
Sky yang baru saja sampai di Kota New York, setelah menghabiskan waktu sekitar 1 minggu di Kota Rio de Janeiro, langsung meluncur ke kediaman keluarga Robert.
Suasana kediaman Keluarga Robert terlihat begitu ramai, membuatnya bingung dengan apa yang sedang terjadi.
“Se, lo tahu ini apaan ramai begini?” tanya Sky pada Sean.
“Hmm … gini Sky …”
“Cepetan ngomongnya!”
“Ini acara pertunangan lo sama Elena,” jelas Sean, yang ntah mengapa ia tak berani melihat ke arah Sky. Ia sangat yakin wajah Sky saat ini akan memancarkan kemarahan.
Sky langsung turun dari mobil, membanting pintu mobilnya, dan berjalan masuk ke dalam rumah. Ia melewati para tamu undangan yang sedang melihat ke arahnya.
Ia melihat Grandpa Luther sedang duduk sambil berbicara dengan Tuan dan Nyonya Brandon. Terlihat Elena berada di sebelah mereka dengan menggunakan sebuah gaun berwarna putih yang terlihat begitu pas di tubuhnya. Ia terlihat cantik, tapi yang biaa dilihat oleh Sky hanyalah tatapan licik yang tersimpan di wajahnya.
“Kemarilah,” Grandpa Luther yang melihat kehadiran Sky, langsung melambaikan tangannya dan meminta Sky untuk duduk di sebelahnya.
Sky menghempaskan tubuhnya dan melihat ke arah Grandpa Luther, “Aku sudah katakan padamu Grandpa kalau aku tidak mau bertunangan, apalagi menikah dengannya.”
“Apa kamu mau membuat Grandpa malu? Kabar ini sudah diberitakan sejak seminggu yang lalu di semua media,” bisik Grandpa Luther.
“Maksud Grandpa? Beberapa hari lalu, semua media ….,” ada sesuatu yang tiba-tiba merasuk ke dalam hati Sky, ada sesuatu yang salah.
Ia baru teringat, sejak keberangkatannya ke Rio De Janeiro, ia tak pernah berhasil menghubungi Ivy. Wanita itu tak pernah mengaktifkan ponselnya. Dan ketika ponselnya aktif, pesan yang Sky kirimkan hanya dibaca, namun tak dibalas sama sekali.
Pada akhirnya, Sky dan Elena melangsungkan acara pertunangan tersebut. Setelah ini, ia berencana untuk menggagalkan pernikahannya. Untuk saat ini, ia tak mungkin membiarkan kesehatan Grandpa Luther kembali drop dan membuat saham perusahaan anjlok.
“Kamu milik aku sekarang, sayang,” bisik Elena dengan senyum licik yang terukir di wajahnya.
“Jangan pernah berharap!”
Sky pun memanggil Sean setelah acara pertunangan tersebut selesai. Ia langsung berbicara dengan sahabat sekaligus asisten pribadinya itu.
“Lo gila apa nggak ngasih tahu gue masalah ini!” Sky sangat marah dan menatap Sean dengan tatapan membunuh.
“So-sorry Sky. Gue sebenarnya mau ngasih tahu lo, tapi …,” Sean menghentikan perkataannya.
“Tapi …tapi, tapi apa?” Sky langsung menarik kerah kemeja Sean. Sean memang sahabatnya, tapi seorang sahabat seharusnya tidak membuat dirinya terjebak dalam masalah seperti sekarang ini.
Sean hanya bisa terdiam karena ia bingung harus mengatakan apa. Ia tahu ia salah, namun ia tak bisa menolak keinginan Grandpa Luther. Ia takut Grandpa Luther drop, dan itu juga akan membuat Sky erpuruk.
Ivy? - tiba-tiba saja nama itu muncul di dalam pikiran Sky. Ia langsung berlari keluar dan menyambar kunci mobil dari tangan supir keluarganya dan meninggalkan kediaman Keluarga Robert.
**
Sky kini berada di depan RB Apartemen. Ia bersandar pada mobilnya dan mengeluarkan ponselnya. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Ivy, namun sama sekali tak bisa. Pada akhirnya ia mendekati meja resepsionis.
“Maaf, boleh saya tahu unit apartemen yang ditempati oleh Arthur Thomas?” tanya Sky.
