
“Vin!” Ivy tersenyum ketika melihat Vinnie menemuinya di sebuah resto.
Sebelumnya, Vinnie mengirimkan pesan singkat kepada Ivy dan mengajaknya bertemu. Keduanya memiliki hubungan yang baik dan tidak pernah ada rasa iri di hati keduanya. Mereka sama-sama tahu bagaimana perasaan mereka masing-masing. Mereka saling berpelukan dan tersenyum.
“Ada apa?” tanya Ivy yang merasa ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh Vinnie.
“Duduklah dulu. Kamu sudah pesan?” tanya Vinnie.
“Belum. Aku menunggumu.”
“Ishh kamu ini selalu saja,” Vinnie memanggil seorang pelayan dan mereka berdua memesan minuman dan juga makanan ringan.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Vinnie.
“Aku baik dan sepertinya kamu terlihat sangat baik juga,” kata Ivy.
“Ya, terima kasih padamu. Kali ini aku meminta bertemu denganmu karena …. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”
Ivy menautkan kedua alisnya dan seketika ia membulatkan matanya ketika melihat Daniel memasuki ruangan di mana mereka melakukan pertemuan. Sekelebat perkataan Gil kembali terngiang di dalam pikiran Ivy.
“Ia perlu bicara denganmu, Vy. Aku mohon beri dia waktumu, meskipun hanya sebentar,” pinta Vinnie.
“Aku bersedia berbicara dengannya, asalkan kamu tetap berada di sini. Aku tak ingin ada yang salah paham.”
Daniel menganggukkan kepalanya pada Vinnie, “baiklah, aku akan tetap berada di sini.”
Daniel duduk berhadapan dengan Ivy dan Vinnie duduk persis di sebelah Daniel, seperti keinginan Ivy. Meskipun Vinnie adalah wanita yang baik dan mengerti bagaimana perasaannya, tapi ia juga yakin tak ada wanita manapun yang ingin jika suaminya bertemu dengan wanita lain, apalagi itu adalah mantan kekasihnya.
“Vy, sebelumnya aku ingin minta maaf atas apa yang telah kulakukan padamu. Maaf, saat itu emosiku tidak terkontrol hingga aku berlaku kasar padamu.”
“Aku sudah memaafkan kakak. Aku tahu emosi kakak sedang tidak stabil saat itu. Aku hanya kaget mendapati dirimu yang tidak pernah seperti itu,” kata Ivy.
Ivy melihat ke arah Vinnie dan wajah Vinnie tampak biasa saja. Ia yakin bahwa Daniel telah menceritakan apa yang terjadi pada mereka berdua hingga Daniel meminta bantuan pada Vinnie.
“Aku berjanji tak akan melakukan hal seperti itu lagi. Aku akan memulai semuanya dari awal bersama Vinnie. Tapi, apa aku masih bisa bersahabat denganmu?” tanya Daniel dengan ragu.
Ivy tahu Daniel bersungguh-sungguh dalam setiap kata-katanya. Ia pun tersenyum dan mengulurkan tangannya.
“Aku memaafkanmu, Kak. Kita akan memulai semuanya dari awal. Hanya saja, aku tidak bisa bersahabat denganmu.”
Daniel langsung mengangkat kepalanya dan menatap Ivy.
“Kenapa? Apa semua yang telah kulakukan tak bisa mengembalikan persahabatan kita?” tanya Daniel.
Ivy menggelengkan kepalanya, “bukan begitu maksudku. Aku tak ingin bersahabat dengan kakak. Aku ingin bersahabat dengan Vinnie saja.”
“Ahhh aku akan dengan senang hati menerimamu dan terima kasih telah memilihku menjadi sahabatmu,” Vinnie langsung bangkit dan memeluk Ivy.
“T-tapi …,” perkataan Daniel terpotong karena Ivy melanjutkan ucapannya.
“Aku tak ingin bersahabat dengan mantan kekasihku. Orang-orang yang melihatnya pasti akan mengira yang tidak-tidak,” kata Ivy melanjutkan.
Mereka menyelesaikan permasalahan mereka dengan makan malam bersama. Daniel bisa melihat bagaimana kebersamaan antara istrinya dan mantan kekasihnya. Keduanya tak bertengkar seperti pasangan lain yang dihadapkan pada sebuah cinta segitiga. Ia sungguh sangat bersyukur karena kedua wanita di hadapannya adalah wanita yang baik.
