Only Love

Only Love
#49



“Kamu ingin mengajukan penambahan cuti? Berapa lama?” tanya Dokter Frans.


“Saya belum tahu, Dok. Ada hal yang harus saya selesaikam terlebih dahulu, tapi bukan di sini.”


“Baiklah. Kamu pergi saja ke bagian administrasi, minta surat pengajuan cuti seperti biasa. Kamu isi sesuai keinginan kamu, mudah-mudahan tidak terlalu lama karena kamu adalah salah satu dokter yang memiliki keahlian luar biasa,” puji Dokter Frans.


“Sekali lagi terima kasih Dok.”


Ivy kembali menuju bagian administrasi dan meminta surat perpanjangan pengajuan cuti. Ia diberi surat khusus karena Dokter Frans telah menghubungi bagian administrasi. Ia pun mulai mengisi form tersebut.


“Eh lihat tuh, udah mau tunangan. Acaranya akhir minggu ini. Aduhh, patah hati deh kita,” kata salah seorang staf di bagian administrasi.


“Iya, bisa jadi Hari Patah Hati RB Hospital.”


Ivy tersenyum kecil melihat tingkah laku staf dan perawat yang ada di bagian administrasi itu.


“Mau cuti lagi, Dok?” tanya staf administrasi tersebut.


“Iya, ada keperluan keluarga.”


“Yahh, nggak bisa ikutan acara patah hati bareng kita donk.”


“Siapa yang mau ikutan patah hati?” tanya Ivy.


“Nih lihat Dok, masa si Tuan Tampan mau tunangan akhir minggu ini. Beritanya baru rilis media hari ini,” kata staf tersebut.


Mata Ivy melebar, ia sedikit kaget melihat pemberitaan bahwa akan diadakan acara pertunangan antara Sky dengan seorang wanita bernama Elena Brandon.


Namun, Senyum kecil terulas di wajah Ivy. Ia sangat tahu hal ini akan terjadi, hanya tak menyangka akan secepat ini. Sakit yang dulu pernah ia rasakan, kini kembali datang.


Ini bukan salahnya, ini salahku. Seharusnya sejak awal aku tidak pernah menerimanya. Aku sangat tahu ini akan membuatku kembali terluka, tapi ntah mengapa aku ingin mencoba bersamanya, meski hanya sementara.


Memang tak ada kisah tentang cinta yang bisa terhindar dari air mata. Seharusnya sejak awal aku menghindar, tapi aku malah berjalan menuju ke arahnya. Meskipun aku tahu semua akan berakhir menyakitkan. - batin Ivy.


Alih-alih ingin mengajukan cuti, Ivy meminta form untuk surat pengajuan pengunduran diri. Ia tak ingin menjadi beban bagi Sky, seperti dirinya menjadi beban bagi Daniel.


“Loh Dok, kok resign? Nggak jadi ambil perpanjangan cuti?” tanya staf administrasi tersebut.


“Setelah saya pikir-pikir, saya akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengurus masalah keluarga ini. Saya minta tolong berikan surat ini pada Dokter Frans ya, karena saya harus mengejar keberangkatan saya,” kata Ivy sambil melihat ke arah jam di pergelangan tangannya.


“Baik, Dok,” staf tersebut mengambil form pengunduran diri dari tangan Ivy dan memasukkannya ke dalam sebuah map.


Ivy pun akhirnya meninggalkan RB Hospital, tanpa menoleh ke belakang lagi.


Flashback off


**


Di sinilah Ivy sekarang, di sebuah negara yang terkenal dengan sebutan Negara Matahari Terbit.


Ia duduk menyendiri di sebuah dipan kayu yang berada di halaman rumahnya. Dipan kayu itu adalah buatan tangan Dad Arthur, masih terjaga kualitasnya karena menggunakan kayu yang berkualitas baik.


Ivy mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil menghirup udara pagi dalam-dalam. Ia begitu menikmati udara pagi dengan salju di sekelilingnya. Dengan pakaian yang cukup tebal, Ivy merebahkan tubuhnya di atas dipan dan memandang ke langit, memperhatikan awan berwarna putih yang berbentuk seperti tumpukan kapas.


