
"tidak,lepaskan aku!!"ucap Desi sambil berteriak,raut wajahnya sudah pucat pasi.
Alvaro menyeringai"masih tidak ingin memberitahu padaku? Kalau kau tidak mau mengatakannya aku akan memberikan tubuhmu pada pengawal ku,bagaimana?"tanya nya.
"Ja-jangan"ucap Desi sambil menggelengkan kepala dengan takut.
"Katakan"ucap Alvaro dingin.
"Ba-baiklah,akan aku katakan"ucap Desi.
"Bagus"Alvaro menyeringai.
Disisi lain...
Hana baru saja mengeluarkan isi perutnya, tiba-tiba ia merasa mual dan sudah dua kali Hana keluar masuk kamar mandi.
"Hoekkk..."Hana memegang wastafel dengan erat.
Sebuah tangan membenarkan letak rambutnya yang menjuntai,Hana menatap ke arah cermin teryata itu adalah Alvaro.
"Masih mual,hm?"tanya Alvaro sambil memijat tengkuk Hana.
Hana mengangguk lesu,lalu ia kembali mengeluarkan isi perutnya namun lagi-lagi yang keluar hanya lendir.
Alvaro langsung menggendong tubuh Hana dan membaringkannya di atas kasur dengan perlahan.
Alvaro membersihkan mulut Hana dengan sapu tangan nya lalu mencium kening Hana dengan sayang.
"Aku akan memanggil Ervan kemari untuk memeriksa kondisi mu"ucap Alvaro lalu ia berjalan keluar.
Tak lama kemudian Alvaro kembali lagi bersama Ervan.
Ervan langsung memeriksa kondisi tubuh Hana dengan stetoskop miliknya lalu memeriksa kondisi denyut tangannya.
"Tidak ada yang harus di khawatirkan"ucap Ervan.
"Apa maksudmu?"Alvaro menarik baju Ervan.
"Istriku terus-menerus muntah dan kau bilang tidak ada yang harus di khawatirkan? Kau mau mati ya?"ucap Alvaro dengan geraman kecil.
"Hey bodoh,ini hanya reaksi biasa karena istrimu sedang hamil. Dia sedang mengalami morning sickness,itu wajar bodoh!!"ucap Ervan kesal.
"Kau--"
"Sudah Alvaro,Ervan terima kasih"ucap Hana sambil tersenyum.
"Sama-sama,jika bukan karena aku akan memeriksa mu. Aku mana mau datang kerumah orang bodoh ini"ucap Ervan sambil mengumpat.
Alvaro baru saja ingin melempar buku namun Hana menahan tangan Alvaro.
"Yasudah,Hana aku memberimu vitamin dan obat menahan agar kau tidak muntah. Minumlah setelah kau makan"ucap Ervan.
Hana mengangguk"ok,terima kasih"ucapnya.
Ervan mengangguk"kalau begitu aku pamit dulu"ucapnya.
Hana melambaikan tangannya kearah Ervan membuat Alvaro menggerutu kesal.
"Kenapa kau tersenyum padanya?"tanya Alvaro kesal.
"Oh ayolah,dia sepupumu. Jangan bersikap seperti itu lagi!"ucap Hana.
"Dia menyebalkan"gerutu Alvaro kesal.
"Ck! Sudahlah"ucap Hana,ia turun dari kasur dengan perlahan.
"Kau mau kemana? Jangan turun dari kasur Hana,kau masih lemas!!"ucap Alvaro kembali menggendong tubuh Hana.
"Alvaro!!"ucap Hana sambil memukul lengan Alvaro.
"Biar aku saja yang ambilkan."
∆∆∆
"Sudah kenyang?"tanya Alvaro sambil meletakkan mangkuk kosong di nakas.
Hana mengangguk lalu ia meminum obat yang di berikan Ervan padanya tadi.
"Sekarang tidurlah"ucap Alvaro sambil ikut berbaring di samping Hana.
Alvaro menarik tubuh Hana agar berada di atas tubuhnya ia mengelus punggung Hana.
"Apa masalah tadi sudah selesai?"tanya Hana.
"Tentu saja,hanya seekor semut kecil yang masuk kedalam perangkap. Ini mudah"ucap Alvaro dengan nada sombong.
Hana tersenyum tipis lalu ia memainkan kancing kemeja Alvaro membuat Alvaro menggeram.
"Sayang,jika kau melakukan itu lagi aku tidak bisa menjamin dapat menahannya lagi untuk waktu yang lama"ucap Alvaro sambil menggeram kecil.
"Eh,"Hana langsung menjauhkan tangannya dari baju Alvaro.
Alvaro memeluk pinggang Hana"aku harus menahannya sampai anak kita lahir,tapi kalau kau menggoda ku seperti itu. Aku tidak menjamin aku akan menahannya lagi"ucap nya.
Wajah Hana merah merona,ia memukul dada Alvaro dengan pelan membuat Alvaro tertawa kecil.
"Tidurlah"Alvaro mencium pelipis Hana sambil mengusap rambut nya.
Hana mulai memejamkan matanya sambil memeluk Alvaro dengan erat,Alvaro yang masih setia memandangi wajah Hana dari dekat.
Ia mengelus pipi Hana dengan pelan tak berapa lama terdengar dengkuran halus pertanda Hana sudah memasuki dunia mimpi.
Alvaro tersenyum lalu ia memindahkan tubuh Hana yang berada di atas tubuhnya dengan pelan.
Alvaro bangun perlahan lalu menyelimuti tubuh Hana dengan selimut lalu mencium keningnya sambil mengusap rambut Hana.
"Mimpi indah sayang"ucap Alvaro,lalu ia mengambil jas kerja nya lalu melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu dengan pelan.
"Saatnya menyelesaikan pekerjaan yang tertunda"gumam Alvaro sambil melihat jam di tangannya.
Alvaro langsung menaiki mobil miliknya dan keluar dari perkarangan rumahnya menuju kantor.
Alvaro sudah mengirim belasan bodyguard untuk menjaga rumahnya,jadi ia sedikit lega meninggalkan Hana walau hanya sebentar saja.
Handphone miliknya berdering,ia langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Alvaro!! Kembalikan data yang kau curi itu sialan!!"ucap Herry dengan kesal.
Alvaro tertawa kecil"tenang lah,santai sedikit"ucapnya.
"Alvaro!! Aku sedang tidak ingin main-main!!"ucap Herry marah.
"Oh ya? Siapa yang ingin bermain kau atau aku?"ucap Alvaro dingin.
"Aku tau kau yang mengirimkan ****** itu ke kantor ku,dan impas aku mengambil data milik kantor mu"sambung Alvaro datar membuat Herry terdiam.
"Alvaro!! Data itu sangat penting,kembalikan padaku"ucap Herry.
"Kembalikan? Ambilah kalau kau berani,aku akan menunggu"ucap Alvaro sambil menutup sambungan teleponnya dengan sepihak.
Alvaro menyeringai"heh,ingin ambil data milikmu,kemarilah jika kau punya nyali"ucapnya.
"Melawan ku sepertinya kau bosan hidup Herry."
∆∆∆
TBC