
"Sayang, mommy melihatmu dengan seorang gadis. Siapa dia?" tanya Hana.
Bintang mengangkat bahunya acuh. "Tidak tau," balasnya singkat.
Hana menghela nafas pelan lalu mengusap rambut Bintang. "Kalau begitu ayo kita pergi jalan-jalan dulu," ucapnya.
Bintang mengangguk lalu ia bangun dari duduknya namun langsung terduduk kembali sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri, Hana langsung menatap khawatir.
"Ada apa?" tanya Hana khawatir.
Bintang menggeleng. "Mom pergilah dulu. Aku akan menyusul," ucapnya.
"Tapi---"
"Pergi lah aku baik-baik saja," ucap Bintang.
Hana menatap ragu namun ia tetap mengangguk dan berjalan lebih dulu meninggalkan Bintang yang masih memegangi dadanya.
"Ck! Kenapa dadaku sakit lagi?" decak kesal Bintang.
Bintang berjalan perlahan, ia tidak mau membuat yang lain khawatir padanya. Bintang teringat jika ia belum memakan apapun dari tadi pantas saja dadanya terasa sesak karena ia memiliki maag.
Bintang mengirimi pesan untuk Hana agar mereka menunggu sebentar lalu ia pun berjalan menuju toko roti terdekat untuk membeli makanan pengganjal perut. Setelah itu ia berjalan menyusul keluarganya.
"Ada apa?" tanya Alvaro penasaran.
Bintang menggeleng lalu ia berjalan beriringan dengan Aksa dan Angkasa.
"Kau yakin?" tanya Alvaro ragu.
Bintang mengangguk singkat ia kembali memakai kacamata hitam miliknya.
"Kita akan kemana?" tanya Hana.
"BERBURU MAKANAN!" teriak Angkasa dengan heboh.
Hana terkekeh pelan melihat tingkah putranya itu. "Baiklah, kita akan berburu makanan," ucapnya.
Angkasa bertepuk tangan lalu merangkul pundak Bintang dan Aksa.
"Kau tinggi sekali," ucap Angkasa kesal karena tingginya hanya sebatas telinga Bintang saja.
"Kau yang terlalu pendek," balas Bintang sarkastik.
Angkasa menatap datar dan mencibir kesal kearahnya. "Aku akan melebihi tinggimu nanti. Lihat saja," ucapnya.
Bintang menurunkan sedikit kacamatanya. "Coba saja," tantangnya.
Aksa terkekeh pelan melihat Angkasa yang tidak berkutik jika berdebat dengan Bintang berbeda dengan dirinya yang selalu bertengkar dengan Angkasa.
"Apa kalian mau eskrim sayang?" tanya Hana sambil melihat kedai eskrim di dekatnya.
"MAU!"teriak Angkasa dengan semangat sedangkan Bintang dan Aksa hanya mengangguk.
Saat Hana akan berjalan menuju kedai eskrim dari arah berlawanan nampak mobil tengah melaju kencang dengan cepat Alvaro merengkuh tubuh Hana kedalam pelukannya.
Jantung Hana berdetak dengan begitu kencang raut wajahnya nampak pucat membuat Alvaro menggeram kesal sekaligus panik.
Bintang mengeratkan rahangnya lalu menghampiri mobil hitam yang hampir menabrak ibunya.
Brakk~
Bintang menendang kuat pintu mobil tersebut hingga menimbulkan lecet pada mobil itu.
"Keluar!" desis Bintang marah.
Lalu tak lama kemudian seorang pria keluar dan sekali hentakan Bintang menarik kerah baju pria tersebut dan mendorong tubuhnya dibadan mobil.
"Kau hampir mencelakai ibuku,"
∆∆∆
"Sorry, aku terburu-buru tadi," ucap Kevin dengan bahasa inggris yang begitu fasih.
"Kau pikir aku peduli," Bintang kembali menarik kerah baju Kevin.
"Kau hampir mencelakai ibuku," sambung Aksa sambil menatap tajam.
"Kau mau mati ya?" Angkasa mendorong pelan bahu Kevin.
"Bintang! Aksa! Angkasa! Cukup!" Hana menarik tubuh Bintang dan kedua putranya agar menjauh.
"Maafkan putraku," ucap Hana sambil menyembunyikan tubuh putranya dibelakang tubuhnya.
Kevin tersenyum tipis. "Maaf bibi, aku tidak sengaja. Apa bibi terluka?" tanya nya.
Hana menggeleng lalu Alvaro menatap nyalang. "Hey nak. Kau hampir menabrak istriku lalu kau hanya meminta maaf saja?" ucapnya marah.
"Alvaro," ucap Hana sambil menggelengkan kepalanya.
Alvaro menghela nafas kasar. "Pergi! Sebelum aku memukul wajahmu," ucapnya penuh ancaman.
Kevin menatap bersalah. "Maaf paman bibi, aku benar-benar tidak sengaja. Aku harus pergi ke sekolah hari ini," ucapnya.
Hana mengangguk lalu tersenyum. "Tidak apa-apa. Pergilah," ucapnya.
Kevin menunduk hormat. "Permisi bibi paman aku pamit dulu," ucapnya lalu kembali masuk kedalam mobil.
Angkasa menggeram kesal. "Awas! kalau kau bertemu denganku lagi," ucapnya.
Bintang memegang kedua bahu Hana lalu melihat tubuh ibunya apa ada lecet atau tidak.
"Mommy tidak apa-apa sayang," ucap Hana sambil tersenyum.
Bintang mendengus lalu melepaskan tangannya. "Biar aku yang membelinya saja," ucapnya sambil berjalan menuju kedai eskrim.
"Aku juga ikut," ucap Angkasa disusul dengan Aksa. Mereka pun pergi bersama-sama.
"Kau tidak boleh seperti itu Alvaro," ucap Hana kesal. "Dia hanya anak-anak,"
Alvaro mendengus kesal. "Aku tidak peduli," ucapnya datar.
Hana memeluk lengan Alvaro dengan manja. "Jangan marah seperti itu," ucapnya.
Alvaro memalingkan wajahnya sedangkan Hana memeluk pinggang Alvaro.
"Alvaro," rengek Hana.
Alvaro menghela nafas pelan lalu ia merangkul bahu Hana dan mencium keningnya.
"Jangan membuatku khawatir lagi sayang," ucap Alvaro sambil mengusap rambut Hana dan mencium pipinya.
Hana mengangguk, ia memeluk tubuh Alvaro dengan erat. Ia bersyukur memiliki suami yang begitu perhatian padanya seperti Alvaro.
"I love you," bisik Alvaro.
"I love you too," balas Hana.
Saat Alvaro akan mencium kening Hana kembali teriakan Angkasa membuatnya langsung menghentikan kegiatannya.
"DADDY JANGAN BERMESRAAN DIDEPAN KAMI!" teriak Angkasa tidak terima.
"Kau mau aku asing kan?"
∆∆∆
TBC