My Posessive Husband

My Posessive Husband
6.



"Alvaro aku ingin nasi goreng."


"Tidak,aku juga ingin cookies coklat."


"Varo,aku juga mau ayam bakar."


Alvaro tertawa kecil melihat tingkah manja Hana walaupun ia lelah,ia tetap membuatkan makanan yang di minta Hana.


Hana tersenyum senang dan memakan dengan lahap membuat Alvaro tersenyum.


"Ini kau harus makan juga"ucap Hana sambil menyuapi Alvaro yang dengan senang hati di terima olehnya.


"Kenyang?"tanya Alvaro.


Hana menggeleng"belum"ucapnya.


Alvaro tersenyum maklum sambil mengusap rambut Hana dengan sayang.


Karena kini Hana sedang mengandung tiga bayi di dalam perutnya jadi Alvaro tidak mempermasalahkan tentang nafsu makan Hana.


Hana memakan cookies coklat miliknya dengan begitu lahap,Alvaro membersihkan sudut bibir Hana lalu mengecup bibirnya.


"Manis"gumam Alvaro.


Wajah Hana bersemu merah lalu ia memukul kepala Alvaro dengan sendok yang ia pegang.


"Sakit"ringis Alvaro sambil mengusap kepalanya.


"Suruh siapa kau mesum"ucap Hana sambil mendengus.


Tak lama kemudian handphone milik Alvaro berbunyi ia langsung mengangkat telepon miliknya.


"Hallo?"ucap Alvaro.


"Tuan,mengenai data perusahaan ada beberapa data keuangan yang di manipulasi dan kita kehilangan ratusan juta."


Brakk~


Hana menoleh dengan terkejut karena Alvaro menendang meja dengan kuat.


"Cari dalangnya sampai tuntas dan masukan mereka ke penjara"ucap Alvaro dingin.


"Baik tuan."


Tut~


Alvaro menghela nafas pelan ,Hana memeluk tubuh Alvaro dari belakang membuat Alvaro sedikit tersentak.


"Ada apa,hm?"tanya Alvaro.


Hana melepaskan pelukannya lalu menatap Alvaro"apa ada masalah?"tanya nya.


Alvaro menghela nafas pelan"ada masalah sedikit"ucapnya.


Hana tersenyum lalu membawa Alvaro menuju ruang tamu lalu Hana duduk sambil menepuk pahanya.


"Tidurlah"ucap Hana.


Alvaro menggeleng sambil tersenyum"tidak,aku tidak ingin kau kelelahan"ucapnya.


"Aku tidak apa-apa,kemari!!"Hana menarik tangan Alvaro dan menyuruhnya untuk membaringkan kepalanya di paha Hana.


Alvaro menurut ia menghadapkan wajahnya kearah perut rata Hana sambil sesekali menciumnya.


Hana mengusap rambut Alvaro dengan pelan sedangkan Alvaro memilih untuk memeluk perut Hana dan memejamkan matanya.


"Hana,kau ingin anak perempuan atau laki-laki?"tanya Alvaro.


Hana tersenyum"apapun jenis kelamin nya itu,yang terpenting ia menjadi anak yang sehat"ucapnya.


Alvaro tersenyum"aku berharap anak perempuan secantik dirimu atau laki-laki setampan diriku"ucapnya sambil terkekeh geli.


Hana tertawa kecil"aku harap dia tidak menuruni sifat mu yang dingin dan posesif itu"ucapnya.


Alvaro tersenyum"apa aku terlalu posesif padamu?"tanya nya.


Hana berpikir sejenak"tidak terlalu tapi selalu membuatku jengkel"ucapnya kesal.


Alvaro tertawa kecil lalu mencium kening Hana dengan sayang.


∆∆∆


Seorang wanita berjalan di koridor kantor dengan angkuhnya.


'kekasih tuan Alvaro kah?'


'terlihat seperti ******'


'bajunya terlalu terbuka'


Cklek~


"Alvaro sayang"panggil Desi,wanita dengan gaun merah yang terbuka.


Alvaro menatap Desi dengan datar"siapa kau?"tanya nya.


Desi mengerucutkan bibirnya"apa kau lupa padaku? Aku Desi"ucapnya.


"Aku tidak kenal,keluarlah!! Sebelum aku menyuruh satpam untuk mengusirmu"ucap Alvaro dingin.


Desi tidak mendengar perkataan Alvaro,ia lebih memilih duduk di meja mengarahkan tubuhnya dengan posisi duduk yang menantang.


Alvaro menatap tajam Desi saat ia dengan berani menyentuh dasinya.


"PERGI!!"Alvaro mendorong tubuh Desi hingga tersungkur.


"Kau kira aku tergoda dengan tubuh mu yang sering di gunakan orang lain? Maaf,istriku lebih menggoda dari mu"ucap Alvaro sambil membersihkan dasinya dengan sapu tangan.


Alvaro bergedik jijik menatap Desi yang tidak tau malu malah berjalan mendekatinya.


"Shit! Kau ****** sialan!!"Alvaro mencekik leher Desi.


"Al-Alvaro,lepaskan!"ucap Desi terbata-bata.


Alvaro meludah"cih,menjijikan"ucapnya sambil melempar tubuh Desi ke lantai.


Cklek~


Hana membatu melihat keadaan di dalam lalu menatap Alvaro yang sudah mengetatkan rahangnya itu.


Desi yang melihat itu tersenyum miring sambil berpura-pura meringis memegangi perutnya.


"Alvaro,kau sangat kejam. Kau bahkan ingin membunuhnya cabang bayi kita"ucap Desi membuat Alvaro bergidik ngeri.


Hana berjalan mendekati Alvaro lalu menggandeng tangannya.


"Siapa dia?"tanya Hana.


Alvaro menggeleng"tidak kenal, datang-datang mencari masalah"ucapnya.


Desi langsung berdiri menatap Alvaro kesal"Alvaro,aku kekasihmu"ucapnya.


Alvaro menaikan sebelah alisnya menatap remeh ke arah Desi"kekasih? Aku saja tidak mengenalmu,dan kau bilang kau kekasih ku? Mimpi!!"ucapnya.


Hana menatap nyalang kearah Desi"maaf saja nona,sekalipun kau telanjang di depan suamiku. Dia tidak akan tertarik pada tubuh palsu dan longgar milik mu itu"ucapnya.


Desi menggertakan giginya ia mengeluarkan pisau dan mengarahkan nya ke arah Hana namun dengan cepat Alvaro menendang pisau tersebut.


Alhasil pisau tersebut terjatuh dan Alvaro langsung mengunci pergerakan tangan Desi membuatnya kesulitan untuk bergerak.


"Lepaskan aku!!"ucap Desi.


Hana memandang Desi dari atas hingga bawah sampai sebuah lencana yang menempel di pinggangnya membuatnya tertarik.


Hana mengambil lencana tersebut membuat Desi panik bukan main.


"Kembalikan lencana itu padaku!!"ucap Desi.


"Ini?"tunjuk Hana.


"Ambil saja kalau bisa"sambung Hana dengan nada dingin.


Hana menunjukkan lencana tersebut kearah Alvaro lalu Alvaro menggertakan giginya.


"Jadi kau suruhan Herry?"tanya Alvaro dingin.


Desi langsung menggeleng dengan cepat lalu Alvaro menyeringai ia menarik Desi keluar dari kantornya.


"Ayo kita buat pertunjukan yang menarik untukmu."


∆∆∆


TBC