My Posessive Husband

My Posessive Husband
36.



"Kau berkata seperti itu kemarin?" tanya Angkasa dengan kagum.


Bintang mendengus dan memilih untuk diam dan tidak membalas perkataan saudaranya itu.


"Apa kita akan mengadopsi seorang adik?" tanya Aksa penasaran.


Bintang mengangkat bahunya membuat Aksa mendengus apa dia tidak bisa memberikan beberapa kata untuk menjelaskan sesuatu.


"Ini, makanan sudah siap," ucap Hana dengan membawa piring berisi makanan.


"Mom, apa kita akan mengadopsi seorang adik?" tanya Angkasa penasaran.


Hana tersenyum tipis. "Untuk apa mengadopsi kalau masih bisa membuatnya sendiri," ucap Alvaro tiba-tiba.


Wajah Hana memerah lalu ia pun mencubit pinggang Alvaro, bisa-bisa dia berkata seperti itu didepan putranya.


"Alvaro, jaga perkataan mu," ucap Hana kesal.


Alvaro terkekeh pelan. "Mereka akan belajar sendiri nanti sayang," ucapnya.


"Membuatnya? Memangnya seorang adik bisa di buat?" tanya Aksa bingung. Alvaro nampak menahan tawanya sedangkan Hana wajahnya sudah kembali memerah.


"ALVARO!!" teriak Hana kesal.


"Iya sayang," ucap Alvaro dengan kedipan matanya.


Hana memukul kepala Alvaro dengan kuat hingga membuat ia mengaduh kesakitan.


"Sakit sayang," ringis Alvaro.


"Siapa yang menyuruhmu untuk mengatakan itu pada mereka ha?!" Hana menarik telinga Alvaro.


"Kembali ke kamar mu Alvaro," ucap Hana.


"Aye aye captain," Alvaro mengecup pipi Hana dan pergi menuju kamarnya.


"Sebenarnya apa yang dikatakan Daddy mom?" tanya Aksa penasaran.


Hana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Itu tidak penting sayang, lanjutkan makan mu," ucapnya.


Aksa dan Angkasa mengangguk lalu kembali melanjutkan makannya sedangkan Bintang hanya berdecak kesal.


"Dasar bodoh!" gumam Bintang pelan, sebenarnya ia tau apa yang dimaksud dengan perkataan yang ayahnya ucapkan.


Namun kedua saudaranya ini masih terbilang begitu polos membuat mereka mudah untuk dikelabui.


"Bintang, apa kau sudah boleh bergerak lagi?" tanya Aksa.


Bintang mengangguk pelan. "Kenapa?" tanya nya.


"Ayo kita tanding basket," tawar Aksa.


Bintang mengangkat alisnya lalu mengangguk. Aksa dan Angkasa saling melempar senyuman.


"Aku sudah kenyang," ucap Bintang lalu ia berdiri dan kembali ke kamarnya.


"Mom, apa Bintang pernah menyukai seorang gadis?" tanya Angkasa penasaran.


Hana meringis bahkan ia tidak tau apakah Bintang pernah menyukai seorang perempuan.


"Hey, apa kau tidak lihat? Bahkan Bintang saja jarang berdekatan dengan seorang gadis," ucap Aksa dengan mulut penuh makanan.


Angkasa mengangguk paham. "Ya aku hanya bertanya saja, siapa tau dia menyukai seseorang," ucapnya.


"Sekarang aku yang bertanya padamu, memangnya kau sudah menyukai seorang gadis?" tanya Aksa.


Angkasa hanya mengeluarkan cengiran bodohnya. "Belum," ucapnya.


Angkasa tertawa pelan. "Aku kan hanya bertanya,"


∆∆∆


"Apa Bintang mengatakan seperti itu kemarin?" tanya Alvaro saat melihat Hana memasuki kamar.


Hana mengangguk pelan. "Aku tidak tau kenapa Bintang tiba-tiba mengatakan seperti itu," ucapnya.


Alvaro terkekeh pelan lalu ia pun menutup buku yang ia pegang. "Kemarilah," ucap nya.


Hana pun berjalan mendekat dan duduk di pinggiran kasur lalu Alvaro menarik tubuhnya dan memeluk dengan erat.


"Sepertinya Bintang benar-benar menginginkan seorang adik perempuan," ucap Alvaro sambil terkekeh.


Alvaro memeluk pinggang Hana. "Apa kau siap jika mengandung lagi?" tanya nya khawatir.


"Aku tidak tau, aku hanya takut," ucap Hana dengan pelan.


Alvaro tersenyum maklum lalu mengecup kening Hana. "Kita akan bertanya pada Ervan besok," ucapnya.


"Kalau kau tidak bisa mengandung lagi kita bisa mengadopsi seorang anak nanti," ucap Alvaro sambil mengecup punggung tangan Hana.


"Jangan khawatirkan itu," Hana mengangguk, Alvaro begitu tau dirinya.


"Baiklah, sekarang waktunya tidur. Kau terlihat sangat lelah sayang," ucap Alvaro.


Hana mengecup bibir Alvaro lalu memeluk tubuh suaminya itu.


"Hana, aku tidak ingin kau seperti kemarin lagi. Aku tidak ingin membuat mu merasa sakit lagi," ucap Alvaro, ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Hana.


"Aku tidak mau kehilangan mu," sambung Alvaro.


Hana tersenyum lalu mengusap rambut Alvaro. "Aku tidak akan terluka lagi, aku janji," ucapnya.


Alvaro mengangguk pelan. "Tentu saja, jika ada yang berani menyakitimu ia akan berhadapan denganku," ucapnya dengan tegas.


Hana terkekeh kecil. "Baiklah-baiklah," ucapnya.


"Kau hanya milikku, kau hanya milik keluarga Antony," ucap Alvaro.


"Tidak ada yang boleh menyentuh istriku," sambung Alvaro.


Hana tersenyum tipis. "Im yours," ucapnya.


Alvaro terkekeh kecil. "Tentu saja, karena kau hanya untukku Hana," ucapnya dengan nada posesif.


"Tidurlah, hari sudah begitu larut," bisik Alvaro sambil mencium bibir Hana dan melumatnya dengan pelan.


"Tidurlah, jika tidak aku mungkin tidak akan bisa menahannya lagi," ucap Alvaro dengan kedipan matanya.


Wajah Hana memerah, ia pun memeluk tubuh Alvaro dengan erat membuat Alvaro terkekeh pelan.


"Mesum," lirih Hana, Alvaro hanya membalas dengan tertawa geli.


"Oh sayang, kau tau aku. Aku tidak akan puas dengan tubuhmu jika hanya melakukan itu sekali saja," ucap Alvaro membuat Hana menggeram kesal.


"Aduh!" ringis Alvaro, ia menatap Hana yang tengah memeluknya dan memberikannya cubitan maut.


"Baiklah, sekarang tidurlah," ucap Alvaro.


"Night wife, mimpi indah sayang,"


∆∆∆


Tbc