
Alvaro menggendong perlahan salah satu bayinya lalu ia meletakkan perlahan bayi mungil tersebut di atas dada Hana.
"Hana,apa kau tidak mau bangun? Apa kau tidak mau memeluk mereka sayang? Buka matamu sayang"ucap Alvaro dengan lirih.
Alvaro mengelus rambut Hana sambil mengecup kening Hana.
"Wake up honey"bisik Alvaro,ia mengecup kening Hana.
Cklek~
Arika menatap prihatin kearah Alvaro lalu ia berjalan mendekati Alvaro sambil tersenyum.
"Hana pasti bangun sayang"ucap Arika sambil menepuk puncak kepala Alvaro.
Alvaro mengangguk lesu sambil menggendong putranya.
"Mirip sekali dengan mu"ucap Ervin,ayahnya Alvaro.
Alvaro tersenyum tipis memang benar ketiga anaknya sangat mirip dengan nya hanya bibir mereka yang sama dengan Hana.
"Apa yang dokter katakan tentang Hana?"tanya Ervin.
Alvaro menatap Hana yang masih setia memejamkan matanya lalu menatap Ervin.
"Hana mengalami pendarahan yang hebat dan saat operasi detak jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak"ucap Alvaro sambil tercekat . Jika saja itu terjadi,Alvaro tidak akan menjamin rumah sakit ini masih akan berdiri tegak disini.
"Dan sekarang Hana koma"sambung Alvaro.
Ervin menepuk bahu Alvaro"tenang saja,aku yakin Hana pasti akan bangun"ucapnya.
Alvaro mengangguk lalu menatap Arika yang menggendong salah satu anaknya sedangkan Ervin menggendong anaknya yang satu lagi.
Arika tersenyum setidaknya anaknya masih bisa berpikir jernih lalu ia menatap Hana dan mengusap rambutnya dengan pelan.
"Bangunlah sayang,banyak yang menunggu mu disini"ucap Arika pelan.
Cklek~
"Maaf kami datang terlambat"ucap Sofi.
Alfred tersenyum sambil memeluk pinggang istrinya.
"Ah lucunya"ucap Sofi sambil menyentuh pipi mungil tersebut dengan tangannya.
"Bagaimana keadaannya?"tanya Alfred.
"Masih sama"ucap Alvaro sambil tersenyum tipis.
Alfred menepuk bahu Alvaro dengan jantan"aku yakin dia pasti akan bangun"ucapnya.
"Semoga"lirih Alvaro.
"Siapa nama mereka?"tanya Alfred.
"Bintang,Aksa,Angkasa. Itu nama mereka"ucap Alvaro.
"Nama yang bagus"ucap Alfred.
"Ugh...so cute."ucap Sofi gemas.
Setengah jam mereka berada di ruangan Hana kemudian mereka izin untuk pulang terlebih dahulu.
"Sepertinya aku harus pamit pulang sayang"ucap Sofi.
Alvaro mengangguk"iya,pulanglah. Sepertinya nenek dan kakek kurang istirahat."ucapnya.
"Kau benar,punggung tua ku ini semakin rapuh"ucap Alfred.
"Kami pamit,mungkin besok kami akan datang lebih sore"sambung Alfred.
"Tentu, hati-hati di jalan."ucapnya.
Setelah kakek dan neneknya pulang,Alvaro menghela nafas pelan lalu menatap kedua orang tuanya .
"Ayah,apa kau tidak pulang?"tanya Alvaro.
"Aku dan ibumu pulang lebih dulu,besok pagi kami akan kembali lagi"ucap Ervin.
"Iya ayah"ucap Alvaro.
Ervin menggendong tubuh Arika keluar dari ruangan Hana.
Alvaro mengusap rambut Hana"kapan kau akan bangun? Aku merindukan mu, anak-anak kita juga merindukan mu."
∆∆∆
Hari demi hari,bulan demi bulan, Hana tidak menunjukan tanda-tanda ia akan membuka matanya.
Kini sudah lima bulan lamanya bahkan putra mereka sudah bergerak dengan begitu aktif,sudah bisa berguling kesana kemari bahkan kini mereka sedang belajar duduk dari tengkurap nya.
Alvaro begitu senang sekali melihat anaknya sehat dan sangat aktif, walaupun begitu lelah Alvaro tetap melakukan kewajibannya sebagai ayah sekaligus direktur perusahaan.
Pekerjaannya pun ia bawa kerumah sakit sembari menjaga Hana dan ketiga putranya.
Ketiga putranya di asuh oleh pengasuh yang pernah merawatnya dulu waktu ia berumur tiga tahun.
Walaupun pengasuh putranya sudah begitu tua,ia tetap bisa mengerjakan kewajiban nya.
Salah satu anaknya berguling-guling di atas karpet yang ia bentang dekat sofa.
Alvaro duduk di sampingnya"kalian selalu aktif ya"ucapnya.
Alvaro mendudukkan mereka di sofa samping bankar Hana.
Alvaro mengecup punggung tangan Hana"kapan kau bangun sayang? Lihat,mereka begitu aktif sekarang"ucapnya lesu.
Alvaro menghela nafas kasar"apa kau ingin menghukum ku sayang? Buka matamu,aku sangat merindukanmu"lirih Alvaro.
Salah satu anaknya menarik baju Alvaro hingga membuatnya menoleh.
"Ada apa Aksa? Kau ingin menyapa ibumu,hm?"tanya Alvaro sembari menggendong tubuh Aksa,putra nya.
Alvaro mendekatkan putranya ke badan Hana dengan perlahan.
Aksa yang tadinya diam sekarang malah menepuk-nepuk pipi Hana,memegang hidungnya bahkan tengkurap di atas dada Hana.
"Kau mau membangunkan ibumu ya sayang"Alvaro tersenyum,ia menatap jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam.
Alvaro kembali menggendong tubuh Aksa"waktunya untuk tidur boy"ucapnya.
Alvaro memberikan ketiga putranya masing-masing botol susu,mereka langsung menerimanya dengan senang hati dan meminumnya hingga tandas.
Alvaro mengusap kepala ketiga putranya hingga mereka tertidur pulas.
Mereka memang sangat penurut dan tidak bisa diam bahkan mereka terlalu aktif untuk ukuran seperti mereka.
Alvaro duduk di samping bankar Hana,ia mengenggam tangannya dengan erat.
"Kau harus bangun,kau sudah janji padaku. Kau ingin merawat ketiga putramu sendiri bukan? Buka matamu"lirih Alvaro.
Sesaat kemudian ia merasakan tangan Hana bergerak di genggamannya,ia menoleh dengan terkejut.
"Ka-kau mendengar ku sayang?"tanya Alvaro terharu.
"Buka matamu,buka matamu!!"ucap Alvaro.
"Aku sangat merindukanmu Hana"bisik Alvaro.
"Rasanya sangat sesak melihat mu tidak berdaya seperti ini,maafkan aku"ucap Alvaro,ia menaruh kepalanya di kening Hana.
"Wake up baby."
Alvaro menangis tak terasa air matanya menetes di pipi Hana lalu ia terkejut bukan main saat merasakan tangan dingin Hana menyentuh pipinya.
"Al-Alvaro."
∆∆∆
TBC