My Posessive Husband

My Posessive Husband
1.



Alvaro memasuki wilayah kantornya dengan raut wajah datar. Entah kenapa ia masih tidak rela karena Hana bekerja di kantornya dan tetap menjadi sekertaris nya.


Perihal pernikahan nya tidak banyak yang tau karena itu permintaan Hana agar ia tetap memiliki teman dekat yang tulus dengannya bukan karena ia adalah istri dari CEO ternama.


"Tuan,ada rapat penting hari ini jam 9"ucap Hana,ia berusaha seprofesional mungkin.


Alvaro mengangguk malas,rapat lagi ia bosan. Padahal rencananya hari ini ia ingin menghabiskan waktu bersama Hana,menyebalkan!


"Ikut ke ruangan ku"ucap Alvaro.


Hana mengangguk lalu ikut berjalan di belakang Alvaro sambil membawa beberapa dokumen di tangannya.


Saat akan menutup pintu ruangan Alvaro,Hana merasa tubuhnya terangkat tiba-tiba.


"Astaga Alvaro!!"Hana memukul dada Alvaro.


"Aku merindukan mu"ucap Alvaro dengan manja,ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Hana.


"Kita sering bertemu Alvaro bahkan tidur bersama"ucap Hana kesal.


"Tidak peduli"balas Alvaro,ia memeluk pinggang Hana dengan erat.


Hana menggerutu kesal,Alvaro selalu mengatakan jika merindukannya padahal ia selalu berada di dekat Alvaro.


Sifat Alvaro benar-benar berubah semenjak lima tahun yang lalu ia berubah menjadi kekanak-kanakan jika bersama dengan nya dan terlalu....posesif.


Ia selalu melarang Hana ini itu bahkan membakar baju Hana yang terlihat terbuka baginya.


Benar-benar tidak terlihat berwibawa,Hana menghela nafas pelan.


"Alvaro! Aku harus kembali bekerja"ucap Hana sambil mengelus rambut Alvaro.


"Apa kau tidak bisa berhenti? Aku masih sanggup menafkahi mu"ucap Alvaro.


"Tidak"ucap Hana menggeleng.


Alvaro mendengus lalu tetap memeluk pinggang Hana.


"Alvaro!!"ucap Hana kesal.


Alvaro menghela nafas pelan"ok,kembalilah bekerja"ucapnya lesu.


Hana berdiri sambil tersenyum lalu mencium bibir Alvaro"jangan lesu seperti itu"ucapnya lalu berjalan keluar ruangan.


Alvaro mematung ia memegangi bibirnya lalu tersenyum.


"Aku jadi menginginkan nya"ucap Alvaro dengan nada pelan.


Hana kembali duduk di tempatnya lalu tersenyum walaupun sikap Alvaro begitu menyebalkan Hana tetap menyayanginya.


"Oi ******"ucap salah satu karyawan kepada Hana.


"Kau berbicara padaku?"tanya Hana datar.


Dia berdecih sambil menatap Hana dengan sinis.


"Apa yang kau lakukan di dalam ruangan pak CEO?"tanya nya.


"Apa aku harus membicarakan ini padamu?"tanya Hana dengan cemooh.


"Kurang ajar!!"ia melayangkan tamparan namun Hana menahannya.


"See? Kau itu bukan siapa-siapa disini,bersikaplah yang wajar atau kau tau akibatnya"ucap Hana datar,ia membereskan dokumen yang berantakan.


"Awas kau Hana!"ucapnya.


"Heem,terserah kau saja."


∆∆∆


Hana pulang lebih dulu karena ia harus memasak untuk Alvaro .


Ia memasak makanan yang di sukai Alvaro dan tidak lupa membuatkan kue-kue kering untuk cemilannya dirumah.


Sepasang tangan kokoh memeluk pinggang Hana dengan erat.


"Sudah pulang?"tanya Hana sambil menyibukkan diri dengan memasak.


"Heem. Aku lelah"ucap Alvaro manja sambil menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Hana.


"Gantilah baju dulu setelah itu makan"ucap Hana.


"Ok."Alvaro langsung bergegas menuju kamarnya untuk berganti baju .


Alvaro memakan dengan lahap sambil memandang wajah Hana di hadapannya.


"Kenapa?"tanya Hana.


Alvaro menggeleng"kenapa kau selalu cantik?"tanya nya asal.


Hana terkekeh"karena aku perempuan wajar cantik"ucapnya.


Alvaro tersenyum sambil melanjutkan makannya.


"Alvaro,sepertinya kau mempunya banyak penggemar ya"ucap Hana.


"Maksudmu?"tanya Alvaro bingung.


"Iya,seperti pengaggum atau lebih tepatnya ia suka padamu"ucap Hana.


"Siapa?"tanya Alvaro hanya dibalas Hana dengan mengangkat bahunya acuh.


"Satu kantor yang pasti"balas Hana.


"Apa dia menganggumu?"tanya Alvaro dingin.


Hana menggeleng"tidak. Sudahlah makanlah dengan tenang"ucapnya.


Alvaro merasa tidak puas dengan jawaban Hana ia akan mencari tahu lebih dulu apa yang terjadi. Jika benar mereka mengangguk Hana,akan Alvaro pastikan dia akan menyesal.


"Hana,nanti malam ikut aku."ucap Alvaro.


Hana menatap Alvaro"memangnya mau kemana?"tanya nya.


"Salah satu kolega ku mengundang acara pertunangan nya,ia mengundang kau juga karena kau sekertaris ku"ucap Alvaro.


Hana mengangguk"aku ikut"ucapnya.


"Jangan berpakaian terbuka ingat!"ucap Alvaro.


Hana terkekeh"lihat nanti"ucap Hana.


"Hana"desis Alvaro sambil menggeram kesal.


Hana tertawa kecil"iya aku tau,aku pakai gaun pemberian ibumu saja"ucapnya.


"Ibuku?"tanya Alvaro.


Hana mengangguk"ibumu memberikanku gaun yang aku dengar gaun itu pemberian temannya yang sudah menjadi designer terkenal"ucapnya.


"Ngomong-ngomong jam berapa kita kesana?"tanya Hana.


"Sebentar lagi"jawab Alvaro.


"Kalau begitu aku ganti baju dulu"ucap Hana,ia langsung bergegas naik tangga menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


Alvaro sudah lebih dulu mengganti pakaiannya dengan tuksedo bewarna hitam begitu pas di tubuhnya.


"Alvaro,bagaimana?"tanya Hana.


Alvaro menoleh lalu terpaku"ganti"ucapnya datar.


"Eh,tapi--"


"Aku bilang ganti Hana atau kita akan ke kamar"ucap Alvaro. Ia tidak habis pikir dengan pikiran ibunya bagaimana gaun yang di berikan ibunya terbuka,cukup terbuka.


Hanya saja Alvaro terlalu berlebih karena hanya memperlihatkan bahu dan kaki jenjang Hana saja.


Hana berdecak sebal lalu menaiki tangga dengan menghentakkan kakinya di ikuti Alvaro dari belakang.


Hana langsung berganti pakaian yang lebih tertutup namun tetap terlihat elegan.


Alvaro melihat gaun pemberian ibunya lalu mengambilnya.


Srekk~


Hana menoleh kearah suara tersebut menatap Alvaro dengan melotot karena gaun tersebut sudah menjadi robekan yang tidak terbentuk.


"ALVARO!! KENAPA KAU MEROBEK GAUN LAGI!!"


∆∆∆


TBC