Only Love

Only Love
#30



Sky yang kini berdansa dengan Vinnie, melihat ke arah wanita itu, “Apa kamu baik-baik saja?”


“Aku baik, terima kasih,” jawab Vinnie sambil sekilas melihat ke arah Daniel dan Ivy yang tengah berdansa.


“Tapi aku tidak melihat seperti itu. Aku tahu perasaanmu, aku akan membantumu memisahkan mereka.”


“B-bukan itu maksudku,” kata Vinnie dengan lirih, namun Sky sudah melepaskan tangannya dan berjalan menuju ke arah Daniel dan Ivy.


“Permisi Tuan Daniel, bolehkah saya mengambil kembali partner dansa saya?” tanya Sky dengan menengadahkan tangannya ke arah Ivy.


Sky bisa melihat perubahan raut wajah Daniel. Pria itu merasa kesal dan mood-nya berantakan. Musik masih mengalun, oleh karena itu Daniel kembali berdansa dengan Vinnie meski dengan sikap yang ogah-ogahan. Daniel terus melihat ke arah Ivy yang kini sudah kembali berdanaa dengan Sky.


Ivy menautkan kedua alisnya dan memalingkan sedikit wajahnya, ia tampak sedang berpikir. Sesaar kemudian, lampu dibuat lebih temaram lagi dari sebelumnya dan menyorot ke beberapa pasangan yang masih berada di lantai dansa.


Musik berubah menjadi sangat pelan dan terkesan lebih romantis. Sky memindahkan kedua tangan Ivy ke lehernya, sementara ia sendiri meletakkan tangannya di pinggang Ivy.


Ivy melihat ke arah Sky setelah pria itu merubah posisi tangannya. Mereka berdua bertatapan dan tiba-tiba keduanya diliputi suasana canggung. Ivy sadar sedari tadi Daniel terus melihat ke arahnya, membuatnya tidak enak hati dengan Vinnie.


Ivy mendekatkan wajahnya ke telinga Sky dan berbisik, “Kak, maafkan aku. Sekali ini aku meminta bantuanmu. Setelah ini, aku akan menganggap semuanya impas.”


Sky yang tidak mengerti maksud dari perkataan Ivy, hanya bisa mengerutkan dahinya tanda bertanya-tanya. Dengan sedikit berjinjit, Ivy mendekatkan wajahnya ke wajah Sky, membuat Sky bisa merasakan deru nafas Ivy yang tidak beraturan.


Apa yang akan dia lakukan? - batin Sky yang hanya terdiam.


cuppp …


Ivy mengecup bibir Sky setelah sebelumnya ia memastikan Daniel sedang melihat ke arahnya. Ivy bisa merasakan perubahan pada wajah Daniel dari sudut matanya. Tanpa banyak bicara, Daniel langsung meninggalkan lantai dansa dan ntah pergi ke mana.


Setelah melihat Daniel pergi meninggalkan lantai dansa, Ivy pun akhirnya keluar juga dari lantai dansa dan segera menuju keluar, ke arah parkiran. Ia meninggalkan Sky begitu saja.


Kecupan yang diberikan oleh Ivy yang hanya sepersekian detik, mampu membuat jantungnya berpacu dengan cepat dan pikirannya porak poranda. Para tamu yang hadir pasti tidak akan menyadarinya karena Ivy memang melakukannya dengan sangat cepat karena hanya ingin memperlihatkan kepada Daniel.


Ciuman pertamaku. - batin Sky.


Dari kejauhan, Nyonya Hilda yang sejak tadi memperhatikan interaksi di antara ke empat orang tersebut, tersenyum dan bergumam, “Terima kasih, Ivy.”


Daniel yang kesal pun langsung pergi ke kamar hotel yang telah dipesan sebelumnya untuk mereka bermalam. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membuka shower, membiarkan air membasahi tubuhnya. Selama ia berhubungan dengan Ivy, tak pernah sekalipun ia dan Ivy berciuman meskipun ia sangat menginginkannya. Ia berusaha menghargai Ivy karena kedua orang tuanya berasal dari timur yang sangat menghargai hal-hal seperti itu.


