My Posessive Husband

My Posessive Husband
32.



Semenjak Hana selesai dioperasi kini Alvaro lebih posesif pada Hana dan sekarang ia di larang untuk memasak dengan alasan masih pemulihan karena operasi.


Angkasa yang kini ubah alih menjadi memasak di dapur oleh Alvaro karena dirinya disuruh untuk melakukan itu sendiri tanpa bantuan kedua saudaranya hanya karena ia pernah memasak sekali dan Alvaro langsung menyuruh nya.


Memasak sendiri disaat yang lain hanya tinggal menunggu masakan telah matang, poor Angkasa.


Angkasa menggerutu kesal untung ia tau cara memasak jika tidak ia yakin dapur ibunya akan menjadi seperti medan perang.


"Biar mommy bantu ya sayang."ucap Hana membuat Angkasa menggeleng panik.


Tidak boleh, ibunya tidak boleh memasak jika ketahuan oleh ayahnya fasilitas nya akan ditarik. Oh goddess, itu lebih mengerikan dari pada disuruh untuk memasak.


"No, no mommy. Tidak boleh! Mommy tidak boleh memasak."Angkasa menarik tangan Hana dan menyuruhnya untuk duduk diruang makan.


"Mommy tunggu disini saja."ucap Angkasa.


"Tapi---"


"Ingat pesan daddy mom. Kau tidak boleh berada di dapur."ucap Angkasa.


Hana memijat pelipisnya"baiklah, baiklah."ucapnya.


Angkasa mengecup pipi Hana dan kembali ke dapur untuk memasak, ia jadi mengerti kenapa Alvaro begitu menginginkan seorang anak perempuan. Anak perempuan lebih cocok saat memasak tidak seperti laki-laki yang memiliki kekuatan bahkan dapur bisa berubah alih menjadi medan perang.


Hana menggerutu kesal lagi-lagi Alvaro yang melarangnya bahkan sekarang semua putranya ikut melarangnya, tidak adil!!


Semua tidak boleh ia kerjakan, Alvaro melarangnya takut jika dirinya kelelahan atau terluka. Sangat berlebihan hingga membuat Hana kesal.


"Aku pulang."ucap Aksa disusul Bintang dari belakang.


"Mom."Bintang mencium kening Hana.


"Sudah pulang sayang?"tanya Hana.


"Iya mom."jawab Aksa sedangkan Bintang hanya mengangguk.


"Apa Angkasa masih di dapur?"tanya Aksa dibalas anggukan kepala Hana.


"Aku ingin lihat."ucap Aksa sambil berjalan menuju dapur meninggalkan Bintang dan Hana yang berada di ruang makan.


"Ini"ucap Bintang sambil memberikan selembar kertas.


Hana membacanya lalu menatap Bintang"kau akan pergi ke Singapura untuk lomba?"tanya nya.


Bintang mengangguk"hanya beberapa hari saja "ucapnya.


Hana menghela nafas"kapan kau akan pergi?"tanya nya.


"Besok."ucap Bintang singkat.


"Apa kau butuh sesuatu sayang sebelum pergi?"tanya Hana.


"Temani aku beli sesuatu mom."ucap Bintang.


Hana mengangguk"baiklah."ucapnya, entah kenapa perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak.


Hanya perasaannya saja atau akan terjadi sesuatu yang buruk pada Bintang? Tidak! Ia tidak boleh memikirkan yang tidak-tidak.


"Pedas sialan!!"umpat Aksa.


Angkasa mengeluarkan cengiran nya"aku lupa jika tadi aku memasukan banyak bubuk cabai."ucapnya.


"Sialan Angkasa!!"


∆∆∆


"Apa semua sudah di beli sayang?"tanya Hana.


"Sudah."balas Bintang singkat.


Hana tersenyum namun ia terdiam lagi-lagi perasaan tidak enak menyerangnya. Ini tidak mungkin sebuah firasat kan?


"Duduk disini mom."ucap Bintang sambil menepuk bangku taman yang kosong.


Hana mengangguk lalu ia duduk disamping Bintang.


"Hari ini panas sekali ya."ucap Hana sambil mengusap keningnya yang berkeringat.


Bintang mengeluarkan sapu tangannya lalu membersihkan wajah Hana.


"Aku belikan eskrim dulu."ucap Bintang sambil memberikan headset miliknya pada Hana.


Hana mengangguk karena kedai eskrim tidak jauh dari mereka, ia menatap sapu tangan Bintang. Sungguh hatinya masih merasa resah dan tidak tenang. Sebenarnya apa yang terjadi padanya.


Hana memakai headset milik Bintang mungkin mendengar beberapa lagu membuat hatinya menjadi tenang.


Bintang menatap antrian yang begitu panjang lalu ia berdecak kesal, ia harus menunggu lama untuk membeli eskrim.


"Ck!"decak kesal Bintang. Ia juga lupa kenapa ia malah memberikan headset miliknya pada Hana.


Bintang menatap menu eskrim sepertinya ia akan membelikan eskrim rasa coklat untuk Hana, karena memang Hana adalah penggemar makanan manis itu.


Bintang menatap dari kejauhan tampak Hana sedang mendengarkan musik lewat headset miliknya, Bintang tersenyum tipis. Ia akan melakukan apapun agar ibunya tetap tersenyum seperti itu.


Bintang mengumpat, berapa lama lagi ia harus menunggu? Kakinya sudah pegal karena lama berdiri.


Lima belas menit kemudian giliran Bintang yang mendapat urutan dan masih banyak di belakangnya.


"Eskrim coklat dan vanila."ucap Bintang sambil memberikan beberapa lembar uang.


"Lihat! Ada mobil sepertinya mabuk, kita harus di pinggir."ucap anak perempuan di belakangnya.


"Hey, wanita itu bagaimana? Mobilnya mengarah kesana."ucap anak perempuan di sampingnya.


Bintang merasa penasaran lalu menoleh dan membulatkan matanya saat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi mengarah tepat dimana------Hana berada.


Bintang langsung berlari saat semua orang sudah meneriaki Hana karena ia tidak akan bisa mendengar karena telinganya sudah tersumpal dengan headset milik nya.


"MOM AWAS!"teriak Bintang sambil memeluk tubuh Hana.


Brakk~


Bintang berguling saat tubuhnya dengan keras menabrak bagian depan mobil. Hana menatap panik, ia langsung melepaskan headset di telinganya dan mengabaikan tubuhnya yang terasa sakit. Jantungnya terasa berhenti mendadak saat sebuah mobil menabrak putranya namun Bintang tetap memeluk tubuhnya dengan erat.


"Bintang!! Sayang!!"Hana menepuk pipi Bintang agar putranya tetap sadar.


"Mom."lirih Bintang sebelum matanya menutup sempurna membuat Hana berteriak histeris.


"Tidak! Tidak!! Bangun Bintang! Bangun!!"teriak Hana.


"Tolong! Tolong aku! Tolong selamatkan putraku!!"Hana menangis sambil memeluk tubuh Bintang yang sudah terkulai lemas.


"BINTANG!!!"


∆∆∆


TBC