My Posessive Husband

My Posessive Husband
13.



Hana yang sedang sibuk memasak di dapur tiba-tiba di kaget kan dengan sepasang tangan kokoh memeluk pinggangnya.


"Apa kau tidak lelah sayang?"tanya Alvaro sambil mengecup leher Hana sambil mengusap perut Hana.


Hana menggeleng"tidak,ini memang pekerjaan ku. Kau tidak usah khawatir"ucapnya.


Alvaro mengecup leher Hana kembali,lalu ia mencium puncak kepala Hana.


"Kau baru sembuh sayang,kau harus banyak istirahat"ucap Alvaro khawatir.


"Aku hanya memasak Varo,bukan melakukan pekerjaan yang berat"ucap Hana kesal,ia membawa beberapa piring yang sudah berisikan banyak lauk pauk buatannya.


"Duduklah,makanan sudah matang"sambung Hana.


Alvaro melepaskan pelukannya lalu duduk di meja makan.


"Mereka masih tertidur?"tanya Alvaro sambil melihat kearah tempat biasa putranya bermain disana.


Hana mengangguk"habis bermain tentu saja mereka lelah"ucapnya. Lalu ia duduk di hadapan Alvaro.


"Mereka sangat aktif"sambung Hana.


Alvaro mengangguk setuju, putranya sangat aktif dan cenderung tidak bisa diam.


"Ini makanlah"ucap Hana.


Lalu tak lama kemudian ia mendengar suara tangisan anaknya,Hana langsung bergegas ke kamar nya.


"Sayang"ucap Hana,ia menggendong salah satu putranya yang menangis.


"Kenapa,hm? Haus?"tanya Hana sambil mengusap pipi anaknya.


Hana duduk di pinggir kasur dan mulai menyusui anaknya,ia mengusap rambut anaknya sembari memegang tangan mungil tersebut.


"Kenapa?"tanya Alvaro,ia sudah selesai makan dan langsung bergegas menuju kamarnya.


"Tidak apa-apa,hanya haus saja"ucap Hana,ia


Alvaro mendekati Hana yang tengah menyusui putranya itu lalu duduk di samping Hana.


"Mirip sekali dengan mu"ucap Hana.


"Tentu saja,ia akan menjadi pria yang sangat tampan nanti"ucap Alvaro dengan nada sombong.


Hana berdecak kesal"kau terlalu percaya diri"ucapnya.


"Oh tentu sayang,aku ini pria yang sangat tampan"ucap Alvaro.


Hana memutar bola matanya dengan malas"terserah kau saja"ucapnya.


Alvaro terkekeh kecil,ia memeluk tubuh Hana dari samping sambil mencium pipi Hana.


Alvaro mendengus saat melihat putranya begitu semangat meminum asi.


"Sepertinya jatah ku akan di ambil oleh putra ku sendiri"ucap Alvaro lesu.


Hana menatap bingung"apa maksud mu?"tanya nya.


Alvaro menyeringai sambil berbisik kearah Hana setelah mengatakan itu wajah Hana langsung memerah.


"Dasar mesum!!"Hana mendorong wajah Alvaro agar menjauh darinya.


"Itu wajar sayang,jika aku tidak mesum kau tidak akan melahirkan tiga putra sekaligus. Aku hebat kan"ucap Alvaro sambil menatap jahil kearah Hana.


Hana menggeram kesal,tingkah Alvaro tidak berubah tetap menyebalkan dan selalu membuatnya kesal.


"ALVARO!!"


∆∆∆


"Ah,kalian lucu sekali"ucap Hana sambil menciumi putranya satu persatu.


"Sayang,pasangkan aku dasi"ucap Alvaro.


Hana berdiri dan mengambil salah satu dasi bewarna hitam lalu memasangkannya di leher Alvaro.


Alvaro memeluk pinggang Hana"aku akan pulang lebih lama,jangan menunggu ku. Kau harus banyak istirahat,mengerti sayang?"ucapnya.


Hana mengangguk membuat Alvaro tersenyum"istri yang pintar"ucapnya.


