
“Dad!!” teriak Daniel ketika mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Dad Donald.
“Kamu tidak ada hak untuk menolaknya. Ini semua sudah diputuskan dan kamu hanya perlu mengikutinya,” ujar Dad Donald.
“Kalian memang orang tuaku tapi bukan berarti kalian berhak mengatur hidupku,” Daniel langsung keluar dari ruang kerja Dad Donald dan membanting pintu dengan sangat keras.
Dad Donald tiba-tiba memegang dadanya yang terasa sakit. Ia berjalan menuju meja dan berpegangan, kemudian dengan perlahan membuka salah satu laci dan mengambil obat miliknya. Ia menegak 1 buah pil sebelum akhirnya ia duduk di kursi.
“Maafkan Daddy, Nil. Dad tidak memiliki jalan lain. Kalau Dad tidak melakukan ini maka perusahaan keluarga kita akan hancur. Kita tidak akan memiliki uang lagi untuk membiayai pengobatan Daisy,” Dad Donald memejamkan matanya dan buliran air turun dari matanya.
Ia tahu dia akan mengorbankan kehidupan putranya, namun ia juga tak bisa begitu saja mengorbankan putrinya. Saat ini ia berada di dalam dilema yang amat sangat.
Sementara itu di tempat yang lain, seorang gadis sedang berusaha menolak permintaan Daddynya. Ia tersungkur ke lantai dan berharap Daddynya mau mempertimbangkan keputusannya.
“Dad, aku tidak mau menikah dengannya. Aku sudah memiliki kekasih,” kata Vinnie sambil memegang tangan Dad Davis.
“Kekasih? Apa pria yang bekerja sebagai pelayan cafe itu yang kamu jadikan kekasih?” tanya Dad Davis.
“Namanya Elliot, Dad. Dia adalah pria yang baik. Dia menyayangi dan mencintaiku, begitu juga aku,” Vinnie terus berlutut di kaki Dad Davis, berharap Dad Davis mau membatalkan perjodohannya.
“Sekali Dad katakan tidak! Maka tidak! Jika kamu masih berhubungan dengan pria itu, jangan salahkan Dad jika Dad membuat keluarganya hancur hingga ia tak bisa bekerja lagi di manapun!” ancam Dad Davis.
Degg
Air mata yang sedari tadi sudah luruh di pipi Vinnie, kini semakin mengalir deras. Ia bangkit dan keluar dari kamar tidur Dad Davis dengan perasaan yang hancur. Mendengar Dad Davis akan menghancurkan Elliot, membuat Vinnie tak mampu berkata-kata lagi.
Vinnie masuk ke dalam kamar tidurnya dan menjatuhkan diri di samping tempat tidurnya. Ia kembali menangis dan merebahkan kepalanya di tempat tidur.
“Mom, kalau saja dirimu berada di sini, Dad pasti tidak akan memaksaku kan? Mom pasti akan membelaku, Mom akan membantuku,” Vinnie terus menangis hingga ia terlelap dalam keadaan masih duduk di samping tempat tidurnya.
**
Setelah mengurus izin kepindahannya ke Kota New York, kini Dad Arthur dan Ivy telah sampai di depan sebuah apartemen yang telah disiapkan oleh perusahaan. Tuan Roger yang adalah CEO perusahaan telah mengangkat Dad Arthur sebagai penasehat manajemen perusahaan dan bertanggung jawab dalam pengawasan sistem serta manajemen para pegawai.
Apartemen yang disediakan terbilang cukup mewah. Apartemen tersebut terdiri dari 2 kamar tidur yang lumayan luas, ruang tamu, ruang makan, dapur, serta sebuah ruang keluarga yang terhubung langsung dengan balkon. Balkon tersebut menghadap langsung ke arah pusat Kota New York.
Ivy berdiri di balkon sambil memandang Kota New York, “Ini indah sekali.” Ivy menghirup udara Kota New York dalam dalam, seakan mengingat kembali keberadaannya dulu.
CEO di mana Dad Arthur bekerja, Tuan Roger, sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Dad Arthur sejak awal ia diterima bekerja hingga saat ini. Dad Arthur dikenal sebagai pribadi yang disiplin, jujur, bertanggung jawab, serta loyal kepada perusahaan. Jadi, semua fasilitas yang diberikan, sudah selayaknya ia terima.
**
Pranggg pranggg
Terdengar suara pecahan kaca dan benda-benda berjatuhan, yang membuat suasana rumah seakan mencekam. Hilda yang sedang berada di kamar bersama dengan Daisy pun langsung memegang dadanya yang kaget.
“Sayang, kamu tunggu sebentar ya. Mom akan melihat apa yang terjadi.”
Hilda beranjak dari pinggir tempat tidur dan keluar dari kamar Daisy. Ia langsung menuju ke arah asal suara. Namun belum sempat ia sampai, kembali suara pukulan yang bertubi-tubi terdengar menghantam dinding.
“Nyonya, Tuan Daniel …,” seorang pelayan memberi tahu Hilda tentang asal suara itu.
Hilda langsung naik ke lantai atas dan menghampiri kamar tidur putranya, “Nil, sayang. Apa yang terjadi?”
Wanita paruh baya itu berusaha membuka pintu kamar tidur Daniel, namun ternyata terkunci dari dalam.
“Nil, buka pintunya sayang. Ada apa denganmu, ceritakan pada Mom,” Hilda terus berusaha mengetuk pintu agar Daniel mau membukanya.
Ceklekk
Pintu akhirnya terbuka setelah seorang pelayan datang dan membawakan kunci cadangan. Mata Hilda langsung membulat ketika melihat kondisi kamar tidur putranya itu. Semua sudah hancur berantakan dan ia bisa melihat tangan putranya itu berdarah.
“Daniel, apa yang kamu lakukan?” Mom Hilda langsung menghampiri Daniel tanpa mempedulikan apa yang ia lewati. Di lantai berserakan pecahan kaca dan benda-benda lain yang dihancurkan oleh Daniel.
“Sayang, maafkan Mom,” Mom Hilda langsung memeluk Daniel. Ia tahu apa yang terjadi pada Daniel, namun ia juga tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya Daniel yang bisa membantu dan mengembalikan keadaan keluarga mereka saat ini.
“Mommm!!! Mengapa Dad tidak mau mendengarkan aku. Apa salahku? Mengapa ia memaksakan kehendaknya padaku. Jika karena keadaan perusahaan dan kita akan kehilangan semuanya, itu tidak masalah. Aku masih bisa bekerja sebagai dokter dan menghidupi kalian,” kata Daniel.
“Mom tahu akan hal itu, tapi …,” perkataan Mom Hilda terhenti ketika seorang pelayan berteriak.
“Nyonya!!! Nona Daisy!” Ketika mendengar nama Daisy, Mom Hilda langsung bangkit dan meninggalkan Daniel. Daniel agak bingung dengan reaksi Mom Hilda.
Sejak kepulangannya dari Jerman, Daniel memang sibuk dengan dirinya sendiri. Ia selalu larut dalam masalahnya. Ia berdiam di dalam kamar tanpa rasa ingin keluar. Ia hanya akan keluar ketika ingin berbicara dengan Dad Donald dan mempertahankan apa yang ia inginkan. Bahkan ia tidak tahu kalau adiknya, Daisy, berada di rumah. Setahunya Daisy berada di California.
“Daisyyy!” Daniel bisa mendengar teriakan dari Mom Hilda yang pada akhirnya membuat Daniel keluar dari kamar tidurnya.
🌹🌹🌹