
Setelah berlibur waktu itu Hana dan Alvaro kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Begitu pula anak-anak mereka yang sudah sibuk pergi sekolah.
Hana memutuskan untuk pergi menuju supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan. Saat sampai Hana langsung mengambil troli belanja dan memasukkan bahan yang akan ia beli.
Setelah selesai berbelanja Hana berjalan menuju rumahnya namun langkahnya terhenti saat beberapa pria berjalan mendekati Hana.
"Hey," ucap salah satu pria sambil berusaha memegang lengan Hana.
"Pergi!" desis Hana marah. "Jangan menyentuhku,"
"Biar kami yang temani," ucap pria di sebelahnya.
"Menjauh lah!" teriak Hana.
"Lebih baik kau ikut dengan kami jika tidak kami akan melakukan sesuatu padamu," ucap pria itu.
"Siapa yang peduli itu?!" dengus Hana kesal bermaksud untuk berlari namun tangannya di cekal oleh kedua pria tersebut.
"Ikut kami!" bentaknya.
"Tidak mau! Lepaskan brengsek!" teriak Hana marah.
"Lepaskan ibuku sialan!!" teriak Bintang sambil memukul wajah kedua pria yang memegang tangan ibunya.
"Mati kau!" Bintang memukul wajah mereka membabi buta dan tidak memberikan kesempatan untuk mereka menyerang.
"Enyah kau sialan!!" Bintang menendang kuat wajah salah satu pria hingga terkapar di tanah dengan wajah yang banyak mengeluarkan darah.
"Berani kau menyentuh ibuku sialan!!" umpat Bintang sambil mengarahkan balok kayu yang ia dapatkan kearah wajah mereka.
Kedua pria tersebut langsung tumbang dengan luka parah di sekujur tubuhnya. Bintang meludah lalu membuang balok kayu tersebut.
"Mom, are you okay?" tanya Bintang sambil memeluk tubuh Hana.
Hana menganggukan kepalanya. "Kita pulang mom," ucapnya.
Bintang menggandeng tangan Hana, mereka pun pulang kerumah saat hari sudah semakin sore.
"Terima kasih sayang," ucap Hana.
Bintang mengangguk singkat. Saat sampai Bintang langsung menuju kamarnya untuk berganti baju.
"Aku pulang," ucap Alvaro.
Hana menoleh dan tersenyum. Ia pun mengambil tas kantor jas hitam milik Alvaro.
"Mandilah dulu," ucap Hana.
Alvaro mengangguk lalu mencium bibir Hana dan berlalu menuju kamarnya. Berpapasan dengan Bintang yang baru saja keluar dari kamar nya.
"Dad," panggil Bintang membuat Alvaro menoleh.
"Ada apa?" tanya Alvaro penasaran.
"Ini," ucap Bintang sambil melemparkan lencana kearah Alvaro.
"Lencana perusahaan," gumam Alvaro. "Dari mana kau dapat ini?"
"Ada yang menyerang mommy. Aku sudah menghabisinya," balas Bintang.
Alvaro menggenggam erat lencana di tangannya lalu ia menepuk pundak Bintang.
"Akan segera daddy urus nanti," ucap Alvaro dibalas anggukan kepala Bintang.
"Dad, jika sudah menemukan pelakunya beritahu aku," ucap Bintang sambil memasukkan tangannya kedalam saku celananya.
"Apa?" tanya Alvaro bingung.
Bintang berjalan melewati Alvaro dengan tatapan datarnya. "Aku ingin menghabisi mereka yang berani menyentuh ibuku,"
∆∆∆
"Mommy! Lihat aku mendapat juara 2," ucap Angkasa dengan heboh.
"Hanya juara dua saja," balas Aksa dengan ledekan membuat Angkasa melotot kearahnya.
"Yang penting aku memenangkan lomba dari pada kau yang tidak sama sekali," ucap Angkasa kesal sambil memeletkan lidahnya.
"Cih! Bintang yang menang juara umum saja tidak seheboh dirimu," cibir Aksa kesal.
"Sayang sudahlah jangan bertengkar," ucap Hana sambil mengusap rambut Aksa dan Angkasa. "Kalian semua pintar, anak mommy sangat pintar,"
Bintang tersenyum tipis lalu terdengar suara bel rumahnya membuat ia berdiri langsung dan berjalan menuju pintu.
Cklek~
"Bintang, ini untukmu dari kami," ucap perempuan berambut blonde dan disusul dengan beberapa teman di belakangnya.
"Selamat ya," ucap perempuan disebelahnya.
Bintang menatap datar namun ia menerima banyak hadiah itu dengan malas. Setidaknya ia menghargai mereka yang bersusah payah untuk memberikannya hadiah.
"Thanks," balas Bintang datar.
Mereka mengangguk semangat lalu tersenyum. "Kalau begitu kami pamit dulu. Sampai jumpa disekolah," ucapnya.
Bintang mengangguk pelan, segerombol perempuan itu pun pergi dari rumahnya dan ia langsung kembali menutup pintu lalu menguncinya.
"Woah! Banyak sekali hadiahmu," ucap Angkasa yang melihat banyak hadiah berada ditangan Bintang.
Bintang melempar hadiah tersebut di sofa lalu kembali membaca bukunya membuat Hana terkekeh kecil.
"Apa aku boleh membukanya?" tanya Angkasa.
Bintang mengangguk singkat membuat Angkasa dan Aksa mengambil masing-masing hadiah dan membukanya.
"Woah! Jam tangan," ucap Angkasa.
"Ini jaket," balas Aksa.
"Apa ini boleh untuk kami?" tanya Aksa.
Bintang mengangguk malas lalu kembali membaca buku. Lalu Aksa dan Angkasa kembali membuka semua hadiah milik Bintang.
"Ini buku," ucap Aksa membuat Bintang menoleh. "Kau mau?"
Bintang menggeleng singkat namun ada sebuah kado dengan bungkus bewarna biru dengan pita ditengahnya, ia pun mengambilnya karena kado tersebut adalah kado yang paling kecil dari yang lain.
Sebuah buku catatan yang lengkap dengan foto dirinya lalu terselip sebuah surat membuat dirinya penasaran.
Ngomong-ngomong aku cuman bisa memberimu ini, maaf. Jika kau tidak suka kau bisa membuangnya:)
-S
Bintang mengerutkan keningnya melihat hanya nama awalnya saja. Ah sudahlah, itu tidak penting.
"Kau mengambil itu?" tanya Aksa.
Bintang mengangguk singkat lalu memasukan buku catatan tersebut kedalam tas nya.
Aksa menyenggol lengan Bintang sambil terkekeh pelan. "Apa kau menyukai perempuan yang memberikannya?" tanyanya.
Bintang menggeleng. "Tidak ada nama," balasnya singkat.
Aksa melongo kearahnya. "Jadi kau menerima hadiah itu karena tidak ada namanya?" tanyanya tidak percaya.
Bintang mengangguk singkat membuat Aksa menepuk keningnya. Ketidakpedulian Bintang sudah melebihi batas normal.
"Aku tidak tau bagaimana cara pemikiranmu itu,"
∆∆∆
TBC