“Maaf Tuan, kami tidak bisa memberitahukan informasi tersebut,” sebenarnya Sky sangat tahu bagaimana regulasi di apartemen tersebut karena selain memilikinya, manajemen perusahaannya juga yang melakukan pengelolaan. Ia tak bisa menyalahkan resepsionis tersebut yang tidak memberitahu.
“Oooiya, saya yang minta maaf. Tapi bolehkah saya bertanya?”
“Silakan Tuan.”
“Apakah Tuan Arthur sudah kembali? Atau mungkin putrinya, Ivy,” Sky melihat ke arah resepsionis tersebut, mengharapkan jawaban.
Pindah? - batin Sky.
Ke mana Ivy pindah dan mengapa ia tidak mengatakan apa-apa. Hal itu membuat tanda tanya besar di dalam hati san pikiran Sky.
“Terima kasih,” Sky segera menuju ke mobilnya dan melajukannya ke RB Hospital. Ia berharap Ivy berada di sana. Jika tidak, setidaknya ia akan mendapatkan informasi di sana.
Sesampainya di RB Hospital, Sky langsung pergi ke ruangan di mana Ivy biasa melakukan praktek. Sky membuka pintu dan hanya menemukan ruangan itu kosong. Ia melihat nama yang biasa ada di bagian depan pintu, ternyata sudah kosong. Ia pun langsung menuju ke bagian administrasi.
“Tuan Sky,” hormat salah satu staf bagian administrasi yang mengenalinya.
“Apa hari ini Dokter Ivy ada jadwal praktek?” Sky sebenarnya hafal dengan jadwal kerja Ivy, namun kali ini ia ingin memastikan.
“Dokter Ivy sudah tidak bekerja di sini lagi, Tuan.”
Seketika Sky terdiam. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia berusaha terus berdiri meskipun kedua kakinya mulai terasa lemas.
“Sekitar seminggu yang lalu, Dokter Ivy mengajukan cuti karena Daddynya meninggal. Beberapa hari kemudian, Dokter Ivy mengajukan resign dan sekaligus meminta surat referensi. Selain itu tidak ada informasi lain.”
“Meninggal? Uncle Arthur meninggal?” Sky berusaha memperjelas informasi yang ia terima.
“Iya Tuan. Kalau saya tidak salah informasi, penyebab meninggalnya karena kecelakaan.”
“Baiklah, terima kasih atas informasinya.”
Sky meninggalkan RB Hospital. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju mobilnya. Di dalam mobil, ia masih menatap rumah sakit tempat Ivy bekerja, kemudian memukul setir mobilnya.
Ia melajukan mobil menuju kediaman Gil. Saat ini ia tak ingin pulang. Sky menatap jalanan di depannya, “Kamu ke mana, Vy?”
Sky melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Banyak sekali yang ada di dalam pikirannya, sampai-sampai tak terasa ia sudah berada di depan kediaman Gil.
Gue di depan. - Sky menghubungi Gil.
Pintu gerbang terbuka dan Sky langsung memarkirkan mobilnya di pekarangan kediaman Gil. Ia terdiam sesaat setelah menghentikan mobilnya.
**
Flashback on
Setelah mengirim sebagian barang-barangnya, Ivy berencana untuk mencari tempat tinggal baru. Ia pergi ke RB Hospital untuk memperpanjang masa cutinya dan ingin membawa abu milik Dad Arthur ke Jepang untuk disandingkan dengan abu milik Mom Keiko.
Sesampainya di RB Hospital, ia berjalan menyusuri koridor dengan menggunakan setelan kemeja berwarna biru muda dan rok sepan berwarna biru navy.
Ivy mengetuk pintu ruangan Dokter Frans, “Permisi Dok.”
“Ooo Dokter Ivy, silakan masuk.”
Ivy dipersilakan duduk. Ia duduk persis di depan meja kerja Dokter Frans yang kini tengah mengamati sesuatu di layar laptopnya.
“Ada apa, Dokter Ivy?” tanya Dokter Frans.
“Maaf, Dok. Saya ingin mengajukan penambahan cuti.”
“Sebelumnya, saya ucapkan turut berduka cita ya Vy,” Dokter Frans membetulkan letak kacamatnya. Dokter berusia hampir 50 tahun itu masih terlihat tampan dan gagah. Sedikit kerutan di wajahnya menambah kedewasaannya, menjadi nilai plus tersendiri.”
🌹🌹🌹