Dad, Mom, mengapa kalian meninggalkan aku sendirian. Aku kesepian. Mengapa kalian tidak mengajakku juga. - batin Ivy.


Setelah ia resign dari RB Hospital, ia langsung membeli tiket ke Jepang. Ia memang berencana kembali ke negara tersebut dengan membawa abu milik Dad Arthur. Seperti permintaan Daddynya itu semasa hidup, ia ingin agar abu miliknya disandingkan dengan abu milik Mom Keiko.


“Sky, maafkan aku. Aku pergi tanpa memberitahumu. Aku tidak ingin untuk kesekian kalinya menjadi beban bagi hidup orang lain. Biar aku saja yang merasakan sakit ini, aku tidak akan membencimu,” gumam Ivy.


Ia pun akhirnya berjalan masuk ke dalam rumah karena langit mulai sedikit gelap dan salju mulai kembali turun.


**


Sky yang kini berada di dalam kamar tidur milik Gil, merebahkan dirinya di atas sofa, sementara sahabatnya itu sedang memainkan ponsel di atas tempat tidurnya.


Sky menutup mata menggunakan lengannya. Saat ini ia tak mampu berpikir, apalagi untuk berbicara. Yang ia perlukan saat ini adalah seseorang yang bisa menemaninya.


“Lo mandi dulu gih sana,” Gil memberikan sebuah handuk yang masih baru kepada Sky.


“Gue nginep sini ya Gil.”


“Iya, mandi dulu sana.”


Sky berjalan gontai ke arah kamar mandi. Seperti biasa, ia akan meminjam pakaian milik Gil karena ukuran tubuh mereka yang hampir sama.


“Dia ke mana ya Gil? Gue udah cari ke apartemennya, ke rumah sakit, tapi dia nggak ada,” kata Sky.


“Dia nggak ada hubungin lo atau kirim pesan?” Gil menoleh ke arah Sky.


“Nggak, nggak ada sama sekali. Semua pesan singkat gue juga cuma dibaca, nggak ada satupun yang dibalas,” jawab Sky.


“Lo nggak lagi ada masalah kan sama Ivy?” tanya Gil.


“Nggak ada. Malah malem sebelum gue berangkat ke Rio, gue semakin dekat sama dia. Cuma tadi gue baru tahu kalau Uncle Arthur meninggal.”


“Whatt??!!” Gil akhirnya mulai beralih dari ponselnya.


“Gue sama sekali nggak tahu dan Ivy sendiri nggak ada ngomong apa-apa sama gue.”


“Tentang pertunangan lo sama nenek sihir itu, apa Ivy tahu?” tanya Gil.


“Ntahlah. Sean bilang kalau berita pertunangan itu sudah ada sejak seminggu yang lalu, yang artinya …”


“Dia udah tahu dan mungkin melihat dan mendengarnya sendiri dari media,” kata Gil melanjutkan.


Sky menganggukkan kepalanya. Wajahnya benar-benar terlihat lesu dan lelah.


“Jadi sekarang lo bener-bener nge-blank?”


“Yup! Gue bener-bener nggak tahu mesti cari dia ke mana. Besok gue akan coba minta Sean buat cari informasi apapun yang berhubungan dengan Ivy. Sekarang ini, gue bener-bener nggak bisa mikir,” Sky meremas kepala dengan kedua tangannya.


Gue udah pernah kehilangan dia satu kali. Ketika menemukannya kembali, ia telah bersama dengan pria lain. Sekarang ketika sudah bersama, mengapa kamu menghilang tanpa kabar sedikitpun. Aku sudah memintamu untuk percaya, bahwa aku akan melakukan apapun untuk membuatmu twtap di sampingku. - batin Sky. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menutup wajahnya sendiri dengan tangan.


Sky memerlukan istirahat karena besok, ia akan mulai melakukan banyak hal demi masa depannya.


🌹🌹🌹