My Posessive Husband

My Posessive Husband
23.



Bintang mendengus lagi-lagi isi lacinya di penuhi surat cinta dan coklat dari penggemarnya lalu tas juga di isi dengan berbagai macam jenis coklat.


Bintang membuang semua surat cinta kedalam tong sampah sedangkan coklat ia berikan pada teman nya.


Kini Bintang berumur 12 tahun, ah dan tentu saja ia pintar bahkan dirinya selalu menjadi peringkat pertama di kelas dan juga jangan lupakan dengan para gadis yang tergila-gila padanya.


Membayangkannya saja membuat Bintang merinding ditempat.


"Angkasa!! Kembalikan sepatu ku"teriak Aksa.


Bintang memutar bola matanya dengan malas, lagi-lagi mereka bertengkar dengan alasan yang sama.


"Morning mom"Bintang mencium pipi Hana.


"Morning sayang."Hana merapihkan dasi milik Bintang.


"ANGKASA KAU MERUSAK TOPI KU SIALAN!!"teriak Aksa.


"Astaga sayang"ucap Hana sambil memijat pelipisnya.


Bintang menatap acuh sembari memakan roti miliknya.


"Mom, dimana Daddy?"tanya Bintang.


Hana tersenyum"Daddy sedikit lembur di kantor sayang mungkin nanti malam ia akan pulang"ucapnya.


Bintang mengangguk lalu menghabiskan sarapannya dan menenteng tas di bahunya.


Bintang mencium kening Hana"mom, aku berangkat"ucapnya.


"Hati-hati sayang"ucap Hana.


"Bintang tunggu aku!!"teriak Angkasa membuat Hana menggelengkan kepalanya.


"Oi tunggu aku!!"teriak Aksa sambil memasang sepatunya sembari berdiri.


"Aduh!"ringis Aksa saat dirinya jatuh tersungkur membuat wajahnya langsung menyentuh lantai.


Hana tertawa lepas melihat kejadian tersebut membuat Aksa merenggut kesal lalu ia kembali berdiri dan berlari menyusul saudaranya.


"ANGKASA!! AKSA!!"teriak Alvaro membuat Hana terkejut.


"Ada apa? Mereka sudah berangkat"tanya Hana bingung.


Alvaro menggeram kesal lalu melemparkan banyak amplop bewarna putih kearah meja.


"Apa itu?"tanya Hana.


"Surat panggilan orang tua"ucap Alvaro kesal.


Hana terkekeh melihat nya, bukan sekali dua kali mereka mendapatkan surat panggilan dari sekolah dan semua atas nama Angkasa dan Aksa.


Ah Bintang adalah anak yang paling rajin dan sangat pintar, ia tidak pernah mendapat satu surat panggilan apapun selain sertifikat juara miliknya. jangan lupakan satu lemari yang berisi banyak penghargaan yang ia dapatkan.


"Surat panggilan lagi"ucap Hana sambil terkekeh.


Alvaro memijat pelipisnya"anak itu, bisa-bisanya membuat ku naik darah"ucapnya.


"Tapi aku tidak separah mereka berdua"protes Alvaro tidak terima.


"Akui saja kau pernah nakal sayang"ledek Hana.


Alvaro menekuk wajahnya mendengar ucapan istrinya itu, memang benar dia dulu begitu nakal tapi tidak separah anaknya ini.


Astaga!! Bahkan Alvaro dibuat pusing tujuh keliling oleh Angkasa dan Aksa karena menerima banyak surat panggilan yang mengharuskannya datang.


∆∆∆


Bintang membuka helmnya lalu membenarkan letak dasi di lehernya lalu berjalan menuju kelasnya.


Saat akan membuka loker miliknya lagi-lagi penuh dengan surat cinta dan coklat membuat Bintang berdecak kesal lalu kembali menutup lokernya.


Ia harus meminta kepala sekolah memindahkan lokernya ditempat yang lebih aman jika tidak sampai lulus sekolah isi loker miliknya hanya berisikan surat cinta para penggemarnya.


Bintang menghela nafas pelan lalu ia memasuki ruang kelasnya dan mendapati pemandangan yang sama. Mejanya terisi penuh dengan bunga dan banyak amplop warna warni.


Ok, Bintang mulai membenci ini. Ia paling tidak suka ada yang menganggu ketenangannya dan hal yang mereka lakukan sangat menganggu ketenangannya.


Bintang membuang semua barang yang berada di mejanya lagi-lagi ia mendengar desahan kecewa dari para gadis namun ia tidak peduli. Ia hanya ingin sekolah dengan tenang dan tidak ada yang mengganggunya itu saja.


Bintang memasang headset dan mulai membaca buku miliknya banyak pasang mata menatapnya tertarik namun tidak ia pedulikan. Oh ayolah, apa tidak terlihat begitu jelas ia membuang semua barang yang mereka berikan padanya.


Semuanya, tanpa terkecuali. Bintang tidak tertarik dengan barang yang mereka berikan padanya baginya barang-barang itu bisa ia dapat dari hasilnya sendiri.


Dan Bintang benci perempuan yang terlalu agresif padanya, Bintang benci kebisingan dan sangat tidak suka jika ada yang mengganggunya.


Sama halnya dengan Aksa, ia akui ia memang nakal namun tidak sedikit orang yang memuji otaknya karena penerima penghargaan lomba.


Aksa yang menatap dingin kearah gadis yang baru saja menyatakan perasaan padanya.


"Pergilah."ucap Aksa sambil melepas dasi sekolahnya.


Gadis itu mendesah kecewa lantaran ia pun di tolak juga oleh pentolan sekolah ini.


Aksa berdecak saat melihat banyak barang di dalam loker miliknya lalu ia membuang semua nya tanpa tau apa yang mereka berikan padanya.


Lain hal nya Angkasa, si bungsu jahil ini tiada hari tanpa menjahili seseorang. Sifat jahilnya yang sudah terlihat dari kecil dan sekarang bahkan mungkin lebih parah dari yang dulu.


"Akhhh!! Tikus!"teriakan para gadis saat tau isi lokernya berisi tikus-tikus kecil yang menjijikan.


"Akhhh....apa ini lengket?"Angkasa menahan tawanya sembari mengintip di sudut ruangan.


"Akhhh...menjijikan."


Angkasa tertawa lepas sambil bersiul lalu ia kembali kedalam kelasnya dan memulai aksinya dengan mencoret-coret buku milik ketua kelas lalu menggantung tas para gadis di paku yang tertancap. Lalu ia menumpahkan cairan pembersih lantai sembari menginjak-injak meja kelasnya.


"Sudah beres"ucap Angkasa senang lalu ia keluar dari kelas sebelum teriakan membahana dari gurunya.


"ANGKASA!! KEMBALI KESINI ANAK NAKAL!"


∆∆∆


TBC