
“Lalu bagaimana dengan perjodohan kakak?” tanya Ivy dengan sedikit ragu.
“Aku berjanji akan menyelesaikan semuanya. Yang kamu harus lakukan hanya percaya padaku.”
Ivy menatap manik mata Sky dan sebuah senyuman terukir di sana. Sky yang melihatnya pun langsung tersenyum dan tanpa sadar langsung memeluk wanita di hadapannya.
“Terima kasih. Aku pasti akan selalu berjuang untukmu, untuk kita.”
Ivy ingin meneteskan air mata saat mendengar perkataan Ivy, tapi ia berusaha menahan. Sepertinya ini akan menjadi perjuangan yang berat karena ia merasa bukan siapa-siapa.
Mom, apa Mom melihatnya? Ivy bahagia. Namun, apa hubungan ini akan bertahan? - batin Ivy sambil menatap ke arah langit malam yang bertabur sedikit bintang.
**
Sean tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Hari ini, sejak pagi ia bertemu dengan Sky, rasanya tak sekalipun ia melihat sahabatnya itu berhenti tersenyum. Wajah Sky sangat berbeda dari biasanya.
Apa jangan-jangan hari ini matahari bakalan tenggelam lagi di timur? - batin Sean sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Saat berada di ruang kerjanya, Sky tak henti-hentinya melihat ke arah ponselnya. Sebentar-sebentar ia memegang ponsel, kemudian meletakkannya lagi, dan seperti itu terus berulang. Hal itu membuat Sean semakin merasa heran.
“Sky, are you so happy?” tanya Sean. Pada akhirnya ia bertanya karena sudah tidak tahan dengan apa yang dilihatnya.
“Menurut lo?”
“Gue tanya kok lo jadi nanya balik sih?”
“Ya menurut lo apa kalau lo lihat gue?” tanya Sky.
“Menurut gue, lo gila!” teriak Sean sambil tertawa.
Pletakkk
Sebuah kertas dilemparkan Sky ke arah Sean, membuat sahabatnya itu akhirnya berhenti.
“Iya iya sorry. Lo happy banget kelihatannya,” jawab Sean.
“Nah itu lo tahu kalau gue lagi happy, jadi nggak usah banyak tanya.
“Arghhhh!!!” Sean mengusap wajahnya kasar.
Nittt … nittt ….
Terdengar bunyi ponsel Sean berbunyi. Ia pun segera mengangkatnya, “Apa? Suruh tunggu sebentar. Jangan izinkan dia naik sebelum diizinkan.”
Sean melihat ke arah Sky, kemudian beralih lagi melihat ke arah ponselnya.
“Sky,” panggil Sean.
“Hmm …”
“Ada Elena di bawah. Ia ingin bertemu.”
“Mau apa lagi sih tuh cewe. Bukannya kemarin dia sendiri yang nggak mau dijodohin sama gue? Ahhh, ngerusak mood gue aja,” Sky membanting tangannya sendiri di atas tumpukan kertas.
“Gue bisa minta resepsionis untuk bilang lo lagi meeting, gimana?”
“Nggak usah, suruh dia naik. Gue pengen tahu dia mau ngomong apa.”
Tak berselang lama, Elena pun masuk ke dalam ruang kerja Sky bersama dengan Sean.
“Wow,” Elena begitu terpesona melihat ruang kerja Sky yang terlihat begitu mewah. Ia menyunggingkan senyumannya.
“Cepetan lo mau ngomong apa. Gue nggak punya banyak waktu buat ngurusin lo,” kata Sky dengan ketus tanpa beranjak dari kursi kerjanya.
“Wah wah, nggak dipersilakan duduk dulu gitu? Meski gimana juga, gue ini kan calon istri lo,” kata Elena dengan senyum sinis.
“Ouuu segitu percaya dirinya-kah? Apa lo lupa kalau lo pernah bikin gue malu? Gue akan buat lo membayar itu semua. Gue akan bilang sama Grandpa lo yang udah tua itu, kaau gue mau nikah sama lo. Gue pastikan akan segera mempercepat pernikahan ini. Gue akan buat hidup lo menderita,” kata Elena sambil tertawa.
Sky mengepalkan tangannya, kekesalannya sudah memuncak, tapi ia tak ingin wanita itu menjadi besar kepala. Hal seperti ini harus diselesaikan dengan otak bukan dengan mulut, begitulah pikir Sky.