**
Daniel memeluk Vinnie dari belakang ketika ia baru selesai membersihkan dirinya. Ia yang melihat Vinnie sedang berdiri di balkon kamar tidur mereka langsung berjalan mendekat.
Vinnie memutar tubuhnya dan melihat ke arah manik mata Daniel. Ia tersenyum.
“Maafkan sikapku selama ini.”
“Sampai kapan kamu akan mengatakan kata maaf terus menerus?” tanya Vinnie.
“Sampai kamu mencintaiku.”
Vinnie menatap lurus ke arah Daniel. Ia tak menyangka Daniel akan memintanya untuk mencintai dirinya. Hubungan mereka saat ini masih terbilang baru dan masih banyak hal yang perlu mereka ketahui satu sama lain.
Daniel memeluk pinggang Vinnie kemudian memeluknya. Ia menghirup harum yang keluar dari rambut Vinnie, membuatnya merasa nyaman.
Keduanya kini berada di atas tempat tidur dan saling menatap satu sama lain. Daniel menyampirkan rambut Vinnie ke belakang telinga, kemudian mengecup kening wanita yang kini sudah ia akui sebagai istrinya.
Ia bergeser mendekati Vinnie kemudian menyelipkan tangannya di bawah leher Vinnie. Daniel menarik tubuh Vinnie ke dalam dekapannya. Vinnie sedikit memundurkan tubuhnya dan Daniel tahu bahwa Vinnie masih sedikit syok ketika ia mengambil kehormatannya secara kasar.
“Maafkan aku. Aku tidak akan melakukan apapun padamu, hingga kamu mengijinkannya. Saat ini, aku hanya ingin memelukmu. Aku ingin diriku, tubuhku, bahkan jiwaku mengenalimu sebagai seseorang yang sangat berarti bagiku dan adalah bagian dalam hidupku.
Kata-kata manis yang diberikan oleh Daniel, membuat Vinnie yang awalnya ingin menahan tubuh Daniel, menengadahkan wajahnya dan menatap suaminya itu.
“Terima kasih sudah memberikan kesempatan kedua padaku. Bantu aku untuk menjadi suami yang lebih baik,” kata Daniel sambil tersenyum kemudian mengecup kening Vinnie. Hati Vinnie terasa menghangat meskipun saat ini hatinya masih terbagi antara Daniel dengan Elliot.
**
3 bulan kemudian,
Ivy dengan perlahan mulai melupakan perasaannya pada Daniel dan mengubahnya menjadi kedekatan sebagai sahabat. Namun, Vinnie-lah yang kini jauh lebih dekat dengan Ivy, bukan Daniel. Di waktu senggang, kadang mereka menyempatkan diri bertemu. namun sudah beberapa minggu ini jadwal Ivy sangat padat, bahkan ia belum ada waktu untuk sekedar duduk bersama dengan Dad Arthur.
Sky sendiri selalu menyempatkan diri untuk menemui Ivy di sela-sela kesibukannya. Ia juga sangat senang karena Ivy tak pernah menolak kehadirannya. Hanya saja, Sky tidak mengetahui bagaimana perasaan Ivy saat ini pada Daniel. Wanita itu selalu menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Sore hari, seperti biasa Ivy selalu menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di taman belakang rumah sakit. Ia baru saja selesai berkeliling untuk melakukan pemeriksaan secara rutin untuk para pasiennya.
Ivy melihat seorang pria lanjut usia, tengah duduk sendirian di sebuah bangku taman. Ia pun berjalan mendekatinya.
“Sore,” sapa Ivy sambil tersenyum.
Pria itu membalas senyuman Ivy dengan senyuman yang tak kalah indah dan tulus.
“Tuan, anda sendirian di sini? Apa tidak sebaiknya anda masuk? Sudah menjelang malam dan angin bertiup agak kencang,” kata Ivy.
“Sebentar lagi. Duduk sini, temani Grandpa,” kata Grandpa sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya. Ivy pun duduk di sebelahnya. Ia menghirup udara yang terasa segar saat itu.
“Perkenalkan, nama saya Ivy,” Ivy mengarahkan tubuhnya ke arah pria tua itu dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman sebagai tanda perkenalan.
“Ivy … nama yang sangat cantik.”
“Grandpa …?” tanya Ivy.
“Luther.”
🌹🌹🌹