
“Le-lepaskan aku!” teriak Vinnie yang sedang mendapatkan perlakuan kasar dari Daniel. Vinnie yang sedang duduk diam di balkon sambil menatap taman belakang, tiba-tiba saja ditarik oleh Daniel dan dihempaskan begitu saja ke atas tempat tidur.
Vinnie bisa melihat wajah Daniel yang terlihat berantakan dan penuh dengan amarah. Tapi apa salah dirinya? Bukankah ia sudah akan melepaskan Daniel? Bukankah pria itu belum mengembalikan surat cerai padanya? Mengapa ia yang marah?
“Ini semua karena dirimu! Ini semua karena keluargamu! Kalau kalian tidak meminta balasan atas apa yang kalian berikan, ini semua tak akan terjadi padaku!” Daniel mulai berteriak seperti orang yang kesetanan. Penolakan Ivy dan surat cerai yang diberikan oleh Vinnie, membuatnya tidak terima dengan semua yang terjadi dalam kehidupannya.
Srettt
“Ahhhh!!” Vinnie berteriak ketika Daniel dengan kasar menarik piyama yang ia kenakan hingga membuat kancingnya berhamburan ke lantai. Vinnie tak pernah mengenakan pakaian tidur yang seksi karena ia tahu dengan siapa ia sekamar.
Kilatan amarah di wajah Daniel kini berubah menjadi kilatan gairrah saat melihat tubuh Vinnie yang hanya tertutup pakaiian dalam saja.
“Aku akan menghancurkanmu! Seperti kamu menghancurkan diriku,” kata Daniel dengan sebuah senyuman yang terlihat begitu menyeramkan bagi Vinnie.
Dengan sebelah tangannya, Daniel menyatukan kedua tangan Vinnie dan mengangkat ke atas kepala. Sementara kedua kakinya menahan kaki Vinnie agar tidak bisa membalasnya. Daniel kembali mencengkeram dagu Vinnie dan menatap tajam ke arah wanita yang berada di bawah kungkungannya itu.
“Le-lepaskan aku. Aku akan mempercepat proses perceraian kita, tanda tanganilah dan berikan padaku,” kata Vinnie dengan memohon.
“Aku tidak akan membuat hidupmu mudah setelah apa yang telah dirimu dan keluargamu lakukan padaku,” perkataan Daniel tentu saja membuat Vinnie merasakan takut.
Dengan kasar, Daniel melummat bibir Vinnie dan mulai memberikan sentuhan di tubuh wanita yang adalah istri sah-nya itu. Daniel menggigit bibir Vinnie agar wanita itu membuka mulutnya.
Sakit, itulah yang dirasakan Vinnie saat ini. Sikap kasar Daniel padanya tak pernah ia duga sampai seperti ini. Daniel terus melummat bibirnya hingga nafas Vinnie terengah-engah karena Daniel sama sekali tak membiarkannya bernafas. Pria yang adalah suaminya itu seakan ingin menyiksanya.
Srettt
Tarikan terakhir Daniel lakukan pada sisa pakaian yang berada di tubuh Vinnie. Daniel yang pertama kalinya melihat secara langsung, menelan salivanya dan ada gelenyar aneh di tubuhnya. Ia melepaskan tangannya yang tadi memegang Vinnie, kemudian langsung melepaskan pakaiannya sendiri dengan cepat.
Vinnie yang ingin lari langsung ditarik lagi oleh Daniel, “Kamu mau ke mana? Aku tak akan melepaskanmu!”
“Aku mohon, lepaskan aku. Kita akan segera bercerai dan kamu akan bebas,” kata Vinnie dengan kedua tangan mengatup.
“Tak semudah itu. Bukan dirimu yang akan menceraikanku, tapi aku yang akan melakukannya!” Senyum sinis tercipta di wajah Daniel. Ia langsung menarik lengan Vinnie dan kembali menghempaskan wanita itu ke atas tempat tidur.
Tanpa pemanasan lagi, Daniel langsung melakukan bagian inti. Ia memasukkan miliknya ke inti milik Vinnie.
“Ahhh, sa-sakit!!” teriak Vinnie dengan sedikit meringis. Sakit yang ia rasakan begitu luar biasa, karena ini adalah kali pertama ia melakukan hubungan suami istri.
