
Alvaro menggenggam tangan Hana dengan erat sambil menatap cemas kearahnya.
Bagaimana tidak,perkataan Ervan benar-benar terjadi. Kini kandungan Hana tepat delapan bulan dan seperti perkataan Ervan,ia akan melahirkan.
"Jangan tertidur Hana,jangan!!"ucap Alvaro sambil menepuk pipi Hana agar ia tetap sadar.
"Sakit"ringis Hana sambil menarik tangan Alvaro saat ia merasakan perutnya begitu mulas.
"Tahan sayang"ucap Alvaro.
"Apa kalian tidak bisa cepat?! Istriku sudah kesakitan,sialan!!"umpat Alvaro.
Para suster dan dokter pun membawa bankar tersebut kedalam ruang persalinan.
"Maaf,kami harus memeriksa kondisi pasien terlebih dahulu. Apa ia memungkinkan untuk melahirkan normal atau tidak,mohon tuan tunggu di luar lebih dulu"ucap Dini,dokter disana.
"Arghhh..!!"Alvaro mengacak rambutnya frustasi saat melihat pintu ruangan Hana tertutup rapat.
Ia berjalan mondar-mandir di depan ruangan Hana sambil menatap cemas kearah ruangan tersebut.
"Bagaimana kondisi Hana?"tanya Ervan,ia sehabis berlari mendengar Hana akan melahirkan hari ini
Alvaro menggeleng panik"aku tidak tau,Hana sedang di periksa di dalam"ucapnya.
Cklek`
"Bagaimana kondisi istriku?"tanya Alvaro langsung.
Dini menggeleng"sepertinya istri anda tidak bisa melahirkan secara normal,kita harus menjalankan operasi sesar"ucapnya.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk istriku"ucap Alvaro panik.
"Baik--"
"Dokter gawat! Pasien mengalami pendarahan"ucap Suster dari dalam.
Raut wajah semua orang langsung panik termasuk Alvaro.
"Aku akan menyiapkan peralatan operasi,aku akan membantu proses operasinya"ucap Ervan lalu ia berlari menuju ruangannya.
"Tuan Alvaro,anda bisa menunggu di luar. Kami akan melakukan semampu kami"ucap Dini.
"Selamatkan istriku,tolong!"ucap Alvaro.
Dini mengangguk"akan saya usahakan"ucapnya.
"Ayo,bawa pasien keruang operasi. Cepat!!"ucap Ervan.
Mereka langsung membawa Hana menuju ruang operasi,Alvaro menggenggam tangan Hana sembari mengecupnya.
"Bertahanlah sayang,demi anak kita"ucap Alvaro di balas senyuman lemas dari Hana.
Hana pun sudah masuk kedalam ruang operasi kini lampu masih menyala merah pertanda operasi sudah berlangsung.
Alvaro bergerak tidak tenang sembari mengucapkan doa untuk keselamatan istrinya.
"Ku mohon,selamatkan istri dan anakku"ucap Alvaro sambil mengatupkan kedua tangannya.
Jantung Alvaro berdetak tidak beraturan dengan keringat dingin yang membasahi dahinya.
Ia terduduk lemas di bangku sambil mengacak rambutnya dengan kesal.
"Alvaro"panggil Arika.
Alvaro menoleh"ibu"lirihnya.
Arika langsung memeluk tubuh Alvaro"tenang sayang,Hana pasti bisa melakukannya"ucapnya.
"Semoga"ucap Alvaro lesu sambil memandang pintu ruangan Hana yang masih tertutup.
"Bagaimana kondisinya?"tanya Arika.
"Hana mengalami pendarahan,dan sekarang ia sedang di dalam untuk melakukan operasi"ucap Alvaro lemas.
"Oh ya tuhan!!"
∆∆∆
Setengah jam sudah berlalu namun lampu operasi tersebut masih menyala menandakan operasi masih berlangsung.
Alvaro berjalan mendekat kearah pintu ruangan tersebut lalu memegangnya.
"Bertahanlah Hana"gumam Alvaro.
Sepuluh menit kemudian kembali terdengar suara tangisan bayi membuat hati Alvaro sangat senang dan terharu.
Selang beberapa menit selanjutnya bayi ketiga pun lahir terdengar suara tangisan yang begitu kencang dari dalam.
"Oh God!! syukurlah,anak ku sudah lahir"ucap Alvaro dengan pelan.
Lampu operasi pun sudah mati menandakan operasi sudah selesai membuat Alvaro menatap harap kearah pintu.
Cklek`
Ervan keluar dengan seragam operasinya lalu melepas masker yang ia kenakan.
"Bagaimana kondisinya?"tanya Alvaro sambil memegang kedua pundak Ervan.
Ervan meringis"ketiga anak mu lahir dengan kondisi sehat,mereka tidak perlu di inkubator"ucapnya.
"Tapi--"
"Tapi apa?"tanya Alvaro dengan cepat.
Ervan meringis"setelah melahirkan bayi ketiga,kondisi Hana sangat lemah dan dia----"ucapannya terhenti sembari menatap Alvaro dengan ragu.
"Dia? Hana kenapa? Jawab aku!!"ucap Alvaro marah.
"Dia sekarang dalam kondisi koma"ucap Ervan pelan sambil memejamkan mata.
Alih-alih takut terkena pukulan dari Alvaro.
Alvaro menatap nanar tangan yang berada di bahu Ervan langsung ia lepas,ia jatuh terduduk dengan pandangan kosong.
Arika memekik histeris melihat kondisi anaknya,ia membantu Alvaro untuk bangun.
"Shit!!"Alvaro langsung menarik kerah baju Ervan.
"Apa yang kau katakan sialan!! Kau berbohong kan?!"ucap Alvaro marah.
"Dengan berat hati aku berkata kalau ini tidak bohong,ALVARO SADARLAH!!"ucap Ervan kesal.
"Kalau kau tidak percaya kau bisa melihatnya nanti"sambung Ervan sambil melepaskan tangan Alvaro dari kerah bajunya.
Ervan kembali masuk untuk membawa bankar Hana keruangan yang lebih baik.
Alvaro terpaku melihat Hana tertidur dengan wajah pucatnya dengan cepat ia mengikuti mereka.
Alvaro berjalan perlahan kearah Hana yang sudah ditempeli berbagai alat di tubuhnya.
"Sayang"ucap Alvaro dengan parau sambil mengelus pipi Hana.
"Kau sudah berhasil sayang,tolong buka matamu"ucap Alvaro lesu,ia mencium kening Hana.
"Mereka sudah lahir,apa kau tidak ingin melihatnya?!"ucap Alvaro,ia menempelkan bibirnya dengan bibir Hana.
"Buka matamu Hana,aku mohon"ucap Alvaro lirih.
Ia menghela nafas pelan lalu menatap ranjang kecil yang berisikan malaikat kecilnya. Ia berjalan mendekati ranjang tersebut dengan penuh haru.
Mereka terlihat sangat kecil menurut Alvaro,ia menyentuh pipi anaknya dengan pelan.
"Kalian mirip sekali dengan ku"ucap Alvaro.
"Jadilah anak yang sehat"lirih Alvaro.
Salah satu anaknya menggeliat dalam tidurnya membuat Alvaro mengembangkan senyumnya.
"Kalian lucu sekali."Alvaro mencium pipi ketiga anaknya.
"Bintang,Aksa,Angkasa. Itu nama kalian."
∆∆∆
TBC