My Posessive Husband

My Posessive Husband
26.



"Tidak. Terima kasih"ucap Bintang sambil berdiri dan berjalan menjauh.


"Tapi dia cantik nak dan pintar seperti mu"ucap Arika sambil tersenyum.


Bintang menoleh"aku tidak peduli, aku tidak mau."ucapnya.


"Tapi---"


"Jangan memaksaku nenek"ucap Bintang dingin lalu ia keluar dari rumah.


Arika menghela nafas pelan"maaf sepertinya aku terlalu memaksanya"ucapnya.


Hana menggeleng"tidak apa-apa, Bintang memang sedikit dingin jika membahas tentang perempuan."ucapnya.


"Dingin nya seperti mu"ucap Ervin pada Alvaro.


"Seperti daddy juga, karena dingin nya melebihi diriku"balas Alvaro.


"Apa kalian ingin memiliki anak lagi?"tanya Arika membuat Hana tersedak saat meminum.


"Ha---Apa?"tanya Hana.


Arika tersenyum"apa kau tidak menginginkan seorang putri sayang?"tanya nya.


"Tapi mereka sudah besar dan----"


"Tidak apa-apa, mereka akan mengerti. Aku pikir Bintang akan luluh dengan adanya adik perempuan"ucap Arika.


Ervin mengangguk setuju"benar"ucapnya.


"Bagaimana jika yang lahir anak laki-laki lagi?"tanya Alvaro.


"Tidak apa-apa, aku memang menginginkan cucu lagi"ucap Arika.


"Sudahlah, kau membuat Hana bingung sayang"ucap Ervin.


"Aku hanya menyarankan saja"ucap Arika.


"Kalau begitu aku akan kembali ke kamar, tubuh ku tidak bisa duduk terlalu lama"ucap Arika.


"Aku akan membantu"ucap Hana sambil memapah tubuh Arika kedalam kamar.


"Aku yakin kau masih menginginkan seorang bayi lagi bukan?"tanya Ervin sambil menatap istrinya yang sudah menjauh.


"Aku tidak memaksa Hana jika ia tidak mau"ucap Alvaro.


"Aku lihat sepertinya istrimu juga menginginkan hal yang sama"balas Ervin sambil meminum teh.


"Kau juga sudah melakukan yang terbaik"sambung Ervin.


Alvaro mengangguk pelan, ia juga sebenarnya menginginkan anak perempuan. Mungkin akan lucu dan menggemaskan.


"Aku akan bicara pada Hana nanti"ucap Alvaro.


Ervin mengangguk pelan"menambah satu atau dua anak lagi tidak apa-apa"ucap nya.


"Lalu kenapa mommy hanya melahirkan aku dan Alisha? Kenapa tidak dengan yang lain?"tanya Alvaro.


"Karena bagiku sudah cukup mendapat bayi kembar beda gender, itu sudah membuatku puas"ucap Ervin.


"Temuilah Bintang, sepertinya putra mu sedang merajuk"ucap Ervin.


"Aku akan kembali ke kamar dulu"sambung Ervin sambil berdiri.


Alvaro berjalan keluar untuk menemui Bintang dan teryata ia berada di pondok samping kolam renang.


"Apa kau marah?"tanya Alvaro.


"Tidak."balas singkat Bintang.


Alvaro duduk di samping Bintang"kau seperti memiliki kelainan pada perempuan"ucap nya.


"Aku tidak menyukai laki-laki, aku masih menyukai perempuan"jawab Bintang datar.


"Lalu?"tanya Alvaro.


"Aku hanya tidak suka jika di paksa, aku berhak memilih jalan ku sendiri."


∆∆∆


"Nenek, kami pamit pulang ya"ucap Angkasa.


"Hati-hati sayang"ucap Arika sambil memeluk tubuh Angkasa.


"Kami akan datang lagi nanti"ucap Alvaro sambil mencium puncak kepala Arika.


"Baiklah, sering-sering lah berkunjung kesini"ucap Arika.


"Sampai jumpa lagi nenek"Angkasa tersenyum sebelum memasuki mobil.


Alvaro mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan perkarangan rumah orang tuanya.


"Kau masih marah Bintang"tanya Hana.


"Tidak."balas singkat Bintang.


"Mom, berhenti di kedai itu. Aku ingin sendiri dulu"ucap Bintang sambil menunjuk kearah sebauh kedai kecil di pinggir jalan.


"Tapi---"


"Aku akan pulang cepat"potong Bintang.


"Baiklah."ucap Alvaro sambil menghentikan mobilnya lalu Bintang keluar dari mobil dan masuk ke kedai tersebut.


"Apa tidak apa-apa?"tanya Hana khawatir.


"Dia akan baik-baik saja sayang"ucap Alvaro.


Bintang duduk di kursi yang dekat di jendela, ia hanya memesan teh hijau dan satu kue.


Bintang meminumnya dengan diam sambil menatap kearah luar jendela, banyak gadis yang menatapnya berbinar membuat Bintang menjadi sedikit risih.


Ayolah, siapa yang akan tahan di tatap lapar seperti itu? Bintang langsung berdiri setelah meletakkan beberapa lembar dollar di meja lalu ia keluar dari kedai tersebut.


Bintang memilih berjalan kaki menuju sebuah taman yang dekat, ia duduk di kursi taman yang kosong.


"Perjodohan? Cih!"Bintang berdecih kesal.


"Aku masih seperti ini tapi mereka malah memikirkan perjodohan, lucu sekali"Bintang tersenyum sinis, ia melempar batu ke dalam sungai.


"Oi, kau meninggalkan kami"teriak Angkasa membuat Bintang menoleh.


"Kenapa kalian disini?"tanya Bintang datar.


"Ayah menyuruh kami untuk menemani mu, takut jika kau berbuat nekat"ucap Angkasa.


"Cih"balas Bintang kesal.


"Sedang apa kau disini?"tanya Aksa.


"Duduk"balas Bintang singkat membuat Aksa mendengus.


"Ayo pulang, mom khawatir padaku"ucap Aksa.


Bintang mengangguk singkat lalu berjalan mendahului mereka berdua.


"Kita akan naik apa untuk pulang?"tanya Angkasa bingung membuat Aksa memukul kepalanya.


"Naik taksi bodoh"ucap Aksa


"Sialan!! Kau memukul kepala ku lagi"ucap Angkasa kesal.


Di sisi lain...


"Mereka akan pulang kan?"tanya Hana.


"Tentu sayang"balas Alvaro sambil mencium kening Hana.


"Mereka sudah besar, mereka tau jalan pulang"sambung Alvaro.


"Menurutmu bagaimana dengan perkataan ibu ku?"tanya Alvaro.


"Itu---"


"Aku ingin seorang anak perempuan Hana"ucap Alvaro, ia menatap wajah Hana.


"Tapi mereka----"


"Mereka akan mengerti sayang"ucap Alvaro sambil mengecup bibir Hana.


"Boleh kan?"tanya Alvaro.


"Aku---"


Alvaro langsung menggendong tubuh Hana menuju kamarnya.


"Aku tidak bisa menundanya lagi"ucap Alvaro sambil mengedipkan matanya kearah Hana.


"ALVARO!!"


∆∆∆


TBC