My Posessive Husband

My Posessive Husband
45. END



"Kau pembohong," ucap Aksa kesal.


"Tidak," balas Bintang datar.


"Bohong. Mommy belum hamil," balas Angkasa ketus.


Bintang menatap datar, untuk apa ia membohongi saudaranya sendiri? Cih.


"Terserah," balas Bintang. Ia memilih berdiri dan berjalan menjauhi mereka.


"Aku tidak akan percaya lagi padanya," ucap Aksa kesal.


Angkasa menganggukan kepalanya. "Aku setuju. Aku juga tidak mau percaya padanya lagi," ucapnya.


Aksa berbaring di sofa sedangkan Angkasa sibuk dengan ponselnya dan Bintang yang sibuk dengan bukunya.


"Padahal aku sudah berharap kita memiliki adik lagi," ucap Aksa dengan nada kecewa.


Bintang menatap datar. Mereka tidak mau percaya padanya lagi padahal yang ia katakan adalah sebuah fakta.


Flashback~


Bintang mengerutkan keningnya saat melihat Hana yang tampak berjalan keluar masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah pucatnya.


"Mom, are you okay?" tanya Bintang.


Hana mengangguk lalu tersenyum. "Mommy baik-baik saja sayang," ucap nya.


Bintang menatap ragu. "Wajah mom pucat," ucapnya.


"Mungkin mom hanya masuk angin sayang," ucap Hana.


Bintang memapah tubuh Hana dan menyuruhnya untuk duduk sedangkan dirinya berjalan menuju dapur untuk membuatkan teh hangat.


"Mom, minumlah," ucap Bintang sambil menyeduh teh untuk Hana.


"Terima kasih sayang," ucap Hana.


Namun baru beberapa tegukan Hana kembali berlari kedalam kamar mandi untuk memuntahkan sesuatu.


"Mom, kau yakin baik-baik saja?" tanya Bintang khawatir.


Hana mengangguk dan berjalan sempoyongan lalu ambruk kedalam pelukan Bintang.


"Mom! Mommy!" Bintang menepuk-nepuk pipi Hana. Ia pun menggendong tubuh Hana dengan susah payah kedalam kamar milik Hana.


Bintang mengambil ponselnya namun ia terdiam jika ia menelpon Alvaro ayahnya itu akan panik bukan main. Lebih baik Bintang menelpon paman Ervan.


"Hallo paman?" sapa Bintang.


"Ada apa?" tanya Ervan.


"Apa paman bisa kesini? Mommy pingsan," ucap Bintang panik.


"Aku akan kesana," ucap Ervan. Ia langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Tak lama kemudian Ervan datang dengan tergesa-gesa ia pun memeriksa kondisi Hana dan terdiam.


"Ada apa?" tanya Bintang.


Ervan menatap Bintang lalu tersenyum. "Sepertinya kau akan memiliki adik lagi," ucapnya.


Bintang terkejut bukan main. Adik? Jadi ibunya tengah mengandung, kabar yang sangat baik menurutnya.


"Biarkan mommymu istirahat, jangan buat dia kelelahan," ucap Ervan.


Bintang mengangguk paham. "Terima kasih," balasnya.


"Kalau begitu aku pamit dulu," ucap Ervan dibalas anggukan kepala Bintang.


Bintang duduk di single sofa disamping kasur Hana, ia menyibukkan diri dengan membaca buku sembari menunggu hingga ibunya sadar.


Tak berapa lama kemudian Hana membuka matanya membuat Bintang berjalan mendekat.


"Mom," panggil Bintang.


Hana menoleh. "Iya sayang? Ada apa?" tanyanya.


"Aku akan memiliki adik lagi," ucap Bintang.


Hana mengerutkan keningnya. "Apa yang-----tunggu dulu, aku mengandung?" tanya nya.


Bintang mengangguk. "Paman Ervan sudah memeriksanya tadi," ucapnya.


Hana menatap haru, ia hamil lagi. Syukurlah hari yang sangat ia nantikan dan begitu pula dengan yang lainnya. Hana terdiam bukankah sebentar lagi ulang tahun Alvaro.


Hana tersenyum, ia akan memberi kejutan untuk suaminya itu.


"Bintang, apa kau bisa menjaga rahasia sayang? Tolong jangan beritahu siapapun tentang ini dulu,"


Flashback off


Bintang mendengus, ia tidak peduli dengan saudaranya jika mereka tidak mau mendengarnya lagi. Yang pasti ia sudah memberitahu bahwa yang ia katakan adalah sebuah fakta.


"Terserah kalian saja,"


∆∆∆


Keesokan harinya...


"Kau masak banyak sekali sayang," ucap Alvaro.


Alvaro terdiam. "Untukku?" tanyanya bingung.


