Sky, Gil, dan Sean. Mereka tak menyangka bahwa kedua wanita itu bisa berpelukan seperti layaknya sahabat.
Sky datang atas undangan dari kedua belah pihak, mewakili Grandpa Luther. Sementara Gil dan Sean diminta oleh Grandpa Luther untuk menemani Sky. Grandpa Luther sangat tahu bahwa Daniel adalah sahabat mereka.
Ia memang memiliki hati yang luar biasa. - batin Sky.
Ivy juga mengucapkan selamat kepada kedua orang tua Daniel. Keduanya tahu bagaimana hubungan Ivy dengan Daniel. Mereka pernah bertemu dengan Ivy untuk membicarakan hubungan dirinya dengan Daniel.
Flashback on
Sehari setelah pertemuan antara Daniel dan Ivy, Mom Hilda menghubungi dirinya. Ia mengajak Ivy untuk bertemu. Mom Hilda sengaja memesan sebuah ruangan VIP di sebuah resto agar tak dilihat oleh pengunjung lainnya.
“Selamat siang, Tuan, Nyonya,” salam Ivy saat melihat bahwa kedua orang tua Daniel meluangkan waktunya untuk menemui dirinya.
Dari bagaimana cara Ivy bersikap dan bertutur kata, Mom Hilda tahu mengapa Daniel bisa menyukai wanita di hadapannya ini.
“Aunty ke sini ingin memberitahukan bahwa Daniel akan segera menikah. Aunty mohon agar kamu tidak mengganggu pernikahan Daniel nantinya.”
Ivy tersenyum, meskipun hatinya sedikit sakit dengan berakhirnya hubungan antara dirinya dengan Daniel.
“Sudah tidak ada hubungan lagi antara diri saya dengan Kak Daniel, Nyonya. Mungkin Kak Daniel memang bukan jodoh saya.”
“Baiklah. Apa kamu ingin meminta sesuatu dari kami sebagai ganti rugi atas berakhirnya hubunganmu dengan Daniel?” tanya Dad Donald.
“Tidak Tuan, terima kasih. Dengan Tuan dan Nyonya meluangkan waktu untuk menemui saya saja, saya sudah berterima kasih karena itu berarti anda berdua masih menghargai saya sebagai seseorang yang memiliki hubungan dengan Kak Daniel. Saya berjanji tak akan ada hubungan apa-apa lagi dengan Kak Daniel, kecuali jika ia masih mau berteman dengan saya,” kata Ivy.
“Tak ada pertemanan antara pria dengan wanita, jadi akan lebih baik jika kamu bisa menjauh dari putraku,” kata Dad Donald.
“Baik Tuan, saya akan mengikuti keinginan anda. Tapi jika Kak Daniel mengundang saya ke acara pernikahannya, maka saya akan datang,” kata Ivy.
Setelah itu, ia segera pamit dari sana dan kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Flashback off
Mom Hilda melihat bagaimana Ivy memeluk Vinnie, tanpa adanya pertengkaran maupun caci maki seperti yang sering ia lihat dan dengar tentang para kekasih dari putra-putri sahabat-sahabat mereka.
“Maaf ya Vy. Terima kasih,” Aunty Hilda memeluk Ivy.
“Iya, Aunty. Selamat ya, semoga segera mendapatkan cucu,” Ivy mengerlingkan sebelah matanya pada Hilda yang akhirnya tersenyum.
Daniel melihat semua yang dilakukan oleh Ivy, bahkan ia masih terus menyimpan di dalam hati untuk membuat Ivy kembali padanya. Ia hanya akan menikahi Vinnie hingga semuanya selesai, hanya saja ia belum tahu berapa lama.
**
Ivy mengambil sedikit makanan yang disediakan dan menyantapnya di lokasi yang jauh dari panggung. Ia berdiri seorang diri sambil sesekali melihat ke sekeliling.
Sky yang sedari tadi memperhatikannya, mulai mendekatinya dan membawakan segelas minuman untuknya.
