
Setelah Ivy selesai menjalankan amanat Dad Arthur, yakni menyandingkan abu kedua orang tuanya, ia kembali ke rumah. Tidak pernah terpikirkan oleh Ivy kalau ia akan melakukan hal tersebut secepat ini. Ia merasa masih banyak hal yang belum ia lakukan bersama dengan Dad Arthur.
Kesibukannya setiap hari di rumah sakit dan kesibukan Dad Arthur di perusahaan, membuat mereka jarang bertemu dan menghabiskan waktu. Ia merasakan penyesalan karena terlalu merindukan Dad Arthur.
Namun, Ivy merasa harus bangkit. Tak mungkin ia terus terpuruk dan menangisi kepergian Dad Arthur. Bukankah ia seorang Ivy, meskipun bunga kecil tapi ia mampu tumbuh merambat dan terus menguatkan dirinya.
Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menghadapi semuanya mulai hari ini. Ia akan kembali mencari pekerjaan, meskipun ia memiliki simpanan dan asuransi milik Dad Arthur akan segera cair. Ia tak ingin hanya diam dan melamun karena hal itu justru akan membuatnya semakin sedih karena mengingat orang tuanya.
Dad Arthur sangat menyayanginya, Ivy sangat yakin akan hal itu. Begitu juga dengan dirinya. Dad Arthur adalah cinta pertamanya, seseorang yang akan selalu memiliki tempat di dalam hatinya.
Dad, Mom, lihatlah aku dari atas sana. Tak ada yang perlu kalian kuatirkan. Aku berjanji akan selalu hidup dengan bahagia. Terima kasih atas semua kasih sayang dan perhatian yang selalu kalian berikan. I love you both so much. Tak akan pernah ada yang bisa menggantikan cinta kalian di hatiku. Dad, kamu pasti bahagia bisa bertemu dengan Mom. - batin Ivy sambil menengadahkan wajahnya ke langit.
**
Ku ingin saat ini engkau ada di sini
Tertawa bersamaku s’perti dulu lagi
Walau hanya sebentar
Tuhan tolong kabulkanlah
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
Hati ini hanya rindu …
Setiap kali Ivy menutup matanya, pikirannya langsung kembali memutar kenangan bersama kedua orang tuanya, terutama Dad Arthur. Ia juga bisa merasakan kehadiran kedua orang tuanya di rumah mereka.
Kerinduan Ivy sangat mendalam, meskipun saat ini ia sudah bisa menahan agar air matanya tidak terus-menerus keluar bila mengingat kedua orang tuanya, terutama Dad Arthur yang baru saja meninggalkannya.
Untuk mengalihkan perhatiannya, Ivy membuka sebuah situs pencarian di laptopnya. Ia tidak tahu apa yang sedang ia cari, tapi tangannya terus saja bergerak. Berbagai situs mengenai ilmu kedokteran ia buka dan baca. Sebuah senyuman merekah di wajahnya ketika ia menemukan sesuatu.
“Sudah! Kita akan menunggu balasan dari mereka,” Ivy pun menutup laptop dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dalam waktu singkat, ia sudah terlelap.
**
Di Kota New York.
Sky masih saja seperti orang linglung. Ia sama sekali tidak dapat berkonsentrasi pada pekerjaannya. Ia bahkan sering lupa untuk makan. Penampilannya seperti tak terurus dan ia lebih sering menginap di perusahaan dengan alasan pekerjaan yang menumpuk.
“Sky, mendingan lo pulang dulu gih, istirahat. Gue nggak sanggup ngeliat lo kayak begini,” kata Sean yang berusaha menyadarkan Sky yang sesari tadi hanya melamun.
“Dia ke mana Se? Kenapa dia nggak bilang sama gue? Ini udah hampir sebulan dia pergi.”
“Lo nggak mau nyoba …”
“Nyoba apaan? Semua cara udah gue coba,” kata Sky.
“Ada 1 hal yang belum lo coba dan gue nggak tahu lo mau ngelakuin itu atau nggak.”
“Kalau gue bisa nemuin Ivy dengan cara itu, pasti akan gue lakuin, Se.”
