My Posessive Husband

My Posessive Husband
31.



"mom. Kau harus makan."ucap Bintang sambil membawa nampan berisi makanan dan segelas susu.


Hana menoleh dan tersenyum tipis"kemari lah."ucapnya.


Bintang berjalan mendekat kearah Hana lalu duduk di sampingnya.


"Makanlah mom."ucap Bintang sambil menyuapi makanan untuk Hana.


"Terima kasih."ucap Hana di balas anggukan kepala Bintang.


"Apa mom sudah memutuskannya?"tanya Bintang sambil membersihkan mulut Hana dengan sapu tangan miliknya.


Hana tersenyum lalu mengangguk membuat Bintang langsung memeluk tubuh Hana dengan erat.


"Aku akan panggil daddy."ucap Bintang sambil mencium kening Hana di balas anggukan kepala Hana.


Bintang keluar dari ruangan Hana lalu menemui Alvaro yang sedang duduk di luar. Ia menatap Alvaro yang tampak merenung disana.


"Dad, mom memanggilmu."ucap Bintang datar. Alvaro mengerjapkan matanyam


Alvaro mengangguk lalu ia berdiri dan memasuki ruangan Hana sedangkan Bintang sudah menyandarkan tubuhnya pada dinding.


Saat Aksa ingin mengatakan sesuatu namun ia langsung bungkam takut jika Bintang masih marah padanya.


Angkasa menepuk pundak Aksa"aku keluar dulu "ucapnya pelan.


Bintang menatap mereka sekilas lalu berjalan menjauh membuat Aksa menghela nafas pelan, Bintang masih marah padanya. Ia akui dirinya memang egois, tidak memikirkan bagaimana perasaan Hana.


Pikirannya masih terlalu kekanak-kanakan sedangkan Bintang ia sudah memikirkan lebih dulu apa yang terjadi dan dia lebih dewasa. Masak dari itu pembawaan diri Bintang selalu tenang dan dingin.


Bintang yang tidak banyak bicara, Bintang yang selalu diam ketika mendapat masalah dan Bintang yang tenang saat menyelesaikan sesuatu.


Tidak seperti dirinya yang masih terlalu egois bahkan Bintang lebih tau mana yang baik dan buruk.


Bintang berjalan di koridor rumah sakit namun langkahnya terhenti saat seorang anak kecil terjatuh dihadapannya.


Bintang membatu anak tersebut untuk bangun lalu ia kembali berdiri.


"Terima kasih."ucap anak perempuan itu dengan suara yang pelan dan belum begitu jelas.


Bintang mengangguk, ia menepuk puncak kepala anak perempuan itu lalu pergi melanjutkan langkahnya.


Bintang tersenyum tipis, seperti itu teryata memiliki seorang adik perempuan. Lucu dan menggemaskan, Bintang menghela nafas pelan ia harus menelan bulat-bulat kenyataan sebenarnya.


Bintang berdecih kesal, ia masih kesal pada Aksa yang seenaknya berkata seperti itu. Apa dia tidak memikirkan Hana? Apa dia tidak memikirkan bagaimana terpuruknya seorang ibu jika kehilangan seorang anak?


Jika Aksa bukan kembarannya ia akan dengan senang hati menghabisi nya.


"Huh."Bintang menendang botol plastik yang berada di hadapannya.


Bintang akui dia juga menginginkan seorang adik perempuan, tapi jika kondisi nya seperti ini Bintang hanya bisa menunggu keputusan yang ibunya buat.


"Menyebalkan."desis Bintang.


∆∆∆


Akhirnya Hana memutuskan untuk mengugurkan kandungan nya hanya itu satu-satunya nya cara agar menyelamatkan nya.


Ia juga tidak boleh egois masih ada Alvaro dan anak-anak nya yang masih membutuhkannya.


Ia tidak mau meninggalkan mereka yang begitu sayang padamu, Hana tidak boleh egois.


Ervan mengangguk mendengar penjelasan Hana"kalau begitu kita langsung saja Hana, kau harus di operasi."ucapnya.


Hana mengangguk"tolong ya."ucapnya.


Ervan menatap datar"cih, dasar posesif."ucapnya.


Alvaro mendengus"awas kau mengambil kesempatan saat operasi nanti."ucapnya.


Ervan memukul kepala Alvaro dengan kuat"kau pikir aku ini dokter ********? Sialan kau Alvaro!!"umpatnya.


Hana terkekeh pelan membuat Alvaro tersenyum, setidaknya istrinya masih bisa tersenyum untuk nya.


"Keluar! Aku mau memindahkan Hana keruang operasi."ucap Ervan.


"Apa aku tidak boleh ikut?"tanya Alvaro.


Ervan melongo"apa kau gila? Tidak! Tidak boleh!"ucap nya.


Alvaro berdecih"pelit sekali."ucapnya.


Ervan mendengus"terserah, keluar sekarang sebelum aku melempar kepala mu dengan peralatan rumah sakit."ancamnya membuat Alvaro mencibir kesal.


"Aku keluar ya sayang, kalau Ervan macam-macam padamu katakan saja padaku. Aku akan menghabisinya."ucap Alvaro sambil mencium kening Hana.


"Jangan takut aku akan menjaga mu."bisik Alvaro.


Hana mengangguk lalu Alvaro keluar dari ruangan Hana.


"Ervan lakukan operasi itu sampai terjadi apa-apa dengan istriku aku akan menutup rumah sakit mu untuk selama-lamanya."ancam Alvaro.


Ervan memutar bola matanya dengan malas"terserah kau saja, keluar!!"ucapnya.


"Oh ya, suruh anak-anak mu masuk dulu."ucap Ervan.


Alvaro mengangguk lalu kembali melangkah keluar dari ruangan tersebut.


Tak lama kemudian Bintang dan yang lainnya memasuki ruangan Hana.


"Mom, are you okay?"tanya Bintang.


"Aku baik-baik saja."ucap Hana sambil tersenyum.


Bintang mencium kening Hana"jangan menangis lagi mom, kau masih memiliki kami."ucapnya.


Hana tersenyum"aku tau sayang."ucapnya.


Aksa dan Angkasa melakukan hal yang sama yaitu mencium kening Hana dan mengucapkan kata-kata manis.


"Sudah? Aku harus segera membawa Hana ke ruang operasi."ucap Ervan.


Bintang mengangguk"tolong ya paman."ucapnya.


Ervan menepuk pundak Bintang"jangan khawatir aku akan melakukan semaksimal mungkin."ucapnya.


"Kami keluar dulu, mom kau harus semangat "ucap Angkasa.


Hana terkekeh"iya sayang."ucap nya.


Bintang mengenggam tangan Hana"jangan takut mom, kami semua disini menunggumu."ucapnya.


"Bintang sayang mommy."


∆∆∆


TBC