Daniel berhasil menembus pertahanan Vinnie. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang hangat mengalir. Tanpa berlama-lama, ia mulai menghentakkan tubuhnya dengan cepat. Ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan ketika tubuhnya menyatu dengan tubuh Vinnie.
Daniel mencapai puncaknya seorang diri sementara Vinnie merasakan kesakitan yang amat sangat di area intimnya. Ia hanya bisa diam seolah nyawanya sudah siap untuk dicabut dari tubuhnya.
Daniel kembali membuka kakinya dan memasukkan miliknya yang sudah mengeras ke dalam gua milik Vinnie. Tanpa mempedulikan rasa sakit yang Vinnie rasakan, ia kembali menghentakkan miliknya. Pandangannya sudah mulai kabur karena ia tak dapat menahan rasa sakit yang diberikan oleh Daniel, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.
**
Mata Vinnie mengerjap, keadaan kamar masih terang, sama seperti saat sebelum matanya tertutup. Ia menggerakkan sedikit tubuhnya dan ia bisa merasakan sakit yang amat sangat di bagian inti tubuhnya.
Sekelebat kejadian semalam kembali hadir di pikiran Vinnie dan membuatnya meringis hingga tanpa sadar kembali mengeluarkan air mata. Ia melihat ke samping di mana Daniel tengah tertidur dengan lelapnya.
Dengan sekuat tenaga, Vinnie mengambil pakaiannya yang masih bisa menutupi sebagian tubuhnya. Ia berjalan dengan perlahan ke arah kamar mandi.
Sampai di kamar mandi, ia mengunci pintu. Vinnie berjalan ke arah wastafel dan melihat dirinya yang tanpa sehelai benang pun. Tanda kemerahan tercetak dengan jelas di leher dan dadanya. Vinnie memegang tanda kemerahan yang ada di tubuhnya dan mulai meneteskan air matanya.
“Kamu ingin kehancuranku kan. Kamu sudah berhasil melakukannya. Kini aku kotor, aku tak akan bisa kembali padanya,” dengan perlahan Vinnie berjalan menuju area shower dan mulai menyalakannya.
Vinnie membiarkan air shower terus menyala hingga membasahi tubuhnya. Ia meringis ketika bagian intinya terasa sangat perih ketika terkena air yang begitu dingin.
Sebuah botol kaca miliknya yang berisi sabun terlihat begitu menarik di matanya. Ia memompa sebagian isinya kemudian mulai membasuh ke tubuhnya. Sesekali ia tertawa, kemudian ia menangis. Vinnie memegang leher botol tersebut dan memutarnya hingga bagian bawah botol mengarah ke atas.
Pranggg
Vinnie tersenyum kembali ketika melihat botol sabunnya sudah terhempas ke lantai dan berubah menjadi pecahan kaca yang berukuran kecil.
Ia mengambil salah satu pecahan tersebut dan mengangkat dengan sebelah tangannya. Ia melihat pecahan kaca tersebut di bawah cahaya lampu dan kilatan cahaya seakan terlihat begitu indah di matanya.
“Selamat tinggal Daniel. Selamat tinggal Dad. Selamat tinggal Elliot. Aku berharap kalian semua hidup dengan bahagia. Maaf jika aku mengecewakan kalian. Aku membebaskan kalian semua dari beban, ya … aku hanyalah beban bagi kalian semua.”
Cesss
Dengan menggunakan pecahan kaca, Vinnie mengiris pergelangan tangannya. Sakit …. dan ia bisa merasakan sesuatu yang hangat mengalir di sana. Ia kembali berdiri di bawah kucuran air shower dan memutar ke kucuran yang paling deras, kemudian duduk di bawahnya.
Ia membiarkan pergelangan tangannya terkena air agar aliran darah tidak berhenti dengan cepat. Sayup-sayup, Vinnie mendengar suara seseorang memanggil namanya. Ia hanya bisa tersenyum tanpa memikirkan apa-apa lagi.
Semakin lama pandangannya semakin kabur dan kepalanya mulai pusing. Ia memejamkan mata menahan rasa sakit dan nyeri.
Aku menyayangi kalian semua. - batin Vinnie sebelum ia memejamkan matanya dan tak sadarkan diri.
🌹🌹🌹