My Posessive Husband

My Posessive Husband
Epilog.



"MOMMY MAYA HILANG!" teriak Angkasa dengan heboh.


Hana menatap terkejut. "Bukankah tadi bersamamu sayang?" tanyanya bingung.


Angkasa menggelengkan kepalanya. "Tidak. Maya tidak bersamaku," ucapnya panik.


"Tenang sayang. Mungkin adikmu bersama Aksa atau Bintang," ucap Hana.


Angkasa menggeram kesal, ia ingin bermain dengan adiknya namun saat sampai di kamar adiknya malah tidak ada didalam.


"Daddy! Apa daddy lihat Maya?" tanya Angkasa.


Alvaro yang baru saja keluar dari kamar ia menggelengkan kepalanya. "Tidak lihat," balasnya.


Angkasa berdecak kesal lalu ia berlari menuju kamar Aksa dan menggedornya dengan kencang.


"Aksa! Keluar kau!" teriak Angkasa dari luar sembari terus mengetuk pintu agar sang empu keluar dari kamarnya.


Pletak~


"Aduh!" ringis Angkasa sambil memegang kepalanya, ia menatap kesal kearah Aksa.


Aksa menatap datar dengan buku yang ia pegang untuk memukul kepala Angkasa tadi.


"Apa?" tanya Aksa galak.


"Dimana Maya?" tanya Angkasa.


"Tidak bersamaku! Jangan menggangguku!" bentak Aksa kesal, ia langsung membanting pintu dengan kuat hingga membuat Angkasa terlonjak kaget.


Jika tidak bersama dengan Aksa berarti Maya bersama Bintang. Angkasa berjalan menuju kamar Bintang dan menggedornya namun saat akan menggedornya lagi pintu terbuka dengan sendirinya.


Angkasa masuk kedalamnya dan melihat Bintang tertidur pulas dengan Maya yang berada diatasnya tak lupa tangannya yang memegang sebuah buku cerita sedangkan tangan satunya lagi memeluk tubuh mungil Maya, adiknya.


"BINTANG BANGUN!" teriak Angkasa membuat Bintang dan Maya terlonjak kaget di tempatnya.


Maya yang terkejut langsung menangis tersedu-sedu membuat Bintang menggeram kesal, ia melempar buku kearah wajah Angkasa.


Angkasa meringis saat buku tersebut mendarat mulus diwajahnya, ia menatap Bintang yang kini menatapnya tajam.


"Keluar!" perintah Bintang sambil menunjuk kearah pintu sedangkan tangan satunya tengah mengelus punggung Maya.


"Tapi---"


Tangan Bintang bergerak untuk mengambil vas bunga sebelum ia melemparkan nya Angkasa lebih dulu berlari keluar dari kamarnya.


Bintang menghela nafas pelan lalu kembali menepuk-nepuk punggung adiknya dengan pelan.


"Jangan menangis lagi," ucap Bintang sambil mencium kening Maya.


Bintang menutupi tubuhnya dan Maya menggunakan selimut tebal lalu kembali memejamkan matanya. Angkasa mengganggu sekali, ia baru saja menidurkan adiknya.


"Awas saja kau nanti!" desis Bintang sambil terus mengelus punggung Maya.


Ia tersenyum tipis saat melihat adiknya sudah kembali memejamkan mata. Adiknya yang bernama lengkap Remaya Aurelia baru saja berusia satu tahun kemarin.


Semenjak kehadiran Maya mereka bertiga sering kali memperebutkan adiknya ini jadi dengan inisiatif Bintang sendiri ia membawa Maya kedalam kamarnya saat mereka semua masih terlelap. Ia hanya ingin tidur bersama Maya.


"Selamat tidur princess," bisik Bintang.


"Jadilah gadis pintar dan cantik nanti,"


∆∆∆


Maya yang baru saja pandai berjalan dengan langkah semangat ia mendekati Aksa yang tengah memegangi mainannya.


"Awas!" Bintang mengangkat tubuh Maya yang hampir terjatuh karena tersandung.


Bintang kembali menurunkan tubuh Maya dan membiarkan adiknya itu berjalan mendekati Aksa.


Hap~


"Aku menangkapmu," Aksa mengayunkan tubuh Maya lalu memeluknya dengan erat.


Aksa mengecup pipi Maya lalu kembali meletakkan tubuh Maya diatas karpet.


"Ayo kita main di luar," ucap Angkasa sambil menggendong tubuh Maya.


Bintang dan Aksa mengikutinya dari belakang disusul Hana dan Alvaro yang tersenyum menatap kearah mereka.


Saat sampai di taman Angkasa membiarkan Maya berlari kesana kemari dengan tertawa hingga menunjukan gigi putihnya.



Bintang tersenyum tipis, ia menyandarkan tubuhnya pada salah satu pohon menatap adiknya yang tengah berlari sambil memegang mainan di tangannya.


Aksa dan Angkasa membulatkan matanya saat Maya jatuh dengan terlungkup di tanah membuat Bintang berlari mendekat lalu menggendong tubuh Maya.


"Jangan menangis," bisik Bintang sambil menggendong tubuh Maya. Maya yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


Bintang mengeluarkan coklat yang ia beli untuk Maya. "Untukmu," ucapnya.


Maya tersenyum dengan mata berbinar-binar lalu ia mengecup pipi Bintang dan berusaha turun dari gendongannya.


Maya yang sudah turun berjalan mendekati Hana dan Alvaro, ia tertawa kecil sambil membawa coklat ditangannya.


Alvaro memeluk tubuh Maya dengan erat lalu mencium pipinya. "Cepatlah besar sayang," ucapnya.


Maya memakan coklat tersebut hingga membuat wajahnya berlumuran dengan coklat. Hana dan Alvaro hanya terkekeh geli, mereka berdua pun mencium pipi Maya yang masih sibuk mengunyah coklat.


Angkasa merangkul pundak Aksa dan Bintang mereka menatap kearah Hana dan Alvaro dengan Maya yang berada ditengah-tengah mereka.


Kebahagiaan Alvaro sudah lengkap ditambah kehadiran seorang putri yang begitu cantik sudah cukup baginya.


Alvaro mencium kening Hana dan Maya. "Aku mencintai kalian semua," ucapnya.


Hana memegang dagu Alvaro lalu mengecup pipinya. "Aku juga mencintaimu Alvaro," ucapnya.


"Terima kasih," bisik Alvaro. "Terima kasih sudah memberiku seorang putri yang begitu cantik,"


"Aku bersyukur memilikimu sebagai istriku, tetaplah bersamaku Hana," sambung Alvaro.


Bintang dan yang lainnya berjalan mendekat lalu mereka mengambil alih Maya yang tengah di peluk Hana.


"Kau adalah princess kami Remaya Aurelia,"


"Kami mencintaimu,"


∆∆∆