Malam ini dipastikan Sky tidak akan bisa tidur. Wanita yang ia cintai mencium dirinya, meskipun ia tahu ada suatu maksud di balik ciuman tersebut.


Itu hanya kecupan, Sky. Bukan sebuah ciuman. - batin Sky sambil terus memegang bibirnya.


**


Terdengar suara pintu kamar hotel tersebut terbuka, Vinnie yang baru selesai mengikuti acara ulang tahun Daniel tanpa peran utama di dalamnya terlihat lelah. Ia harus membantu mertuanya untuk menjelaskan kepada para tamu, mengapa Daniel pergi meninggalkan acara begitu saja.


Daniel tak mempedulikan Vinnie, bahkan saat ini hati dan pikirannya turut menyalahkan wanita itu karena telah membuat Ivy semakin menjauh darinya.


Vinnie yang melihat Daniel di atas tempat tidur, hanya melewatinya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Ia ingin berendam untuk merelakskan tubuhnya serta membersihkan dirinya.


“Aku harus membuat perhitungan dengan wanita itu. Ia dan orang tuanya yang telah membuatku berada di dalam situasi seperti ini,” gumam Daniel sambil mengubah posisinya menjadi duduk dan bersandar di kepala tempat tidur. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya memutih.


Saat Vinnie keluar dari kamar mandi, ia menggunakan bathrobe dan berjalan menuju wardrobe di mana ia meletakkan tas miliknya yang berisi pakaiannya. Dari sudut matanya, ia tahu bahwa saat ini Daniel sedang memperhatikannya.


Setelah menyelesaikan ritualnya berganti pakaian, ia berjalan menuju tempat tidur. Daniel dan Vinnie memang tidur di satu tempat tidur yang sama. Mereka berbagi tempat dengan penghalang sebuah bantal di bagian tengah.


Vinnie memang jarang berbicara dengan Daniel karena Daniel-lah yang meminta agar ia tak banyak bicara apalagi ikut campur dalam hal apapun yang berkaitan dengan dirinya.


“Kamu pasti senang dengan apa yang terjadi denganku kan?” kata Daniel tiba-tiba.


Vinnie yang baru saja ingin merebahkan diri pun akhirnya tidak jadi melakukannya dan duduk melihat ke arah Daniel, “apa maksudmu?”


“Kamu pasti senang melihat Ivy bersama dengan pria lain dan menyakiti hatiku. Jangan-jangan kamu ingin menguasaiku seperti Daddymu yang ingin menguasai keluargaku.”


Deggg


Hati Vinnie seakan ditusuk ketika Daniel mengatakan hal itu. Tak pernah terbersit sekalipun ia ingin menguasai Daniel.


“Cepat katakan apa sebenarnya maumu?!” Daniel meraih pergelangan tangan Vinnie hingga Vinnie meringis. Ia sudah terbiasa dengan sikap dingin Daniel, tapi kekerasan fisik baru kali ini ia mendapatkannya.


Daniel naik ke atas tempat tidur dan mendekati Vinnie. Ia mencengkeram dagu Vinnie dengan kasar, “Cepat katakan apa maumu!!”


“A-aku ti-tidak ingin a-apa a-pa. To-long le-pas-kan aku. Sa-sakit,” wajah Vinnie sudah mulai memucat ketika Daniel memindahkan cengkeraman tangannya ke lehernya.


Vinnie memegang pergelangan tangan Daniel dengan kedua tangannya, berharap Daniel mau melepaskannya.


Dengan kasar, Daniel melepaskan tangannya dan menghempaskan Vinnie begitu saja di atas tempat tidur. Amarah yang memuncak melihat Vinnie, membuat Daniel akhirnya keluar dari kamar hotel dan pergi menuju club yang terletak di lantai 2 hotel tersebut.


Ia duduk di depan bartender dan memesan segelas minuman. Ia menegaknya secara langsung dan membuatnya meringis. Rasa minumannya begitu pahit, sebelas dua belas dengan kehidupannya saat ini.


Vy, jangan kamu berpikir aku akan melepaskanmu. Aku akan tetap memilihmu meskipun kamu melakukan hal itu. Aku tahu kamu hanya ingin menyakitiku, membuatku menjauh. - batin Daniel.


🌹🌹🌹