Hana mengangguk pelan. "Ini untukmu sayang," ucapnya.


"Jangan terlalu lelah mom," ucap Bintang yang baru saja turun dari kamarnya.


Alvaro mengerutkan keningnya. "Ada apa ini?" tanyanya.


Hana menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. "Tidak ada apa-apa sayang," balasnya.


"ANGKASA KAU MELEMPAR SEPATUKU KE KOLAM LAGI BODOH!" teriakan Aksa begitu menggelegar seisi rumah.


Tampak Angkasa yang tengah berlari menghindar dari kejaran Aksa sambil tertawa lepas ia mengayunkan sepatu yang berada di tangannya.


"Kembalikan sepatu itu!" teriak Aksa.


"Coba saja kalau kau bisa," ucap Angkasa sambil memeletkan lidahnya kearah Aksa.


"Sialan! Angkasa!" umpat Aksa sambil melemparkan bantal sofa kearahnya.


Hana menggelengkan kepalanya. "Sayang, sudah. Jangan bertengkar lagi," ucap nya.


"Mommy! Angkasa melempar semua sepatuku kedalam kolam renang," protes Aksa marah.


"Kita bisa mengambilnya nanti sayang," balas Hana.


Aksa mendengus dan kembali mengejar Angkasa sambil melempar sesuatu dari tangannya.


Alvaro terkekeh pelan sambil sibuk menyantap makanan yang sudah Hana masakan untuknya.


Bintang menatap Hana. "Mom, berikan pada Daddy sekarang," ucapnya.


Alvaro menatap bingung. "Apa?" tanyanya.


Hana hanya tertawa kecil lalu mengangguk. "Kau akan tau Alvaro," ucapnya.


"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Alvaro.


Bintang hanya mengangkat bahu membuat Alvaro mendengus kesal. Percuma saja ia bertanya pada Bintang yang pada akhirnya ia pun diacuhkan olehnya.


"Aksa, Angkasa. Kemari sayang!" perintah Hana membuat Aksa dan Angkasa yang sibuk berlari berjalan mendekati Hana.


"Ada apa mom?" tanya Aksa penasaran.


Angkasa mengangguk. "Ada apa?" tanyanya juga.


Hana tersenyum lalu ia mengeluarkan kotak kado berukuran sedang dan ia memberikan nya pada Alvaro.


"Apa ini?" tanya Alvaro bingung.


"Selamat ulang tahun sayang," ucap Hana sambil mengecup pipi Alvaro.


Alvaro menatap terkejut, ah ia saja lupa kapan ia ulang tahun. Alvaro tersenyum lalu mengecup pipi Hana.


"Terima kasih sayang," balas Alvaro.


"Bukalah," ucap Hana.


Alvaro mengangguk, ia pun membuka kado yang berbungkus kertas bewarna biru dan hitam. Ia terdiam saat melihat benda yang ia tau fungsinya.


Alvaro menatap Hana, ia mengambil benda tersebut dan teryata adalah testpack dan hasilnya positif.


Alvaro menatap Hana tidak percaya. "Kau hamil sayang?" tanyanya.


Hana mengangguk lalu Alvaro langsung memeluk tubuhnya dengan erat dan menghujami ciuman di wajah Hana.


"Terima kasih. Terima kasih banyak. Ini adalah hadiah yang sangat besar untukku," ucap Alvaro.


"Sama-sama," ucap Hana.


Alvaro mengecup keningnya Hana, ia menatap Bintang yang nampak tenang membuat Alvaro yakin jika putranya bersekongkol dengan Hana.


"Kau sudah tau?" tanya Alvaro pada Bintang.


Bintang mengangguk singkat. "Aku sudah memberitahu mereka. Tapi mereka tidak mau percaya," ucapnya datar sambil menatap kedua saudaranya.


Aksa dan Angkasa melongo, jadi perkataan Bintang tidak bohong? Jadi mereka memiliki seorang adik?


"Akhirnya aku memiliki seorang adik," ucap Aksa sambil merangkul pundak Angkasa.


"Adik. Aku akan mempunyai adik," ucap Angkasa heboh membuat Bintang mendengus.


"Love you mommy!" teriak Aksa dan Angkasa sambil memeluk Hana dengan erat.


Bintang berjalan mendekat lalu menarik kerah baju keduanya. "Aku juga mau memeluk mommy," ucapnya datar.


Bintang memeluk tubuh Hana dengan erat. "Aku sayang mommy," bisiknya.


Hana tersenyum lalu Alvaro memeluk pinggang Hana.


"Hari yang paling bahagia, terima kasih sayang. Aku mencintaimu selalu," Alvaro mengecup bibir Hana.


"Kami semua mencintaimu Hana,"


∆∆∆


END