Daniel, Daniel, kenapa aku bisa melupakan pria itu. Ia pernah berhubungan dengan Ivy dan pasti jauh lebih mengenal Ivy dari pada diriku. Aku harus bertanya padany. - Sky langsung meraih jas-nya, mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar dari ruangan.
Sean yang melihat Sky hanya bisa menggelengkan kepalanya. Namun di dalam hatinya, ia berharap Sky bisa segera menemukan Ivy agar sahabatnya itu bisa kembali seperti dulu.
**
“Iya Cyn, ada apa?” tanya Daniel sambil menandatangani laporan di hadapannya.
“Ada tamu yang ingin menemui anda, Tuan Sky dari RB Coorporation,” jawab Cynthia, sekretaris Daniel.
Daniel tak pernah menyangka bahwa Sky akan datang menemuinya terlebih dahulu, “Persilakan dia masuk.”
Sky langsung menghambur masuk ketika sekretaris Daniel telah mengijinkannya memasuki ruang kerja Daniel. Saat ini, Daniel sudah mengambil alih kepemimpinan di Perusahaan Lewis, menggantikan Dad Donald.
Daniel memperhatikan penampilan Sky yang sangat kacau, tidak seperti biasanya. Sejujurnya ia sudah tidak ada masalah dengan Sky, karena saat ini ia sudah mulai mencintai Vinnie, istrinya. Ia juga sudah berjanji pada Ivy bahwa ia akan menepati janjinya untuk menjaga Ivy sebaik mungkin.
Sky memasuki ruangan Sky dengan sedikit terengah-engah. Daniel yang melihatnya semakin penasaran dengan apa yang telah terjadi dengan pria yang dulu adalah sahabatnya.
“Sky, lo kenapa?” tanya Daniel sambil menghampiri Sky.
“Nil, lo bisa tolongin gue?” Daniel yang tak mengerti, hanya bisa menatap ke arah sahabatnya itu.
Keduanya kini duduk di sofa di dalam ruang kerja Daniel. Cynthia telah datang dan menyuguhkan kopi untuk keduanya. Sky pun telah bisa mengatur nafasnya dan merasa lebih tenang.
“Ivy.”
“Ivy? Ada apa dengan Ivy?” tanya Daniel dengan nada kuatir.
Meskipun ia sudah melepaskan Ivy, namun ia akan selalu menjaganya seperti ia menjaga Daisy, adiknya. Ia akan selau menyayanginya dan tak ingin hal buruk terjadi padanya. Sudah lama ia tak menghubungi Ivy. Seingatnya, pertemuan terakhir mereka adalah saat ia mengantarkan Vinnie ke rumah sakit. Setelahnya ia sangat sibuk menjaga Vinnie dan mengurus masalah perusahaan.
“Ivy pergi.”
“Pergi? Nggak mungkin!” kata Daniel.
“Tapi dia nggak ada. Udah sebulan ini gue cari dia, ke apartemen, ke rumah sakit, tapi dia nggak ada. Bahkan dia udah resign dari RB Hospital.”
“Coba lo tenang dulu, cerita sama gue pelan-pelan. Lo minum dulu,” Sky menyesap kopi yang disuguhkan oleh Cynthia, hanya untuk melancarkan rasa sesak di tenggorokannya.
“Ivy pergi. Waktu gue balik dari Rio, gue udah mggak bisa nemuin dia, padahal hubungan gue sama dia baik-baik aja.”
“Lo sama dia?” kata Daniel penuh tanya.
“Ya, saat ini gue dan Ivy menjalin hubungan. Gue sama dia adalah sepasang kekasih. Lo nggak cemburu kan?” tanya Sky.
Daniel tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “gue malah bersyukur kalau dia bisa jalan sama lo. Setidaknya gue tahu lo itu seperti apa. Sebenernya gue juga tahu kalau lo udah lama suka sama dia, cuma gue nggak mau mengalah gitu aja sama lo, karena gue juga suka.”
Sky tersenyum kecil, meskipun jelas terlukis di wajahnya kekuatiran yang amat dalam mengenai di mana dan apa yang terjadi dengan Ivy saat ini.
🌹🌹🌹