
"Oi!! Kembalikan sepatu ku Angkasa!!" teriak Aksa.
Angkasa memeletkan lidahnya kearah Aksa lalu melemparkan sepatu miliknya Aksa keluar.
"Sialan!!" umpat Aksa.
Bintang menatap datar, ini hari ketiga dimana ia sudah pulang kerumah namun Hana masih belum mengizinkan dirinya untuk pergi sekolah.
Takut jika Bintang akan merasa sakit lagi karena tulangnya yang retak dalam masa penyembuhan.
Bintang menatap jengah, ia duduk di kursi roda karena dirinya belum boleh untuk banyak bergerak.
"Sayang, jangan bertengkar lagi," ucap Hana.
"Aye aye captain," ucap Angkasa sambil kembali melemparkan sepatu milik Aksa keluar rumah.
"Shit!" umpat Aksa, lalu ia keluar untuk mengambil sepatunya yang di lempar Angkasa keluar.
Hana mendorong kursi roda Bintang, "Aku bisa sendiri mom," ucap Bintang.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin membantumu," ucap Hana sambil mengusap rambut Bintang.
"Morning wife," Alvaro mencium kening Hana.
Hana tersenyum lalu mengambil sarapan untuk Alvaro dan putranya.
"Mom, hari ini aku pulang terlambat," ucap Angkasa.
"Kenapa sayang?" tanya Hana.
"Aku ada tanding basket nanti," ucap Angkasa di balas anggukan kepala Hana.
"Aku harus berangkat sekarang sayang, ada rapat penting hari ini," ucap Alvaro sambil mengecup bibir Hana.
"Hati-hati," ucap Hana, Alvaro membalas dengan anggukan kepala.
"Aku dan Aksa berangkat sekolah dulu mom," ucap Angkasa sambil mengecup pipi Hana.
"Pergi dulu mom," ucap Aksa sambil mencium pipi Hana juga.
"Hati-hati ya sayang," ucap Hana.
"Yo, kita main lagi nanti," ucap Angkasa pada Bintang.
Bintang mengangguk singkat lalu melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
"Mommy mau ke dapur dulu ya sayang," ucap Hana.
Bintang mengangguk pelan lalu ia mendorong kursi rodanya menuju keluar rumah.
Bintang mendorong kursi rodanya menuju taman yang dekat dengan rumahnya, merepotkan memang. Namun jika ia memaksakan untuk bergerak tulang punggungnya yang retak akan bertambah parah.
Bintang menatap kearah beberapa anak laki-laki yang sedang bermain bola di tengah lapangan lalu ia menatap beberapa anak perempuan yang sedang bermain boneka.
Bintang tersenyum tipis, mereka lucu. Seandainya ia memiliki seorang adik perempuan mungkin akan menyenangkan.
Tukk~
Sebuah pesawat kertas mendarat di pangkuan Bintang, ia pun menoleh dimana seorang anak perempuan menatap nya takut terlihat dari caranya memegang dress miliknya dengan erat.
"Ambilah," ucap Bintang sambil menunjukan pesawat kertas ditangannya.
Gadis kecil tersebut berjalan perlahan mendekatinya, sepertinya baru berumur 7 tahun.
"Ini," ucap Bintang sambil memberikan pesawat kertas tersebut.
Gadis kecil tersebut tersenyum, "Terima kasih," ucapnya dengan senang.
"Sampai jumpa kakak tampan,"
∆∆∆
Bintang sudah kembali ke rumah dengan banyak teman dan juga gurunya yang datang untuk menjenguk.
"Apa sakit?" tanya Gio, Bintang menggeleng singkat.
"Itu hanya luka biasa menurut Bintang, benar bukan?" ucap Keano, Bintang mengangguk pelan.
"Hey, dari tadi Dean menatap mu," bisik Gio pada Bintang.
Bintang mengangkat bahunya tidak peduli, ia lebih memilih menyibukkan diri walau sebenarnya ia tau dua gadis yang duduk di hadapannya ini sedang menatap dirinya.
"Kapan kau sekolah?" tanya Keano.
"Lusa," balas Bintang singkat.
Gio dan Keano mengangguk, "cepatlah kembali sekolah, banyak yang merindukanmu termasuk dua gadis dihadapan mu itu," bisik Keano.
Bintang berdecih, lalu kembali membaca buku miliknya. Membuat Hana menggelengkan kepalanya.
"Silahkan di minum," ucap Hana sambil memberikan minuman untuk teman dan guru sekolah Bintang.
"Ah, terima kasih," ucap Yurika, guru sekolah Bintang.
"Jangan malu-malu ya sayang," ucap Hana pada teman-teman Bintang.
"Terima kasih bibi," ucap mereka.
"Ibu mu sangat cantik ya, pantas saja kau juga tampan," ucap Gio.
Bintang memutar bola matanya dengan malas lalu ia mengambil cemilan dan memakannya.
"Jika aku seumuran ibumu, mungkin aku juga akan menyukainya. Benarkan?" ucap Keano sambil menyenggol lengan Gio.
"Benar," ucap Gio.
"Setelah itu kalian berdua akan habis di tangan ayahku," ucap Bintang datar.
Keano menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, siapa yang tidak mengenal Alvaro? Dia adalah pria dingin dan begitu posesif dengan istrinya.
Jika tidak salah waktu pertama kali mereka berdua datang kerumah Bintang mereka mengira Hana adalah adik atau kakak dari Alvaro.
Karena melihat interaksi Hana yang seperti interaksi antara adik dan kakak bukan seperti ibu dan anak.
Bahkan dengan bodohnya Gio berkata ia tertarik dengan Hana, untung saja saat itu Alvaro belum pulang bekerja jika tidak.
Gio meringis, betapa malunya dia waktu itu sedangkan Hana hanya tertawa kecil dan tersenyum maklum.
Dan ya Bintang akui Hana begitu cantik dan memukau mungkin banyak pria yang mau dengan ibunya pantas saja ayahnya begitu posesif.
Ia sempat ingin bertanya apa ibunya memiliki banyak penggemar, ia yakin sampai sekarang pun ada banyak pria yang menyukai ibunya.
"Mom,"panggil Bintang membuat Hana menoleh lalu tersenyum.
"Ada apa sayang?" tanya Hana.
"Aku ingin adik perempuan,"
∆∆∆
TBC