
Bintang tampak begitu tampan dengan kaus polos bewarna hitam dan tak lupa celana jeans yang ia kenakan. Bintang mengikat jaketnya dilehernya lalu memakai kacamata hitam.
Sedangkan Aksa ia memakai baju bewarna abu-abu dengan jaket bewarna biru tak lupa topi dikepala nya. Lalu Angkasa yang memakai baju bewarna putih polos dan hoodie bewarna putih juga.
"Akhirnya kita sampai juga di Indonesia," ucap Angkasa dengan senang. Ia melepas headset yang ia kenakan.
"Kita akan kemana mommy?" tanya Angkasa dengan semangat.
"Kita akan ke hotel dulu ya sayang," ucap Hana dibalas anggukan kepala Angkasa.
Angkasa tersenyum jahil pada Aksa lalu ia mengambil topi yang Aksa kenakan dan berlari menjauh.
"Sialan Angkasa! Kembalikan topi milikku!" teriak Aksa kesal lalu berlari mengejar Angkasa yang sudah menjauh.
Bintang menatap datar lalu memutar bola matanya dengan malas, ia pun melepas earphone yang ia kenakan. Ia menenteng tas bewarna hitam miliknya dibahu.
Alvaro memeluk pinggang Hana dengan posesif karena melihat banyak pria menatap istrinya dengan kagum.
Sepertinya ia salah untuk mengajak keluarganya berlibur. Alvaro mendengus kesal membuat Hana terkekeh lalu mengecup pipinya.
Bintang yang menjadi sorotan banyak gadis ia hanya berjalan dengan santai dengan pandangan dingin. Bintang juga mendengar bisikan-bisikan dari para gadis itu namun ia tidak peduli karena ia pun tidak mengerti apa yang tengah mereka ucapkan.
Aksa dan Angkasa masih saling mengejar satu sama lain membuat Bintang menatap malas bahkan mereka masih berada di bandara.
Bintang yang menatap jenuh ia pun menarik kedua jaket yang mereka kenakan dan menariknya keluar dari bandara.
Aksa dan Angkasa melotot kearah Bintang. "Diam atau aku akan melakukan sesuatu pada kalian," ancam Bintang membuat Aksa dan Angkasa bungkam seketika.
Bintang yang masih setia menarik jaket kedua saudaranya hingga mereka berada diluar bandara.
Membuat banyak orang menatap mereka penasaran sedangkan Hana dan Alvaro terkekeh pelan melihat kedua putranya yang tidak berkutik sama sekali.
"Terlalu dingin dan galak," ucap Hana.
Alvaro mencubit kedua pipi Hana. "Seperti dirimu," ucapnya.
"Ayo sayang," Alvaro merangkul pundak Hana.
Alvaro dan Hana memasuki taksi dan putranya menaiki taksi yang satu lagi mereka pun pergi menuju hotel terdekat.
Bintang membaringkan tubuhnya di kasur ia lebih memilih berbeda kamar dengan saudaranya yang tidak bisa diam itu.
Bintang mengusap rambutnya lalu ia keluar dari kamarnya, sepertinya ia akan pergi keluar sebentar.
Bintang berjalan sembari melihat sekitarnya, hotel disini tidak begitu buruk.
"Hey Bintang," panggil seseorang membuat Bintang menoleh.
"Apa kau masih mengingatku?" tanya seorang gadis berambut pirang tersenyum padanya.
∆∆∆
"Awas! Aku mau melompat!" teriak Angkasa yang langsung melompat kedalam kolam renang.
Aksa melotot kearahnya saat Angkasa sudah menceburkan dirinya hingga membuat gelombang air begitu kuat.
"Angkasa sialan!!" umpat Aksa.
Angkasa menyembulkan kepalanya lalu tertawa kecil melihat wajah kesal Aksa, ia pun berenang menuju pinggir kolam renang.
"Ngomong-ngomong dimana Bintang?" tanya Angkasa.
"Sayang, aku sudah bilang padamu. Jangan mengenakan bikini terlalu pendek," ucap Alvaro kesal.
"Bukan kah pakaian renang memang seperti ini?" tanya Hana bingung.
Alvaro berdecak kesal lalu berusaha menutupi tubuh Hana dengan handuk yang ia ambil tadi.
"Tidak boleh berenang!" ucap Alvaro kesal.
"Tapi---"
"Sayang," ucap Alvaro penuh peringatan.
Hana mendengus kesal. "Dimana Bintang? Kenapa aku tidak melihatnya dari tadi?" tanya nya.
"Aku tidak tau," balas Alvaro. "Ganti bajumu sayang,"
Hana mencibir kesal lalu kembali memasuki kamarnya membuat Alvaro bernafas lega. Ia tidak mau tubuh Hana terlihat oleh pria lain.
"Daddy! Dimana Bintang?" tanya Angkasa bingung.
Alvaro menggelengkan kepalanya. "Dia akan kembali nanti," ucapnya.
Saat Hana berjalan menuju kolam renang kali ini ia tidak memakai pakaian renang takut jika Alvaro akan mengamuk disana. Namun, saat ia berjalan di koridor hotel langkahnya terhenti saat melihat Bintang tengah bersama seorang gadis.
Hana nampak mengintip sembari menguping apa yang mereka katakan.
"Apa kau tidak mengingatku?" tanya Freya. Gadis berambut pirang yang memanggil Bintang tadi.
"Tidak," balas Bintang singkat dengan wajah datar.
Hana meringis apa putranya tidak bisa merubah mimik wajahnya menjadi lebih enak untuk dipandang?
Freya menghela nafas pelan. "Aku Freya, kita pernah sekelas. Kau tidak mengingatnya?" tanya nya.
"Lalu?" tanya Bintang malas ia bermaksud untuk meninggalkan gadis itu namun tangannya ditahan.
"Lepas!" desis Bintang dingin.
Membuat Freya langsung melepaskan tangannya. "Aku gadis yang waktu itu pernah mencium pipimu," ucap nya dengan wajah memerah.
Hana terkejut mendengarnya. Mencium pipi Bintang? Woahh...kabar yang sangat bagus.
Bintang menatap datar. "Oh," balasnya singkat.
Freya menghela nafas kecewa sepertinya Bintang benar-benar tidak mengingatnya. Tentu saja, waktu itu dirinya masih begitu kecil.
"Aku---"
"Minggir!" bentak Bintang membuat tubuh Freya tersentak.
Bintang pun berjalan menjauh dan memandang sekilas Freya. Gadis itu tampak pias seketika membuat Hana meringis. Ia pun bermaksud untuk menyusul Bintang, ia akan menanyakan perihal yang terjadi.
"Kenapa putraku begitu dingin ya tuhan? Apa ada gadis yang bisa membuatnya luluh?"
∆∆∆
TBC