
"mommy, jadi aku akan mempunyai adik?"tanya Angkasa dengan semangat.
Hana mengangguk lalu tersenyum"iya sayang."ucapnya.
"Perempuan atau laki-laki?"tanya Aksa.
Hana terkekeh"belum terlihat sayang."ucapnya.
Hana menatap Bintang yang terdiam di tempatnya, sepertinya kabar darinya membuat dia terkejut.
"Bintang, apa kau tidak menyukainya sayang?"tanya Hana.
"Tidak, aku hanya terkejut."balas Bintang datar.
"Kemarilah."ucap Hana sambil menepuk sofa di sebelahnya yang masih kosong.
Bintang menurut dan duduk di samping Hana.
"Mommy, mommy tetap menyayangi kami kan?"tanya Angkasa.
"Tentu saja, kenapa kau berkata seperti itu?"tanya Hana bingung.
"Aku hanya takut kalau mommy tidak menyayangi kami lagi."ucap Angkasa.
Hana menggeleng"tentu saja tidak, mommy sayang kalian. Karena kalian anak mommy."ucapnya.
Angkasa mengangguk sambil tersenyum lalu ia memeluk tubuh Hana.
"Aku sayang mommy."ucap Angkasa.
"Me too."balas Hana sambil mengusap rambut Angkasa.
"Minggir!! Aku juga mau memeluk mommy."Aksa menarik kerah baju Angkasa hingga terhuyung.
"Sialan!!"umpat Angkasa.
Bintang memeluk Hana dari samping begitupula Aksa sedangkan Angkasa menggerutu kesal karena ia terjatuh akibat tarikan Aksa yang begitu kuat.
Hana mengusap rambut Aksa dan Bintang, ia terkekeh melihat Angkasa yang masih terduduk di lantai.
"Bangun sayang, baju mu bisa kotor nanti."balas Hana.
Angkasa bangun dari duduknya dan memeluk Hana dari belakang.
"Ada apa ini? Kenapa kalian saling berpelukan?"tanya Alvaro.
"Daddy, kami akan punya adik."ucap Angkasa senang.
"Tentu saja, lepaskan pelukan kalian biarkan mommy makan dulu."ucap Alvaro.
"Iya."balas mereka bersamaan.
"Makan lah, kau pasti lapar sayang."ucap Alvaro.
Hana mengangguk"ayo kita makan bersama."ucapnya.
"Mommy, kau tau tidak? Bintang banyak mendapat surat cinta dan coklat dari para gadis."celetuk Angkasa.
"Tapi semua hadiah itu malah dia buang ke tong sampah bukan kah itu sayang sekali?"sambung Angkasa sambil memakan cemilan di tangannya.
Bintang mendengus, ia paling kesal jika ada yang membicarakan dirinya dengan nada yang menyebalkan seperti itu.
"Berisik sekali!"ucap Aksa sambil mendengus.
Angkasa menatap remeh kearah Aksa"bilang saja kau kalah populer dengan Bintang, bahkan surat yang kau dapatkan tidak sebanyak dirinya."ledeknya.
Aksa menatap melotot kearah Angkasa"kau ini----"
"Apa kalian berdua tidak bisa diam?!"bentak Bintang langsung membuat mereka berdua terdiam .
"Diamlah! Jangan mengganggu orang yang sedang makan!"ucap Bintang dingin.
Hana meringis melihat betapa menyeramkan nya putranya itu jika sedang marah.
"Ayo kita lanjutkan makan nya sayang."ucap Hana sedangkan Alvaro terkekeh melihat kedua putranya tidak berkutik saat di marahi Bintang.
"Ah, galak sekali."
∆∆∆
Ia belum pernah merasakan seperti ini karena waktu ia hamil dulu keadaan masih baik-baik saja tidak seperti ini.
Hana memegang dinding sambil meremas baju yang ia kenakan, sakitnya terasa begitu nyeri sangat menyakitkan hingga membuat Hana terisak menahan sakit.
"Sakit."ringis Hana sambil memejamkan matanya.
Hana berjalan perlahan menuju meja, ia harus menelpon Alvaro. Sungguh ini sangat menyakitkan nya.
Rumah sepi karena anak-anak nya pergi sekolah sedangkan Alvaro harus pergi ke kantor karena rapat mendadak disana.
Hana meringis, ia berusaha mencari nomor telepon Alvaro dan langsung menghubunginya.
"Hallo? Ada apa sayang?"tanya Alvaro dengan nada khawatir.
"Al-Alvaro sakit."ringis Hana membuat Alvaro panik bukan main.
"Ada apa? Apa yang terjadi padamu?!"ucap Alvaro panik.
"Aku----"
Brukk~
Hana pingsan dengan ponsel yang masih hidup.
"Sayang? Hana? Hana-----oh shit!! Aku akan kesana bertahanlah sayang."Alvaro langsung mematikan sambungan telepon.
Di sisi lain....
Alvaro langsung berdiri dari duduknya dan bergegas keluar namun terhadang dengan beberapa orang yang memandangnya bingung.
"Tuan Alvaro, kita tidak bisa menundanya lagi."ucap Rio.
Alvaro menatap tajam"gantikan di lain waktu!"ucapnya dingin.
"Tidak bisa ini proyek----"
"Persetanan dengan proyek miliaran, istriku lebih berarti dari uang itu. PAHAM?!"Alvaro mendorong tubuh Rio dengan kuat.
"Kalau kalian ingin batalkan saja, aku tidak peduli dengan tender proyek itu. Bagi ku istriku lebih berarti dari apapun."Alvaro berlari meninggalkan ruang rapat dengan wajah begitu panik.
Alvaro langsung memasuki mobilnya dan menancapkan gas nya dengan kecepatan tinggi.
"Damn it!!"Alvaro menatap jalanan yang terlihat sangat macet.
"Sialan!! Cepatlah!"Alvaro mencengkram kuat stir mobilnya.
"Shit!"umpat Alvaro, ia langsung menghubungi nomor Bintang.
"Hal---"
"Kerumah sekarang!! Ibu mu pingsan, CEPAT!!"Alvaro menutup sambungan telepon lalu ia menancapkan gas mobilnya kembali saat jalanan sudah mulai merenggang.
Tak peduli banyaknya umpatan dari pengendara diluar sana, ia harus segera sampai di rumahnya.
Bintang yang berada di sekolah langsung membeku ia menatap jam di dinding lalu berlari menuju koridor. Ia harus sampai dirumah.
Bintang melihat Aksa dan Angkasa sedang bermain basket dengan cepat ia menarik kerah baju keduanya.
"Ap---"
"Mommy pingsan, kita pulang!!"bentak Bintang.
"Tidak usah ambil tas dulu, kita harus lihat Mommy."sambung Bintang sambil melompat pagar belakang sekolah disusul Aksa dan Angkasa.
Bintang menaiki motornya begitu pula dengan kedua saudaranya, ia pun mulai menghidupkan mesin dan menancapkan gas motornya dengan kecepatan tinggi.
Jantung Bintang berdetak tidak karuan, ia takut terjadi sesuatu pada Hana.
Saat sampai bertepatan dengan mobil Alvaro, mereka pun bergegas masuk lalu mencari keberadaan Hana.
Alvaro yang kini sedang panik mencari dan membeku ditempat saat melihat Hana tergeletak di samping meja.
"HANA!!"
∆∆∆
TBC