My Posessive Husband

My Posessive Husband
12.



"Hana"Alvaro menatap haru,ia menciumi seluruh wajah Hana.


"Alvaro,kau membuatku sesak"ucap Hana.


"Ma-maaf,aku hanya--"


"Sttt--aku tau kau merindukanku"ucap Hana sambil tersenyum lemas.


"Aku ingin duduk"sambung Hana,Alvaro pun membantu nya untuk duduk.


"Kau ingin melihat mereka?"tanya Alvaro.


"Nanti saja,mereka sedang tertidur. Aku tidak ingin menganggu mereka"ucap Hana sambil menatap ketiga putranya yang tertidur pulas.


"Kau tampak berantakan"Hana menyentuh dagu Alvaro yang sudah di tumbuhi bulu-bulu halus.


Alvaro mengenggam tangan Hana yang berada di pipinya"aku senang kau kembali membuka matamu"ucapnya.


"Aku tidak pernah bayangkan jika kau benar-benar pergi dariku"ucap Alvaro lesu.


Hana mencium kening Alvaro"aku tetap kembali bukan?"tanya nya.


Alvaro mengecup bibir Hana"ya kau kembali"ucapnya.


Cklek~


"Akhirnya kau bangun juga Hana,aku tidak bisa membayangkan Alvaro akan mengamuk di rumah sakit lagi"ucap Ervan dengan ledekan.


Alvaro mendengus kesal"sedang apa kau kesini?"tanya nya.


Ervan menatap datar"aku ini dokter istrimu bodoh,apa kepala mu terbentur barusan?"ucapnya.


Alvaro mencibir kesal,Ervan memeriksa kondisi tubuh Hana.


"Jangan terlalu lama menyentuh nya!"ucap Alvaro sambil menepis tangan Ervan yang berada di tangan Hana.


Pletak'


Ervan memukul kepala Alvaro"kau ingin aku suntik mati ya?"ucapnya kesal.


Alvaro mengusap kepalanya membuat Hana terkekeh pelan melihat tingkahnya


Ervan mendengus kesal,ia kembali memeriksa Hana dengan stetoskop miliknya.


"Kondisi tubuh mu sudah mulai membaik,aku sarankan untuk tidak terlalu banyak bergerak tubuhmu masih lemas"ucap Ervan.


Hana mengangguk lalu tersenyum"terima kasih"balasnya.


Ervan tersenyum tipis membuat Alvaro mendelik kesal.


"Jangan tersenyum di depan istriku!"ucap Alvaro sambil mendorong tubuh Ervan menjauh dari istrinya.


"Kau benar-benar ingin mati cepat ya?!"Ervan menatap datar kearah Alvaro.


"Alvaro,jangan seperti itu!"ucap Hana.


"Tapi--"


"Dia hanya memeriksa aku saja,jangan terlalu berlebihan"ucap Hana.


Alvaro mengangguk lesu,Ervan tersenyum meledek kearah Alvaro.


"Enyah kau sana!!"Alvaro mendengus kesal.


"Kalau begitu Hana makan lah yang banyak dan jangan lupa minum vitamin yang aku berikan"ucap Ervan.


Hana mengangguk"iya"balasnya.


Ervan melewati Alvaro sembari menginjak kakinya membuat Alvaro mengaduh kesakitan.


"Shit!!"umpat Alvaro"awas kau!!"


Ervan mengacungkan jari tengahnya kearah Alvaro.


"Sialan!!"umpat Alvaro,Hana tertawa kecil melihat interaksi Ervan dan Alvaro yang tidak biasa.


Alvaro duduk di samping Hana lalu mengusap rambutnya dengan pelan.


"Tidurlah,sudah malam. Kau harus banyak-banyak istirahat"ucap Alvaro.


Hana mengangguk lalu mengecup pipi Alvaro"selamat malam sayang."ucapnya.


∆∆∆


"HANA!! AKU MERINDUKANMU"Lani memeluk Hana erat.


"Ugh--kau membuatku kesulitan bernafas"ucap Hana.


"Ah,maaf aku terlalu bersemangat"ucap Lani.


"Kemana yang lain?"tanya Hana.


"Mereka tidak bisa datang hari ini,mungkin besok"ucap Fadhel.


"Putra mu lucu sekali"ucap Fadhel namun saat ingin menyentuhnya Alvaro memukul tangannya pelan.


"Cuci tangan mu dengan antiseptik baru kau bisa menyentuhnya"ucap Alvaro.


"Kenapa kau semakin hari semakin menyebalkan"ucap Fadhel kesal.


"Siapa nama mereka?"tanya Lani.


"Bintang,Aksa,Angkasa"ucap Alvaro sambil menyuapi Hana makan.


"Boleh aku menggendong nya?"tanya Lani.


"Gendong saja"ucap Hana,Lani dengan senang hati menggendong salah satu putra nya.


"So cute"ucap Lani,ia menciumi pipi gembul dengan gemas.


"Tentu saja"ucap Alvaro.


"Ngomong-ngomong bagaimana rasanya mengandung bayi kembar?"tanya Lani.


"Apa kau ingin punya anak kembar juga?"goda Hana.


"Bu-bukan seperti itu,aku hanya bertanya saja"ucap Lani gugup.


Alvaro menyenggol lengan Fadhel"sepertinya istrimu memberimu kode"ucap Alvaro.


Fadhel tertawa kecil"kami juga sedang berusaha,bukan begitu sayang?"ucap nya.


Wajah Lani memerah"a-apa yang kau katakan?"ucapnya.


Hana tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya ini.


Setengah jam kemudian Lani dan Fadhel pamit pulang lebih dulu karena ada yang harus mereka urus.


"Sepi kembali"ucap Hana.


Alvaro mengusap rambut Hana"jika kau sudah sembuh,kita akan jalan-jalan"ucapnya.


Hana tersenyum"terima kasih"ucapnya.


"Lucu sekali"ucap Hana,ia sedang menyusui salah satu putra nya.


"Mirip sekali dengan mu"sambung Hana.


Alvaro tersenyum"ia akan menjadi pria yang sangat tampan"ucapnya.


"Sepertiku"sambungnya membuat Hana terkekeh geli.


"Narsis sekali"ucap Hana.


"Apa mereka menyusahkan mu?"tanya Hana,ia membenarkan posisi tidur anaknya.


Alvaro menggeleng"mereka diam saja dan penurut,hanya Angkasa yang lebih aktif dari mereka berdua"ucap nya.


Alvaro mencium kening Hana"terima kasih,terima kasih karena sudah melahirkan mereka"ucapnya.


Alvaro memeluk tubuh Hana dari samping sembari mengelus pipi putranya yang berada di gendongan Hana.


Lalu Alvaro menatap dua putranya yang sudah lebih dulu tertidur pulas di tempat tidur.


"Kenapa Angkasa belum tertidur juga?"tanya Hana. Ia menyentuh tangan mungil tersebut dengan jarinya.


"Mungkin ia merindukan mu karena dia yang paling aktif dan tidak bisa diam"ucap Alvaro.


Hana mencium kening anaknya"jadilah anak yang baik sayang"ucapnya.


Angkasa anaknya kini tengah mengemut ibu jarinya lalu menguap membuat Hana tersenyum gemas.


"Tidurlah"ucap Hana,ia menepuk-nepuk punggung anaknya dengan pelan.


"Besok ibuku akan datang"ucap Alvaro.


Hana mengangguk,Alvaro kembali memeluk tubuh nya.


"Aku tidak membayangkan bagaimana rasanya jika kau benar-benar pergi."


∆∆∆


TBC