
Bintang nampak sibuk berlari mengitari lapangan dengan headset yang berada di telinganya. Tak lupa ia mengenakan topi bewarna putih dan jaket.
Setelah mengitari lapangan sebanyak tiga kali ia menghentikan langkahnya saat melihat kedua saudaranya nampak sedang beradu mulut dengan beberapa orang di depannya.
Bintang pun berjalan mendekati mereka berdua, mengabaikan tatapan memuja dari para gadis yang berada tidak jauh darinya.
"Pergi dari sini!" bentak Tio sambil mendorong bahu Angkasa.
"Kau pikir ini lapangan milikmu?" tantang Angkasa marah.
"Ini daerah kekuasaan kami, kalian hanya berdua. Pergilah! Sebelum kami membuat wajah kalian babak belur," ancam Zen.
Aksa mengepalkan tangannya. "Pengecut," desisnya kesal.
"Kau bilang apa tadi?!" tanya Peter marah sambil menarik baju Aksa.
Aksa berdecih kesal. "Kalian semua pengecut," ucapnya sambil meludah.
"Sialan!! Berani-beraninya kau!" Peter mendorong tubuh Aksa hingga hampir tersungkur jika Bintang tidak menahan tubuhnya dari belakang.
Bintang melepas headset yang ia kenakan lalu menatap nyalang kearah Peter dan yang lainnya. Ia merangkul pundak Aksa lalu melepaskan nya dan berjalan mendekati Peter.
Tatapan Bintang begitu dingin dan tajam membuat Tio dan teman-temannya terlihat sedikit takut.
"Kau yang mendorong adikku?" tanya Bintang dingin.
Peter tersenyum sinis. "Lalu? Memangnya kenapa? Kau mau melawanku?" tanyanya.
Bintang menarik kerah baju Peter yang tingginya hanya selehernya saja. Bintang melepas topi yang ia pakai.
"Kau tau apa kesalahanmu?" tanya Bintang datar.
Peter menelan salivanya dengan kasar. "Apa?" tantangnya.
Bintang menaikan alisnya lalu memukul wajah Peter hingga ia jatuh tersungkur.
"Kau mengganggu saudaraku dan bersikap seperti raja, lemah!" desis Bintang lalu kembali memukul wajah Peter.
"Kau berani mengancam kedua saudaraku?" tanya Bintang dingin.
"Sialan!! Lepaskan dia!" teriak Tio namun saat akan menyerah wajahnya menjadi sasaran tendangan Bintang.
Bintang melirik tajam kearah Zen yang membeku ditempatnya tak lama kemudian ia pun lari terbirit-birit.
"Awas kau!" teriak Zen.
Bintang berdecih lalu menarik kerah baju Peter dan Tio dengan kasar membuat Aksa dan Angkasa hanya bisa diam ditempatnya.
"Sekali lagi aku melihat kalian menindas seseorang disini aku jamin bukan hanya wajah kalian yang akan babak belur ditangan ku," ucap Bintang datar membuat Tio dan Peter menelan salivanya dengan kasar.
"Tapi tangan kalian yang akan aku patahkan, aku tidak main-main kalau kalian ingin lakukanlah," sambung Bintang lalu mendorong tubuh mereka berdua hingga tersungkur.
Lalu mereka pun berlari menjauh dari Bintang dan yang lainnya.
"WOAHHH! Kau luar biasa," decak kagum Angkasa.
Bintang melirik sekilas lalu memasang headset dan topinya kembali.
"Terima kasih," ucap Aksa.
Bintang mengangguk singkat. "Siapa yang mengganggu keluargaku mereka akan langsung berhadapan denganku,"
∆∆∆
"Mom," panggil Angkasa.
"Ada apa sayang?" tanya Hana sambil tersenyum.
Hana menatap terkejut. "Kenapa?" tanyanya penasaran.
"Mereka menyerang Aksa dan aku mom," ucap Angkasa sambil menopang kepalanya dengan tangan.
Hana menghela nafas pelan, Bintang begitu galak dan kasar. "Tidak apa-apa sayang," ucapnya.
"Bintang gentle sekali, pantas saja banyak gadis yang menyukainya," ucap Angkasa.
"Apa kau iri sayang?" tanya Hana sambil terkekeh geli.
Angkasa mendengus. "Sedikit. Tapi aku dan Aksa tidak bisa lebih unggul dari Bintang," ucapnya.
Hana mengusap kepala Angkasa. "Kalian berdua pasti bisa jika kalian benar-benar ingin belajar," ucapnya.
Angkasa mengangguk semangat. "Aku akan belajar lebih giat lagi," ucapnya.
"Pintar," Hana mencium kening Angkasa.
Disisi lain..
Bintang nampak tengah sibuk memukul samsak didepannya hingga tubuhnya dibasahi banyak keringat.
Ia berlatih keras hingga mengikuti banyak ajang beladiri hanya untuk melindungi keluarganya, keluarga yang paling ia sayangi.
Bintang menghela nafas, dadanya bergerak naik turun seiringnya nafas yang memburu.
"Huh," Bintang melepas satu tinjunya lalu duduk sembari minum.
"Kau berlatih begitu keras," ucap Alvaro sambil melemparkan sebotol minuman kaleng kearah Bintang.
Bintang mengangguk singkat lalu meminum air tersebut. "Ada apa?" tanyanya.
Alvaro menggeleng. "Hanya ingin melihat putraku yang sudah memukul seseorang," ucapnya.
Bintang mendengus lalu ia membuka kaus putih yang sudah basah karena keringat.
"Aku tau kenapa kau melakukan itu," ucap Alvaro sambil duduk disamping Bintang.
"Kau ingin melindungi saudaramu bukan?" tanya Alvaro.
Bintang mengangguk singkat lalu kembali meminum air sembari membersihkan tubuhnya yang basah karena keringat.
"Aku lihat kau begitu banyak mendapat surat cinta," ucap Alvaro.
Bintang menatap sekilas. "Lalu?" tanyanya dengan malas.
"Kenapa tidak berkencan dengan salah satunya?" tanya Alvaro.
Bintang mengangkat bahunya tidak peduli. "Membuang waktu saja," balasnya singkat.
Alvaro mendelik. "Kenapa aku berpikir kau memiliki kelainan terhadap perempuan?" tanyanya.
Bintang mendengus kesal. "Aku tidak memiliki kelainan," balasnya kesal.
Alvaro mengangguk paham. "Baiklah,baiklah. Aku tau," ucapnya.
Alvaro akui jika putranya yang satu ini memiliki pesona tersendiri. Badan yang sudah hampir terbentuk, tinggi yang berada diatas rata-rata dan jangan lupakan tatapan tajam darinya yang membuat siapapun yang melihatnya terasa terintimidasi.
Bintang memutar bola matanya dengan malas. Kenapa jika tidak memiliki kekasih disebut memiliki kelainan.
Lucu sekali, dengus Bintang kesal.
∆∆∆
TBC