
Hari ini Hana dan Alvaro menuju rumah sakit untuk memeriksa kondisi kandungan Hana.
"Jangan gugup"ucap Alvaro sambil menggenggam tangan Hana saat mereka memasuki rumah sakit.
Hana mengangguk lalu mengikuti Alvaro memasuki ruang rumah sakit.
Tok~
Tok~
Tok~
"Masuk"sahut dari dalam,mereka pun memasuki ruangan tersebut.
"Eh Alvaro"Ervan sedikit terkejut melihat kedatangan Alvaro.
"Kenapa harus kau?"tanya Alvaro kesal.
Ervan menatap datar"apa kau pikir aku baru saja menjadi dokter disini? Aku ini sudah menjadi dokter selama tiga tahun ini,apa kau amnesia?!"tanya nya.
Alvaro mendengus"apa tidak ada dokter yang perempuan? Ck!"ucapnya.
Ervan mengangkat bahunya tidak peduli"ada apa?"tanya nya pada Hana.
"Aku ingin memeriksa kandungan ku,aku belum memeriksanya sama sekali"ucap Hana di balas anggukan kepala Ervan.
"Berbaringlah aku akan memeriksanya"ucap Ervan.
Hana menurut lalu berbaring di atas bankar di sampingnya Alvaro berdiri sambil tersenyum mengelus rambutnya.
"Buka baju mu sebatas perut,aku akan mengoleskan jel di perutmu"ucap Ervan.
"Kenapa harus membuka baju? Apa tidak bisa tertutup saja? Kau ini!!"ucap Alvaro kesal.
"Kau yang dokter atau aku?"tanya Ervan kesal.
Alvaro mencibir kesal lalu Ervan mulai memberikan gel di atas perut Hana yang masih rata.
Lalu Ervan mulai memeriksa kandungan Hana.
"Usia kandungannya sudah memasuki Minggu ke-empat,usahakan banyak makan bergizi dan minum susu. Jangan pernah minum obat jika bukan saran dokter"ucap Ervan.
Hana mengangguk"bagaimana keadaannya?"tanya nya.
Ervan menatap layar USG"mereka baik-baik saja tidak ada yang harus di khawatir kan"ucapnya.
Hana dan Alvaro tertenggun lalu menatap Ervan.
"Tunggu,mereka? Maksudmu anak ku kembar?"tanya Alvaro.
Ervan mengangguk"ada tiga kantong janin di dalam perut Hana"ucapnya.
"Dan berarti ada tiga bayi kembar di dalam perut Hana"sambung Ervan.
Alvaro terdiam,tiga? Ia memiliki tiga bayi. Oh god,kejutan yang membuatnya terharu.
"Jadi Hana kau sekarang mengandung tiga bayi kembar,usahakan selalu makan jika tidak salah satu anak mu akan kekurangan gizi dan kekurangan berat badan saat lahir"ucap Ervan.
"Dan itu sangat membahayakan kondisi bayi mu"sambung Ervan sambil membereskan alat-alat miliknya.
Hana mengangguk paham"terima kasih"ucapnya.
Ervan mengangguk lalu membersihkan jel yang berada di perut Hana.
"Aku akan memberikan resep vitamin untuk menunjang nafsu makan mu"ucap Ervan.
"Sudah? Kenapa lama sekali?"decak kesal Alvaro.
Ervan menatap datar lalu melemparkan tissue ke arah wajah Alvaro yang ia gunakan untuk membersihkan jel tadi.
"Kau ingin aku suntik mati?"
∆∆∆
Hana menatap foto USG di tangannya di dalam hati tidak henti-hentinya ia mengucapkan syukur.
Alvaro mengusap puncak kepala Hana dengan pelan.
Mereka pun sampai di rumah,Alvaro membukakan sabuk pengaman milik Hana sambil menarik tubuh Hana kedalam pelukannya.
"Terima kasih"Alvaro mencium kening Hana dengan sayang.
"Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku"ucap Alvaro sambil mengusap punggung Hana.
Hana tersenyum lalu memeluk tubuh Alvaro dengan erat.
"Aku juga ingin bilang padamu terima kasih kau mau menerima ku apa adanya"ucap Hana.
Alvaro mengusap perut rata Hana dengan pelan sambil mengecup bibir Hana.
"I love you too"balas Hana.
Mereka pun akhirnya keluar dari mobil dan memasuki rumahnya.
"SELAMAT DATANG!!"Hana dan Alvaro terkejut bukan main melihat rumahnya sangat ramai.
"Ah,menantuku"Arika memeluk tubuh Hana sambil mencium keningnya.
"Apa kabar sayang?"tanya Arika.
"Baik ibu"ucap Hana.
"Bagaimana kabar 'dia'?"tanya Arika sambil mengusap perut Hana.
"Mereka baik-baik saja"sahut Alvaro.
"Mereka?"beo Arika.
"Kembar?"sambung Arika di balas anggukan Alvaro.
"Tiga"ucap Alvaro.
Arika memekik senang lalu menarik tangan Hana dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.
"Woahh...tiga"ucap Fabio.
"Memang benar kau lebih tanggap dari ayahmu"sambung Fabio.
Ervin mendengus lalu melanjutkan memakan cemilan sambil menonton tv.
"Setelah ini,aku akan sering mengirimkan mu makanan. Agar kau tidak masak untuk sementara"ucap Arika di balas anggukan Sofi.
"Benar,kau bisa kelelahan nanti"ucap Sofi.
Hana tersenyum lalu mengangguk"terima kasih"ucapnya.
"Apa sudah bisa terlihat jenis kelaminnya?"tanya Irene.
Hana menggeleng"belum,kandungan ku baru berusia satu bulan"ucapnya.
"Ah,aku kira kau sudah tiga bulan"ucap Irene sambil tertawa kecil.
"Pantas saja belakangan ini kau terlihat gemuk"celetuk Fabio.
Hana tersenyum malu memang akhir-akhir ini ia terlalu banyak makan.
"Ayo kita buat makanan untuk adik kecil"sahut Ervina,kembaran Ervin.
"Boleh juga"sahut Irene.
"Ayo Hana"ucap Arika,Hana mengangguk lalu mengikuti mereka menuju dapur.
"Aku ikut"ucap Sofi,Alfred hanya menggelengkan kepalanya.
"Ibu tapi--"ucapan Alvaro terpotong karena mereka sudah lebih dulu menuju dapur.
Alvaro menepuk keningnya"ayah"panggil nya.
"Apa? Biarkan saja,kapan lagi ibumu sesenang ini"ucap Ervin.
Alvaro mendengus"bagaimana jika--"
"Sudahlah,biarkan istrimu senang"ucap Alfred.
Alvaro mencibir sambil menatap Hana yang sedang di monopoli oleh ibu dan neneknya serta yang lainnya.
Padahal ia ingin bermanja-manja dengan Hana namun harapannya pupus sudah karena kedatangan mereka.
"Hana jangan sampai kau kelelahan"ucap Alvaro.
Hana mengangguk sambil tersenyum dan membantu yang lain untuk memasak.
"Hana,kalau kau lelah dengan sikap Alvaro. Aku ada kenalan yang sangat tampan,mungkin kau ingin kenal dengan nya"ucap Ervin dengan nada humor.
Alvaro menatap datar,ayahnya selalu membuatnya kesal.
"Apa?"tanya Ervin menatap jahil kearah Alvaro.
"Ayo kita bersaing secara jantan"ucap Alvaro,Ervin hanya tertawa kecil melihat anaknya yang kesal.
"Oh ya? Kau bukan lawan ku nak."
∆∆∆
TBC