Only Love

Only Love
#57



“Sky?” gumam Ivy.


“Apa kamu sudah selesai bersembunyi?” tanya Sky.


Sky memasuki ruang tamu rumah itu yang terlihat tidak terlalu besar. Di sana terdapat sofa lengkap dengan meja, juga sebuah lemari kaca yang berisi obat-obatan. Terlihat bahwa Ivy berada di sana untuk membantu para penduduk desa yang membutuhkan bantuan atau jasa seorang dokter.


Sean yang melihat keduanya pun akhirnya berinisiatif untuk keluar dari ruangan. Ia memilih untuk duduk di sebuah kursi yang ada di teras rumah itu, yang mungkin dijadikan Ivy sebagai area tunggu.


Ia tak ingin mengganggu Sky dan Ivy. Ia sangat yakin, banyak hal yang harus keduanya bicarakan.


“Mengapa kamu pergi? Mengapa tidak memberitahuku?” tanya Sky.


Ivy menundukkan kepalanya. Ia meremas kedua tangannya. Sejujurnya ia bingung apa yang harus ia katakan. Namun, ia mengumpulkan keberaniannya dan mulai mengangkat kepalanya. Ivy menatap Sky tepat di manik mata pria itu.


“Maaf, aku hanya merasa membutuhkan waktu untuk sendiri dan berpikir. Selama ini aku merasa sudah banyak membebani orang lain. Selain itu, aku tak ingin kamu harus memilih antara diriku ataupun wanita yang dijodohkan denganmu, jadi aku memutuskan bahwa aku yang akan memilih.”


“Tapi, Vy. Bukankah aku pernah mengatakan padamu untuk percaya padaku? Apa selama ini kamu tidak mempercayaiku?” tanya Sky.


“Aku percaya kalau kamu tidak akan melakukan hal yang tidak kamu sukai dan tidak akan menyakitinorang yang kamu sayangi,” kata Ivy.


“Lalu, mengapa kamu pergi?”


“Saat aku melihat dirimu bertunangan, ntah mengapa dalam diriku mengatakan kalau kamu sudah memilih. Jadi, aku tidak akan menghalangi pilihanmu. Sedari awal aku sudah mengetahui kalau akhirnya akan seperti ini, dan seharusnya aku tidak pernah memulai. Mungkin itu hanya keegoisanku yang menginginkan dirimu selalu berada di sampingku, karena itulah saat itu aku menyetujuinya.”


“T-tapi …”


“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Bukankah kita masih bisa berteman? Seperti aku dengan Kak Daniel,” kata Ivy.


“Tapi aku tidak mau berteman denganmu!”


“Sky?”


“Vy, dengarkan aku. Kedatanganku ke sini hanya memiliki satu tujuan, yakni membawamu pulang bersamaku. Aku ingin kamu selalu ada di sisiku, menemani hari-hariku, dan … menua bersamaku.”


“Tapi bukankah ….”


“Aku sudah membatalkan pertunangan itu, yang artinya tak akan ada pernikahan di antara kami. Awalnya aku melakukan semua itu hanya demi Grandpa, agar kesehatanya tidak menurun dan tetap baik-baik saja. Namun aku terus berpikir, bahwa aku tak ingin mengorbankan kehidupnku, masa depanku. Aku tak ingin hidup dengan wanita yang tak kucintai,” Sky memegang pipi Ivy dengan kedua tangannya. Ia juga menyentuhkan keningnya pada kening Ivy.


“Percayalah padaku. Sungguh … aku tidak akan pernah sanggup kehilanganmu. Lebih baik aku mati saja jika hal itu terjadi lagi,” kata Sky.


Ivy langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir Sky, “Sudah, jangan mengatakan hal itu. Aku tak ingin kehilngan orang yang kusayangi lagi. Aku percaya padamu.”


Ivy memeluk Sky dengan erat dan membenamkn wajahnya di dada Sky. Kehangatan dan kelembutan yang ada di dalam diri Sky seakan meruntuhkan dinding yang perlahan ia bangun.


**


Sky meminta Sean untuk kembali ke New York terlebih dahulu, untuk menggantikannya mengurus perusahaan sementara waktu. Ia ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Ivy karena tak ingin langsung kembali.


Ivy masih terikat kontrak kerja sebagai relawan pada salah satu website yang bergerak dalam bidang kemanusiaan. Ia masih harus menjalani masa kerja di sana selama 1,5 bulan. Setelahnya, ia baru boleh berhenti ataupun memperpanjangnya.


