
“Se, semua udah beres kan?” tanya Sky.
“Udah. Lo cuma perlu siapin tenaga aja.”
“Tenaga?”
“Iya, buat malam pertama,” jawab Sean terkekeh.
“Ah kalau itu mah nggak perlu disiapin, udah banyak stok g. Emangnya lo!”
“Nyebelin! Maksud lo apa? Emang gue kenapa?” gerutu Sean sambil memberengutkan bibirnya.
“Trus …”
“Terus, terus melulu. Pokoknya udah semua. Gue nggak mau tahu, pokoknya setelah acara nikahan ini, gue mau cuti! Minimal seminggu,” ujar Sean.
“Beres lha! Tapi nanti ya, setelah gue pulang honeymoon. Soalnya nggak ada yang gantiin gue di kantor nanti,” kata Sky tersenyum.
“Tuh kan …”
“Gue kasih tiket liburan deh buat lo,” kata Sky.
“Beneran?” Wajah Sean sudah mulai menampakkan binar-binar bahagia.
“Beneran lha! Masa gue bohong.”
“Wah beres deh kalau kayak gitu mah. Jangan lupa ya, sekalian uang saku buat liburannya,” kata Sean sambil menaikturunkan alisnya.
“Dasar, dikasih hati minta usus!”
“Lo kira bubur!” Keduanya pun tertawa bahagia.
**
Ivy berada di taman depan rumah yang ia tempati. Meskipun tak terlalu besar, tapi ia kini sangat menyukai kegiatan berkebun. Taman kecil itu ia tanami dengan berbagai jenia bunga dan ada beberapa tanaman dalam pot yang berisi tanaman yang sedang trend saat ini.
Ia menyirami tanaman itu satu-persatu. Ivy tanpak fokus merawat tanaman hingga tak menyadari seseorang sudah masuk ke dalam pekarangan dan berjalan menghampirinya.
Mata Ivy ditutup dengan kedua tangan, “tebak aku siapa?”
Ivy hanya bisa menghela nafasnya karena menurutnya itu pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Mendengar suaranya saja, Ivy sudah tahu siapa yang menutup matanya.
“Siapa lagi kalau bukan calon suamiku,” kata Ivy sambil tersenyum, yang justru terlihat begitu menggoda di mata Sky.
“Apa kamu sangat mencintaiku hingga sangat mengenaliku?” tanya Sky.
“Sepertinya aku salah bicara,” ujar Ivy.
Sky memeluk Ivy dari belakang, merengkuh bahunya dan menurunkan kepalanya hingga berada di bahu Ivy, “kamu tahu, aku sangat bahagia. Tak akan ada lagi yang bisa mengambilmu dariku. Sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku sepenuhnya.”
Sky memutar tubuh Ivy hingga menghadap ke arahnya, kemudian memeluknya, “terima kasih Love, kamu mau menerimaku dan menghabiskan waktumu bersamaku.”
Pelukan Sky terasa begitu erat dan hangat. Ivy seperti merasakan kehangatan pelukan Dad Arthur yang sudah lama ia rindukan, hingga tak terasa buliran air telah mengalir di ujung matanya.
“Kamu menangis, Love?” tanya Sky, “ada apa?”
“Aku hanya merindukan Daddy.”
“Apa kamu mau pergi ke Jepang bersamaku setelah pernikahan kita nanti?” tanya Sky.
“Benarkah?” tanya Ivy bersemangat dan seakan tak percaya.
“Tentu saja. Aku harus berbicara dengan kedua orang tuamu, bahwa aku yang akan selalu menjaga, menyayangi, dan mencintaimu.”
“Terima kasih,” Ivy langsung memeluk Sky dengan erat.
“Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu masih mau berada di sisiku, setelah apa yang pernah kulakukan padamu,” Sky pun mengecup kening Ivy.
“Hei, hei! Ini mau sampai kapan gue berdiri di sini? Gue serasa lagi nonton film romantis tahu nggak sih!” gerutu Sean dengan kesal, karena dirinya yang masih jomblo harus melihat sahabatnya yang tengah bermesraan.
“Kak Sean? Kakak juga di sini?” tanya Ivy.
“Vy, Vy, gue udah dari sini dari tadi. Gila, saking dunia serasa milik berdua, gue udah nggak keliatan. Mungkin dari tadi gue mirip tanaman kali ya,” kata Sean sambil mencebik kesal.
