
Bintang berlari dengan tergesa-gesa disusul dua saudaranya yang berada di belakang. Bintang menatap sekelilingnya dengan wajah panik.
"Kamar nomor 17?" tanya Bintang pada suster yang lewat.
"Di sebelah sana," tunjuk suster kearah sana membuat Bintang kembali berlari.
"Bintang, pelan-pelan saja," ucap Angkasa kesal namun tidak didengarkan oleh Bintang.
Bintang menghentikan langkahnya saat mendengar suara rintihan Hana dari dalam ruangan. Bintang menatap cemas ia bergerak mondar mandir didepan ruangan Hana.
"Hei. Tenanglah," Aksa memegang kedua bahu Bintang dan menyuruhnya untuk duduk.
Dengan nafas gusar Bintang nanar kearah pintu ruangan Hana. Ia pun duduk sambil menundukkan kepalanya.
Disisi lain...
"Kau pasti bisa sayang," ucap Alvaro sambil mengecup kening Hana yang bercucuran keringat.
"Sakit," lirih Hana.
Alvaro menggenggam tangan Hana sambil mengusap perut buncit Hana. "Bertahanlah sayang, demi anak kita," bisiknya.
Hana kembali mengejan sambil menarik kuat tangan Alvaro. Alvaro meringis karena kuku Hana mengenai kulitnya, namun ia tidak peduli karena rasa sakit yang ia rasakan tidak sebanding Hana.
"Kau pasti bisa sayang. Mereka semua menunggumu," bisik Alvaro sambil menyeka keringat Hana.
Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi membuat Alvaro menatap haru, ia menghujami wajah Hana dengan ciuman.
"Terima kasih," bisik Alvaro sambil mengecup pipi Hana.
"Aku mencintaimu," ucap Alvaro.
Hana tersenyum lemah, tubuhnya terkuras habis. Ia hanya ingin istirahat setelah ini.
"Selamat anak anda perempuan," ucap dokter.
Alvaro mengambil alih bayi yang berada di gendongan dokter tersebut. Alvaro menatap kagum melihat putrinya begitu cantik.
"Dia mirip denganmu sayang," ucap Alvaro.
Bintang, Aksa dan Angkasa yang mendengar suara tangisan bayi langsung berdiri dari duduknya. Lalu dokter keluar dari tersebut.
Bintang menerobos masuk kedalam disusul Aksa dan Angkasa.
"Mom," panggil Bintang.
Hana tersenyum tipis, Bintang berjalan mendekat lalu mencium kening Hana.
"Dimana adik kami?" tanya Angkasa heboh.
"Disini," ucap Alvaro sambil memperlihatkan keranjang bayi di samping bankar Hana.
Aksa, Angkasa dan Bintang mendekat. Mereka tersenyum senang lalu menyentuh pipi halus adiknya.
"Lucu sekali," ucap Angkasa dengan gemas sambil mencium pipinya.
"Cantik," gumam Aksa.
Bintang tersenyum sambil mengelus pipi adiknya.
"Siapa namanya?" tanya Aksa.
"Apa kalian ingin memberinya nama?" tanya Hana.
"Tentu saja mau," balas mereka kompak.
"Dia seperti emas," ucap Aksa. "Aurelia artinya emas,"
"Dia lahir di bulan mei," sambung Angkasa. "Maya,"
Bintang tampak berpikir. "Remaya Aurelia," ucapnya.
Alvaro tersenyum. "Baiklah. Nama adik kalian Remaya Aurelia,"
Flashback off.
Angkasa mengayunkan tubuh Maya keatas membuat adiknya tertawa lepas. Ia pun memangku Maya sampai ia merasakan sesuatu yang aneh.
"MOMMY! MAYA MENGOMPOL!"
∆∆∆
Maya berjalan mendekati Bintang yang sedang sibuk dengan bukunya, ia duduk di pangkuan Bintang.
Bintang menoleh dan tersenyum tipis lalu mengecup kening Maya sambil melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
Karena penasaran dengan apa yang Bintang lakukan Maya berusaha mengambil buku milik Bintang yang berada di meja.
"Kau mau buku juga?" tanya Bintang sambil mengambil satu buku milik nya dan memberikannya pada Maya.
Maya dengan senang hati mengambil buku yang sama, ia membuka buku tersebut lalu mengayunkannya kedepan.
Ia berdiri dari pangkuan Bintang dan bermain dengan bukunya. Maya berguling-guling di karpet membuat Bintang terkekeh melihatnya.
Setengah jam kemudian akhirnya Bintang selesai mengerjakan tugasnya, ia menatap Maya yang mulai menguap pertanda ia mengantuk.
Bintang langsung menggendong tubuh Maya dan mengusap punggungnya. Maya yang sudah menguap melingkarkan tangannya di leher Bintang dan mulai memejamkan matanya.
Bintang membaringkan tubuh Maya diatas kasur dan menyelimuti nya dengan selimut. Sebelum pergi Bintang mencium kening Maya dan keluar dari kamar tersebut.
"Dimana Maya?" tanya Aksa bingung.
"Tidur," balas singkat Bintang.
Aksa menghela nafas kecewa. "Padahal aku ingin bermain dengannya," ucapnya lesu.
"Nanti sore," balas Bintang.
Hari semakin sore semua berkumpul di ruang tamu sambil melihat Maya yang tidak bisa diam nampak mengejar mainan yang diacungkan Angkasa.
Bintang menyuapi biskuit coklat untuk Maya sedangkan Aksa sibuk mengabadikan momen tersebut didalam ponselnya.
Alvaro merangkul bahu Hana lalu mencium keningnya. "Sudah lengkap bukan? Aku senang sekali," ucapnya.
"Aku pun," balas Hana, ia tersenyum melihat putranya begitu antusias merawat adik perempuannya.
"Dia akan jadi gadis yang sangat cantik," ucap Alvaro.
Hana terkekeh. "Sangat cantik," ucapnya.
"Aku jadi sedikit khawatir," ucap Alvaro. "Putriku sangat cantik. Mungkin akan banyak pria yang memperebutkan nya,"
Hana menoleh dan terkekeh pelan. "Tentu saja," ucapnya.
"Aku mencintaimu," bisik Alvaro sambil mencium pipi Hana.
"Aku pun," ucap Hana.
Saat akan mencium bibir Hana suara menyebalkan Angkasa membuatnya jengkel.
"DADDY JANGAN DISINI! ADA MAYA!"
Alvaro menatap datar lagi-lagi Angkasa mengganggunya. Jika ia bukan putranya akan dengan senang hati Alvaro mengirimnya jauh agar ia tidak mengganggu lagi.
"Kau benar-benar ingin aku asing kan ya?" tanya Alvaro dingin.
Angkasa tertawa lepas sembari menggendong Maya dan berlari membawanya keluar disusul Bintang dan Aksa.
"DADDY! JANGAN LUPA KUNCI PINTU KAMAR YA!" teriak Aksa.
"Sialan!" umpat Alvaro.
Hana terkekeh pelan lalu mengecup pipi Alvaro. "I love you," bisiknya.
"I know. I love you too, and i love my family,"
∆∆∆
TAMAT