"Sudah"ucap Hana,saat ia sudah selesai memasangkan dasi Alvaro.


"Aku berangkat, hati-hati dirumah. Jika terjadi apa-apa hubungi aku"ucap Alvaro.


"Iya"balas Hana,ia mengambil tas kantor milik Alvaro.


"Pergilah"ucap Hana,Alvaro mengecup pipi Hana lalu beralih mencium pipi ketiga putranya.


"Aku pergi dulu"ucap Alvaro.


"Hati-hati"balas Hana,Alvaro mengusap rambut Hana lalu keluar dari kamarnya.


"Sepertinya hari ini bagus untuk jalan-jalan"ucap Hana. Sambil menatap ketiga putranya yang nampak menjahili saudaranya satu persatu.


Hana menggendong satu persatu putranya lalu menaiki mereka kedalam gerobak dorong.


Hana mendorong gerobak bayi tersebut keluar dari rumahnya dan tak lupa mengunci pintu.


"Hana,kau ingin pergi? Aku baru saja datang"ucap Jeni.


"Eh,kapan kau datang?"tanya Hana terkejut.


"Tadi pagi"ucap Jeni"putra mu lucu sekali Hana."


Hana tersenyum menanggapinya"ayo masuklah,tadinya aku mau mengajak putraku jalan-jalan sebentar"ucapnya.


"Apa aku menganggu mu?"tanya Jeni.


Hana menggeleng"tidak,tentu saja tidak"ucapnya.


"Boleh aku menggendong nya?"tanya Jeni,ia menatap gemas kearah bayi Hana.


"Tentu saja"ucap Hana.


Jeni menggendong salah satu anak Hana dengan hati-hati.


"Lumayan berat"ucap Jeni membuat Hana tertawa kecil.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana repotnya dirimu mengasuh tiga bayi kembar mu ini"sambung Jeni.


Hana terkekeh"lumayan melelahkan tapi aku sangat senang"ucapnya.


"Kenapa kau tidak menyewa pengasuh saja,kau akan sangat lelah"ucap Jeni.


Hana menggeleng"aku ingin mengasuh bayi ku sendiri,walaupun melelahkan aku sangat senang melihat mereka sangat aktif seperti ini."ucapnya.


Mereka pun mengobrol sampai menjelang malam,bahkan Jeni dengan semangat menyemangati bayi kembar Hana saat mereka mulai merangkak.


"Ah,sepertinya aku harus pulang Hana"ucap Jeni dengan wajah cemberut.


"Kau bisa datang lagi besok"ucap Hana,ia membawa putranya kedalam keranjang tidur satu persatu.


"Mereka kelelahan"ucap Jeni.


"Mereka baru saja pandai merangkak"ucap Hana.


"Kalau begitu besok aku akan datang lagi,jaga dirimu Hana"ucap Jeni.


"Hati-hati,aku tidak bisa mengantarmu sampai ke depan"ucap Hana.


"Tenang saja,aku bisa sendiri. Kalau begitu aku pulang ya,sampai jumpa lagi"ucap Jeni.


Hana menatap jam dinding menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Hana menghela nafas pelan sepertinya Alvaro benar-benar pulang terlambat.


Ia menatap ketiga putranya yang sudah tertidur pulas,lalu Hana berjalan menuju ruang tamu sembari menunggu Alvaro pulang.


Sampai jam menunjukan pukul 9 malam akhirnya Alvaro pulang,saat membuka pintu ia melihat Hana yang tertidur pulas di sofa dengan tv yang masih menyala.


"Dasar nakal"gumam Alvaro sambil menggelengkan kepalanya.


Alvaro berjalan mendekat lalu menggendong tubuh Hana menuju ke kamarnya.


"Sudah aku bilang jangan menungguku,kau akan kelelahan nanti"ucap Alvaro sambil mengusap pipi Hana.


Lalu ia menatap kearah keranjang putranya yang sudah tertidur pulas.


Alvaro mencium kening Hana"mimpi indah sayang."


∆∆∆


TBC