“Maaf Kak, hanis dari tadi ketutupan,” kata Ivy sambil terkekeh.
“Ketutupan … ketutupan kekuatan cinta? Ishhh! Tega banget lo berdua emang,” gerutu Sean.
“Ayo Kak, masuk. Kak Sean udah makan belum?”
“Belum. Justru ke sini mau numpang makan,” katanya, masih dengan nada kesal. Sementara itu Ivy dan Sky hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Sean.
Saat mereka menyantap makan siang,
“Sayang, apa tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membantu acara pernikahan kita? Sepertinya aku tidak melakukan apapun,” kata Ivy.
“Tidak perlu, Love. Sean sudah menyelesaikan semuanya dengan sangat baik.”
“Ah kalian itu, suka banget ya nyiksa gue.”
“Gue nggak nyiksa, Se. Hitung-hitung itu semua buat lo belajar mempersiapkan pernikahan lo nanti,” kata Sky.
“Nikah? Gue jadi mikir ulang buat nikah kalau repotnya kayak begini.”
“Apa kakak udah punya calon?” tanya Ivy.
“Calon? Boro-boro! Calon pacar aja belum ada. Nasib …,” Sean menyuapkan satu sendok penuh makanan ke dalam mulut.
“Tenang kak, semua sudah diatur. Pasti calon kakak sedang on the way.”
“Amin. Lo nggak punya kenalan-kah Vy?” tanya Sean.
“Aku jarang punya teman dekat, Kak. Malah bisa dibilang nggak ada, karena sejak dulu aku selalu ikut Dad, jadi tidak ada yang dekat.”
“Ya sudahlah, siapa tahu calonnya masih ada du ujung belokan situ ya. Dia lagi bingung mau belok kiri apa belok kanan,” kata Sean sambil terkekeh.
Mereka pun menyantap makan siang sambil terus mengobrol dan bersenda gurau.
**
Hari ini adalah hari pernikahan Sky dengan Ivy. Mereka sudah di rias dengan sempurna sehingga menampakkan wajah mereka yang tampan dan cantik, tentu saja tetap natural.
Acara pemberkatan pernikahan mereka dilaksanakan secara sederhana, hanya anggota keluarga saja. Walaupun hanya keluarga, namun tetap tak tampak kedua orang tua Sky. Ia memang tidak berhatap mereka hadir, karena sejak lama Sky hanya merasa memiliki Grandpa Luther.
Pemberkatan pernikahan dilaksanakan sekitar jam 10 pagi. Setelah itu, mereka dibawa ke sebuah ruangan khusus untuk keluarga di tempat di mana akan diselenggarakannya resepsi pernikahan mereka.
“Love, kamu makan dulu,” kata Sky pada Ivy, sambil berusaha menyuapinya.
“Hei! Kalian berdua itu nggak bisa apa romantisnya ditunda dulu? Nanti tunggu berduaan, baru deh. Jangan suka menyiksa yang melihat,” gerutu Sean.
Sejak Sean mendapatkan tugas untuk mempersiapkan pernikahan Sky dan Ivy, Sean memang menjadi mudah marah dan kesal. Itu semua dikarenakan dirinya yang sangat lelah, bahkan ia harus selalu menyaksikan kemesraan sahabatnya itu tepat di depan matanya yang jomblo.
“Lo ngiri kan?” Kata Sky yang disambut gelak tawa Gil dan Daniel yang juga berada di ruangan tersebut.
Sean hanya mencebik kesal melihat sahabat-sahabatnya. Namun, baru saja ia ingin kembali menimpali perkataan Sky, pintu ruangan tersebut diketuk dari luar. Seorang pelayan dari rumah Sky yang memang ditugaskan di sana untuk membantu keperluan Ivy pun berjalan ke arah pintu untuk membukakan.
“Permisi, bisakah saya bertemu sebentar dengan kedua mempelai?”
Pelayan itu pun menoleh ke arah Sky dan Sky pun mengiyakan. Saat wanita itu masuk ke dalam ruangan, keempat pria itu membulatkan matanya. Mereka sangat tahu siapa yang berada di sana. Sky juga sedikit merasa tertekan karena ia takut kedatangan wanita itu untuk mengganggu acara pernikahannya.
“Kamu?”
🌹🌹🌹