
Kini usia mereka bertiga sudah menginjak umur 15 tahun.
"AWAS! OI!" teriak Angkasa saat dirinya tengah bermain skateboard dengan kecepatan tinggi.
Aksa yang berada di depan membulatkan matanya namun saat akan menghindar ia terlambat.
Brukk~
Byurr~
Mereka berdua pun terjatuh kedalam kolam renang bersamaan membuat Bintang tampak menahan tawanya dan memilih berdeham.
Bintang pun berenang menuju pinggir kolam, ia pun kembali naik sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkat kedua saudaranya itu.
Aksa dan Angkasa menyembulkan kepalanya. Aksa menggeram kesal lalu ia memukul kepala Angkasa dan menenggelamkan nya.
"Kau membuatku basah bodoh!" umpat Aksa sambil berusaha berenang kepinggir kolam.
Angkasa kembali menyembulkan kepalanya lalu menatap kesal kearah Aksa.
"Aku tidak sengaja. Aku sudah mengatakan tadi," ucap Angkasa.
Aksa mengacungkan jari tengahnya kearah Angkasa lalu ia berjalan masuk dengan keadaan basah kuyup.
Angkasa berdecih kesal ia pun berenang kepinggir kolam lalu ia pun ikut masuk kedalam rumah.
Bintang baru saja keluar dari kamarnya dengan rambut yang masih ia keringkan dengan handuk kecil.
Ponselnya pun berdering membuat Bintang mengangkat telepon langsung.
"Hallo?" sapa Bintang.
"Apa kau bisa ke kantorku?" tanya Alvaro.
Bintang mengerutkan keningnya. "Ok," balasnya singkat.
Bintang langsung menutup sambungan teleponnya dan mengambil jaket tak lupa mengambil kunci motornya.
"Mau kemana sayang?" tanya Hana.
Bintang mencium kening Hana. "Aku pergi sebentar," ucapnya.
Hana mengangguk. "Hati-hati," balasnya.
Bintang tersenyum tipis lalu mengecup pipi Hana sebelum berjalan keluar dari rumahnya.
Bintang memasangkan helmnya lalu menancapkan gas motornya dengan kecepatan tinggi menuju kantor Alvaro.
Saat sampai beberapa orang menyapanya yang hanya di balas anggukan kepala Bintang. Siapa yang tidak kenal dengan Bintang? Pria yang berparas tampan dengan tinggi diatas rata-rata dan merupakan putra pertama bos mereka.
Bintang langsung memasuki ruangan Alvaro tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Ada apa?" tanya Bintang to the point.
Alvaro menoleh lalu menutup dokumen yang ia baca, ia pun berdiri dan menghampiri Bintang.
"Ikut aku," ucap Alvaro.
Bintang mengangguk lalu mengikuti Alvaro dari belakang dari berbagai sudut ruangan terlihat beberapa orang yang tampak penasaran dengannya.
Alvaro membuka ruangan rapat yang sedang berlangsung.
"Ada apa tuan?" tanya Thomas.
Alvaro menyeringai menatap Bintang dan memberikan isyarat padanya. Bintang berdiri sejajar dengan Alvaro dan menatap datar lalu ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaket.
"Aku hanya ingin menyapa seseorang yang mempunyai nyali menyakiti istriku," ucap Alvaro.
Mata Bintang menajam pandangannya berubah menjadi begitu dingin. Beberapa hari yang lalu ibunya hampir dicelakai beberapa orang jika Aksa tidak datang tepat waktu menghalanginya.
"Benar begitu bukan Thomas?"
∆∆∆
"Aku pulang," ucap Alvaro.
"Kalian pulang bersama?" tanya Hana bingung.
Alvaro menggeleng, ia tidak mau memberitahu tentang perihal ini pada Hana.
"Mandilah," ucap Hana di balas anggukan kepala Alvaro.
Bintang membuka jaket yang ia kenakan lalu berbaring di sofa membuat Hana terkekeh pelan.
"Kau terlihat sangat lelah sayang," ucap Hana sambil mengusap dahinya Bintang yang berkeringat.
"Dimana mereka?" tanya Bintang.
"Pergi bermain," balas Hana.
Bintang menggeram kesal. Kenapa meninggalkan Hana sendirian dirumah? Ia harus membuat perhitungan nanti.
"Mom, ini sudah larut. Masuklah kedalam kamar," ucap Bintang.
Hana mengangguk lalu ia mengecup kening Bintang. "Malam sayang," ucapnya.
Disisi lain...
Hana memasuki kamarnya, ia mendengar suara air menandakan Alvaro masih berada di kamar mandi. Ia pun menyiapkan baju yang akan dipakai oleh Alvaro.
Tak lama kemudian Alvaro keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya.
Hana berdiri dan membantu Alvaro mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Alvaro mengecup kening Hana sambil memeluk pinggangnya.
"Sudah. Pakailah bajumu," ucap Hana.
Alvaro mengangguk ia pun memakai piyama yang diberikan Hana padanya. Huh, hari ini begitu melelahkan. Tapi tidak terlalu karena ia tidak perlu mengotori tangannya sendiri.
Karena putranya, Bintang yang lebih dulu menghabisi orang-orang bodoh itu. Ia akui Bintang sangat ahli dalam berkelahi apalagi jika mendengar seseorang berani menyakiti Hana maka Bintang akan berdiri paling depan setelahnya.
Alvaro langsung berbaring di kasur sambil memeluk tubuh Hana dengan erat.
"Tidurlah," bisik Alvaro.
Hana mengangguk lalu membalas pelukan Alvaro tak kalah erat.
"Hana, aku mengharapkan kehadiran seorang bayi lagi," bisik Alvaro.
"Aku pun," balas Hana.
Alvaro tersenyum lalu mengecup bibir Hana namun ia seperti mendengar suara gaduh dari depan pintu kamarnya.
"Sttt---kecilkan suaramu,"
"Aku ingin mengintip juga,"
"Aku tidak bisa melihat,"
"Aku pun. Kau menutupi wajahku bodoh!!"
"Lubang pintunya terlalu kecil,"
"Aku juga mau lihat,"
"Minggir kau!"
"Kau yang minggir! Aku lebih tua darimu,"
"Hanya selisih berapa menit bodoh!"
Bintang menatap datar kearah Aksa dan Angkasa yang tampak berusaha mengintip kedalam kamar Alvaro. Dengan langkah tenangnya sambil memakan apel di tangannya ia mendekat kearah mereka berdua.
Bintang berdiri di belakang mereka yang masih memperebutkan posisi membuat Bintang mendengus kecil. Lalu, Bintang tersenyum licik ia pun membuka engsel pintu hingga membuat Aksa dan Angkasa terjerembab ke dalam kamar.
Brukk~
Aksa meringis karena tubuhnya tertimpa oleh tubuh Angkasa.
"Sakit," ringis Aksa.
Alvaro dan Hana menatap melongo kearah pintu sedangkan Bintang melenggang pergi dengan santai dari sana.
"AKSA! ANGKASA!"
∆∆∆
TBC