“Silakan, kerjakan apa maumu,” kata Sky sambil tersenyum menantang. Ia memberi tanda kepada Sean untuk segera membawa Elena pergi dari ruangannya.
**
Brakkk
Elena sangat kesal dan menghempaskan tas miliknya ke atas sofa. Melihat Sky yang begitu percaya diri, membuatnya ingin sekali menghancurkan pria itu.
“El, kamu sudah pulang?” Mom Gisella yang baru saja pulang setelah berkumpul dengan teman-teman sosialitanya menyapa putrinya.
“Sudah.”
“Bagaimana? Apa kamu sudah menemuinya? Kamu harus meyakinkannya bahwa kamu pantas menjadi istrinya.”
“Aku sudah menemuinya Mom, dan aku pastikan akan membuatnya menikahiku,” senyum tersungging di wajah Elena.
“Bagus! Bisa kamu bayangkan, Elena Brandon sebagai istri dari pewaris tunggal keturunan Robert. Kamu akan hidup mewah, tak perlu bersusah-susah. Tapi kamu harus terus ingat bahwa kami, orang tuamu, yang membantumu.”
“Aku mengerti, Mom. Kita akan menjadi kaya, lebih kaya, sangat kaya. Setelah itu kita perlahan akan mengambil alih semuanya.”
“Benar! Kekayaan keluarga Robert sangatlah besar. Kita harus bisa mengendalikannya.”
Kedua wanita tersebut tersenyum seakan telah mendapatkan mangsa besar yang akan membuat kehidupan mereka menjadi mudah.
**
Secara intens, Elena selalu mencari cara bertemu dengan Sky di kantor ataupun di rumah. Ia melakukan banyak hal untuk menarik perhatian Sky, dan tentu saja tanpa rasa malu.
Elena juga beberapa kali bertandang ke kediaman Robert untuk sekedar bertemu dengan Grandpa Luther. Ia hanya bertemu untuk berusaha mengambil hati dan ingin mempercepat pernikahannya.
Sementara itu, hubungan antara Ivy dan Sky semakin hari semakin dekat. Mereka sudah menjalani hubungan selama 1 bulan. Seperti biasa, Sky selalu menjemput Ivy di rumah sakit dan mengajaknya makan malam.
Di dalam mobil,
“Mau makan apa, Vy?” tanya Sky.
“Hmmm … terserah Kak Sky saja,” jawab Ivy.
Sky menghentikan mobilnya di tepi dan dengan sebelah tangannya ia memegang sandaran kursi yang diduduki Ivy dan memiringkan tubuhnya. Ia menggenggam tangan Ivy secara tiba-tiba.
Keduanya bertatapan dengan intens, hingga jarak keduanya semakin dekat, “Dengarkan aku. Aku tak ingin kamu memanggilku Kak. Panggil aku dengan namaku, Sky.”
“T-tapi Kak …”
Perkataan Ivy terpotong saat ia merasakan bibir Sky sudah menempel di bibirnya. Ivy merasakan kehangatan menjalar di tubuhnya, namun ia tak membalas ciuman Sky karena begitu tiba-tiba.
Sky memundurkan tubuhnya, “maaf.”
Sky memandang wajah Ivy yang sudah memerah, membuatnya semakin gemas. Kalau saja status mereka sudah sah, mungkin ia akan langsung membawa Ivy ke dalam kamar dan tidak mengijinkannya keluar.
“Maaf, apa ini ciuman pertamamu?” tanya Sky pura-pura. Ivy tentu saja menggelengkan kepalanya karena ciuman pertamanya adalah juga bersama dengan pria yang berada di sebelahnya.
“Kamu tahu, ini adalah ciuman keduaku. Ciuman pertamaku sudah diambil oleh seorang wanita secara paksa di tengah-tengah lantai dansa,” lanjut Sky.
Seketika, bukan hanya pipi Ivy yang memerah, tapi juga telinganya. Untung saja hari sudah malam dan mereka berada di dalam mobil, jadi tidak terlalu kelihatan. Betapa malunya ia jika Sky melihatnya.
Ya Tuhan, aku seperti wanita yang baru pertama kali pacaran saja. Dulu dengan Kak Daniel, rasanya aku tidak se-nervous ini. - batin Ivy.
🌹🌹🌹