
"Apa ini? Kau pikir aku akan menerima dokumen berantakan seperti ini?!"bentak Alvaro,kini ia berada di dalam kantor.
"Ma-maaf tuan---"
"Selesaikan dokumen ini atau angkat kaki dari perusahaan ku"ucap Alvaro dingin.
"Ba-baik tuan."
Pintu pun kembali tertutup ,Alvaro menghela nafas kasar. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing.
Cklek~
"Tuan Alvaro"suara perempuan yang begitu menggoda.
"Keluar!"ucap Alvaro dingin,ia menatap tajam kearah wanita yang berpakaian seksi di hadapannya.
"Apa kau tidak membutuhkan sesuatu yang hangat seperti----di ranjang mungkin"Monica berjalan mendekati Alvaro dengan gaya lenggak-lenggok nya.
Brakk~
Monica terkejut saat Alvaro melempar semua barang yang berada di meja.
"Aku bilang keluar Monic!! KELUAR!!"bentak Alvaro dengan rahang yang mengeras.
Monica tersentak"tapi tuan---"
"Apa kau pikir aku akan tergoda dengan tubuh mu yang longgar itu? Sekalipun kau telanjang di depan ku,aku sama sekali tidak akan melirikmu"ucap Alvaro datar.
"Keluar! Sebelum aku panggilkan security untuk mengusirmu dengan cara yang tidak hormat dari sini"sambung Alvaro,ia keluar dari ruangannya.
Monica menggeram kesal"kau akan berlutut kepadaku Alvaro"gumamnya.
Alvaro berjalan keluar,sepertinya ia pulang saja. Pertama,ia malas bertemu dengan Monica yang notabenenya adalah sekertaris nya. Kedua,ia malas melihat dokumen yang membuat nya sakit kepala. Ketiga,ia merindukan istri dan anaknya. Hanya istrinya yang bisa mengembalikan mood pada dirinya.
"Yeahh...karena aku mencintai istriku"ucap Alvaro dalam hati.
Alvaro menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan sedang menuju pulang ke rumah nya untuk bertemu istri dan anak-anaknya.
Tak lama kemudian ia sampai di rumah,ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.
"Aku pulang"ucap Alvaro.
Hana menoleh ke arah Alvaro dan ia pun tersenyum lalu berjalan mendekat kearah Alvaro. Hana mengambil alih jas hitam Alvaro dan tas kerjanya.
"Kau terlihat sangat lelah"ucap Hana,ia mengelus wajah Alvaro.
Alvaro menggenggam tangan Hana yang berada di pipinya"ya aku memang lelah,tapi aku merindukan mu"ucapnya sambil mengecup punggung tangan Hana.
"Mandilah,aku akan menyiapkan teh untuk mu"ucap Hana.
"Ok sayang"Alvaro mengecup bibir Hana lalu menaiki tangga menuju kamarnya.
"Ok son,tunggu disini ya. Mommy harus ke dapur"ucap Hana sambil memberikan putranya botol susu agar mereka bertiga diam.
Hana berjalan ke dapur dan membuat teh sembari memanaskan masakan yang ia buat tadi pagi.
Alvaro yang baru keluar dari kamar dengan kondisi segar sehabis mandi,ia melihat anaknya sibuk meminum susu di botol. Alvaro tersenyum kearah mereka.
"Setidaknya jatah ku tidak berkurang."
∆∆∆
Alvaro memangku salah satu putranya dan mereka kini tengah bermain bongkar-pasang yang bewarna warni.
Hana menggendong Angkasa yang sudah mengantuk,ia menepuk-nepuk punggung Angkasa agar ia cepat terlelap.
"Apa aku dulu seperti itu?"tanya Alvaro membuat Hana menoleh,ia menatap putranya yang sibuk sendiri lalu ia terkekeh.
"Tidak kah kau menyadari jika putra mu itu duplikat dirimu dulu"ucap Hana sambil tertawa kecil.
Alvaro menyentuh pipi Bintang anaknya namun hanya di balas tatapan sekilas dari nya lalu ia kembali fokus menatap layar tv.
"Selera humor yang rendah"ucap Alvaro membuat Hana terkekeh.
"Kau pun sama sayang"ucap Hana.
Alvaro mendengus"kau bilang apa tadi? Sayang?"ucapnya.
Hana memalingkan wajahnya"tidak,kau salah dengar."ucapnya.
Alvaro menatap jahil kearah Hana"telinga ku masih berfungsi dengan baik sayang"ucapnya.
Hana mendengus kesal,Alvaro berjalan mendekat lalu mengecup pipi Hana,ia memeluk Hana dari belakang.
"I love you"ucap Alvaro sambil mengecup leher Hana.
Hana mengelus wajah Alvaro dengan sebelah tangannya"i love you too"ucapnya.
"Dia tertidur"ucap Alvaro melihat putra nya yang sudah tertidur pulas di bahu Hana.
Hana mengangguk lalu melepaskan pelukan Alvaro dan berjalan menuju kamarnya untuk meletakkan tubuh putranya di atas kasur.
Alvaro mengusap punggung Aksa,ia menatap putranya yang menguap menahan kantuk,sepertinya memang sekarang waktunya tertidur.
Alvaro membaringkan tubuh putranya diatas bantal yang tipis dan memberikannya botol susu,ia mengusap rambut putranya.
Tak lama kemudian putranya sudah tertidur pulas kini giliran sang kakak Bintang Orion,putra pertamanya.
Hana sudah kembali turun dari kamarnya"kenapa dia belum tertidur?"tanya nya.
Alvaro mengangkat bahunya"aku tidak tau"ucapnya.
Hana menggendong tubuh Aksa yang sudah tertidur dan kembali memasuki kamarnya meninggalkan Alvaro dengan putranya.
"Hey,kenapa kau belum tertidur?"tanya Alvaro.
Bintang hanya menatap Alvaro sekilas lalu menyibukkan diri dengan memakan biskuit di tangannya.
"Astaga! Apa aku dulu seperti itu?"tanya Alvaro pada dirinya.
Alvaro menggenggam tubuh putra nya itu membuat Bintang merenggut kesal,ia memukul wajah Alvaro.
"Hey,kenapa kau memukul wajah ayah mu?"ucap Alvaro sambil menggerutu.
"Apa kau tau itu perbuatan yang tidak sopan?"Alvaro berbicara seolah-olah putranya sudah mengerti apa yang ia ucapkan.
Kaki kecil Bintang kini berada di wajah Alvaro membuat Alvaro menatap datar.
"Aku tau,jika kau besar nanti kau akan menjadi pembangkang bocah."
∆∆∆
TBC