Ivy memberikan pengobatan secara gratis bagi penduduk di desa tersebut. Kadangkala, ia juga menjadi guru dadakan karena anak-anak di desa tersebut sangat menyukainya. Sifatnya yang ramah dan lembut, sangat disukai oleh mereka.


“Apa kamu betah berada di sini, Love?” Ivy menyukai panggilan Love yang diberikan oleh Sky padanya.


“Hmm …”


“Kembalilah ke New York bersamaku. Nanti kita akan sering berkunjung ke sini jika kamu menyukai tempat ini.”


“Aku sangat suka ketenangan di sini,” jawab Ivy.


“Aku bisa membayarnya,” kata Sky.


“Tidak. Aku tak mau kamu melakukan itu. Aku memerlukan ketenangan di sini.”


“Apa ini semua karena aku?”


“Tidak, Sky. Sama sekali tidak. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Saat aku mulai berhubungan denganmu, aku pun tidak mengharapkan apa-apa. Aku hanya memiliki hati yang menyayangimu. Jadi, saat aku mendengar berita tentangmu, aku memang merasa kehilangan, sakit hati, dan juga sedih. Namun, aku tahu itu semua salahku.”


“Aku hanya melarikan diri karena merasa aku memerlukan waktu untuk sendiri. Aku butuh ketenangan untuk meredakan teriakan-teriakan yang ada di dalam diri, bukan bermaksud untuk meninggalkanmu,” kata Ivy.


Sky membawa Ivy untuk masuk ke dalam pelukannya. Ia memegang erat bahu Ivy dan mengecup pucuk kepalanya, “Tenanglah, aku akan selalu bersamamu. Aku tak akan pernah meninggalkanmu, apapun yang terjadi. Percayalah.”


Ivy menganggukkan kepalanya dan membalas pelukan Sky. Sky mencium kening Ivy, turun ke mata, pipi, dan terakhir ia menempelkan bibirnya ke bibir Ivy. Dengan sebelah tangannya ia meraih tengkuk Ivy untuk memperdalam ciumannya. Ia melummat bibir Ivy dengan penuh kelembutan. Lidah mereka saling bertautan, mengabsrn setiap titik salam rongga mulut mereka.


“I love you,” kata Sky ketika mereka menghentikan ciuman mereka untuk mengambil nafas kembali.


**


Beberapa hari berlalu,


Sebenarnya, Sky bisa saja melimpahkan semua pekerjaannya untuk sementara waktu pada Sean. Ia juga bisa meminta tolong pada Gil, namun ada beberapa kontrak kerja yang harus ia selesaikan secara langsung.


Sky tak ingin perusahaan yang telah dibangun oleh Grandpa Luther mengalami kerugian akibat ulahnya.


“Ada apa, Sky?” tanya Ivy.


“Panggil aku sayang,” kata Sky sedikit merajuk.


Ivy tersenyum dan duduk di sebelah Sky, “katakan, ada apa denganmu, sayang?”


“Aku nggak mau kembali ke New York,” jawab Sky.


“Bukankah kamu memiliki banyak pekerjaan? Kasihan Kak Sean harus mengerjakan semuanya seorang diri. Jangan sampai semuanya berantakan hanya karena aku.”


“Aku malas bertemu dengan Grandpa.”


“Mengapa?”


“Grandpa hanya memberiku waktu 1 bulan untuk menemukanmu dan membawamu bertemu dengannya. Kalau tidak …”


“Kalau tidak, apa?” tanya Ivy.


“Kalau tidak, ia akan membuatkan perjodohan lagi untukku dan kali ini aku tak akan boleh menolak.”


Ivy menangkup wajah Sky dengan kedua tangannya, “tenanglah. Kalau kita memang berjodoh, Tuhan akan memudahkan semuanya. Bukan begitu?”


“Aku tahu, tapi aku kuga tidak mau pasrah begitu saja. Aku tahu Grandpa tidak akan melepaskanku begitu saja,” kata Sky.


“Kembalilah. Aku yakin kamu bisa mengatasinya. Aku masih harus berada di sini sekitar 1 bulan lagi. Setelah itu, aku yang akan pergi untuk mencarimu.”


“Benar?” tanya Sky dan Ivy menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, aku akan menunggumu. Ingat, jangan melarikan diri lagi,” kata Sky.


“Tidak, Kak. Sepertinya percuma aku melarikan diri darimu, karena kamu akan selalu menemukanku,” kara Ivy.


🌹🌹🌹