“Minum, Vy,” kata Sky.
“Terima kasih,” Ivy mengambil gelas itu dari tangan Sky dan meneguknya.
Tak ada keraguan dari dalam diri Ivy mengambil minuman dari tangan Sky, karena ia yakin Sky tidak akan mengulangi apa yang telah ia lakukan 10 tahun lalu.
Sementara Sky-lah yang justru merasa ragu. Ia takut Ivy menolak pemberiannya. Namun ketika melihat Ivy percaya padanya, Sky merasakan ada sedikit kelegaan di dadanya.
“Kak, aku permisi dulu ya,” panit Ivy pada Sky.
Namun tanpa disangka Gil dan Sean datang menghampiri Sky.
“Hai Vy, apa kabar?” tanya Gil.
“Baik, Kak. Aku permisi dulu ya,” pamit Ivy sekali pagi.
“Mau ke mana Vy? Buru-buru amat, lagian acaranya belum selesai,” kata Gil.
“Pulang, Kak. Lagian ngapain lama-lama, aku nggak kenal siapa-siapa,” kata Ivy dengan pelan.
Gil tertawa, “Kamu lucy Vy, trus kamu anggap kita bertiga ini siapa?”
Ivy tersenyum. Memang ia mengenal ketiganya, namun hubungan mereka tidak dekat, tidak sedekat dirinya dengan Daniel.
“Tunggu sebentar ya,” Gil langsung berlari ke arah panggung. Ia membisikkan sesuatu pada Daniel dan Daniel pun menganggukkan kepalanya.
Tak lama, MC acara memanggil mereka untuk naik ke atas panggung. Mereka akan melakukan foto bersama, sesuatu yang sudah lama tidak mereka lakukan.
Ivy berdiri di samping Vinnie diikuti oleh Sky, sementara Gil dan Sean berdiri di samping Daniel. Setelah selesai, Ivy bersalaman kembali sekaligus pamit.
“Vy, aku antar ya,” kata Sky.
“Terima kasih, Kak. Nanti Dad yang akan menjemputku,” Ivy terlihat mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam tas miliknya.
“Ini sudah malam, Vy. Kasihan Uncle kalau harus keluar untuk menjemputmu. Aku yang antar saja ya.”
Ivy mulai berpikir bahwa hal itu ada benarnya, tapi ia juga tak ingin merepotkan Sky.
Apa aku naik taksi saja ya? - batin Ivy.
“Udah, jangan berpikir untuk naik taksi. Ini sudah malam, tidak aman untukmu pulang sendirian,” kata Sky.
Kok dia bisa baca pikiran aku sih. - pikir Ivy.
Akhirnya Ivy mengiyakan keinginan Sky. Mereka pun berjalan menuju ke arah parkiran, tempat mobil Sky berada.
Di dalam mobil,
“Kamu nggak merasa sedih, Vy?” tanya Sky untuk memecah keheningan di antara mereka. Namun belum sampai 1 detik ia mengucapkan itu, ia merutuki dirinya sendiri yang merasa telah salah mengajukan pertanyaan. Namun apa boleh buat, pertanyaan itu sudah keluar dari bibirnya.
Ivy melihat ke arah Sky, kemudian membuang pandangannya ke arah jendela.
“Sedih, tapi apa kalau aku nangis-nangis di depan mereka, trus mereka akan ngebatalin acaranya? rasanya nggak, yang ada malah nanti aku yang malu,” kata Ivy.
Seketika Sky tertawa mendengar ucapan pasrah dari Ivy, “jadi kamu rela aja gitu Daniel menikah dengan Vinnie?”
“Rela nggak rela sebenarnya. Tapi Vinnie itu wanita yang baik. Dia bukan orang yang egois, cocok-lah sama Kak Daniel,” kata Ivy.
Deggg
Apakah dulu aku begitu egois? - batin Sky.
🌹🌹🌹